Memperjuangkan yang harus diperjuangkan.
Happy reading...
Malam itu, sebuah kafe kecil di sudut kota tampak tenang. Lampu gantung redup memantulkan cahaya hangat ke meja-meja kayu. Jessica duduk sendirian di pojok ruangan, menatap layar laptopnya yang menyala. Earphone tergantung di leher, jari-jarinya sesekali mengetik dengan malas. Secangkir kopi dingin di sebelahnya sudah tak tersentuh.
Pikirannya kacau. Ia mencoba mengalihkan perhatian lewat tugas, tapi gagal.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak terdengar mendekat. Jessica mengangkat wajah-dan terkejut melihat Nayla berdiri di depannya.
"Malam, Jessica," sapa Nayla, suaranya tenang tapi mengandung nada ancaman.
Tanpa menunggu jawaban, Nayla langsung menarik kursi dan duduk di hadapannya.
Jessica refleks memutar matanya. "Ngapain lo ke sini?" desisnya tajam.
Nayla menyilangkan kaki, bersandar santai sambil menyeringai. "Gue cuma mau tagih pesanan. Lo masih inget kan tugas kecil lo itu? Gue harap lo nurut, atau..." Ia membuka galeri ponselnya dan menunjukkan sekilas thumbnail video yang membuat jantung Jessica mencelos. "Video ini bakal gue viralin. Kampus? Pasti seneng banget buat D.O mahasiswi teladan kayak lo."
"Bisa gak... sekali aja... lo gak ganggu hidup gue?" bentak Jessica, suaranya gemetar campur amarah.
Nayla tertawa pendek, lalu menggeleng pelan. "Sayangnya enggak bisa. Lo yang datang ke gue duluan, ingat? Lo minta bantuan, dan sekarang gue yang minta gantinya. Fair kan?"
Jessica mengepalkan tangan di bawah meja, rahangnya mengeras.
Nayla mencondongkan tubuh ke depan, menatap Jessica lekat-lekat. "Gue mau lo beresin tugas lo. Singkirin Keira dari kampus. Permanently. Lo bebas pilih caranya-asal gak ketahuan. Dan kalau lo buka mulut soal gue..."
Ia menunjuk ke dada Jessica dengan ujung jarinya.
"Gue pastiin lo yang gue singkirkan duluan."
Tanpa menunggu reaksi, Nayla berdiri anggun. Ia merapikan tas selempangnya, lalu melangkah pergi begitu saja.
"Brengsek!" Jessica mengumpat pelan, menatap punggung Nayla yang menjauh tanpa menoleh sedikit pun.
Jessica menunduk, menutup laptopnya keras-keras dan mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Gue harus gimana, anjing... Ahhh!"
Kopi di gelasnya tetap dingin. Sama seperti hatinya yang makin membeku.
------
Rumah Keira
Tiga sosok perempuan turun dari mobil-Sarah, Raisa, dan Amel-menatap rumah di hadapan mereka dengan perasaan berbeda-beda. Sarah tampak yakin, sementara Raisa dan Amel agak canggung dan gelisah.
Sarah melangkah maju, mengetuk pintu perlahan sambil mengucap,
"Assalamualaikum."
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Ibu Keira muncul dengan senyum ramah.
"Waalaikumsalam... Eh, kalian cari Keira, ya? Tunggu sebentar, ya. Ibu panggilin dulu."
Tak lama, Keira muncul dari balik pintu, mengenakan kaus rumah dan celana panjang. Matanya membulat pelan melihat siapa yang datang.
"Sarah... Raisa... Amel?" sapanya pelan.
Sarah tersenyum kecil. "Boleh ngobrol sebentar, Kei?"
Keira mengangguk, mempersilakan mereka masuk. Mereka duduk di ruang tamu sederhana yang hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)
Teen FictionSEMESTA bertemu dengannya adalah ketidaksengajaan yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh. apakah luka ini sudah benar benar sembuh? ntahlah rasanya ia ada ruang tersendiri di dalamnya. Semesta kumohon, pertemuan pertama yang membuatku jatuhc...
