FARREL'DAYS

94 25 0
                                        

Hilang dari seluruh memori indah

Happy reading!

Lampu putih di langit-langit kamar menyilaukan. Kenzo mengerjapkan mata perlahan, kelopak matanya terasa berat. Napasnya lambat tapi stabil. Kepalanya berdenyut nyeri, tubuhnya remuk seolah habis ditabrak truk, tapi kesadarannya mulai pulih.

Ia mencoba menggerakkan jemarinya-pelan, kaku, tapi bisa.

Pandangan matanya berputar menyapu ruangan. Sepi. Steril. Dan hangat... di lengan kanannya.

Keira.

Gadis itu tertidur, bersandar di lengannya. Rambutnya masih lembap, beberapa helai menempel di pipi. Matanya yang terpejam menyimpan bekas air mata yang belum kering sempurna. Napasnya tenang, wajahnya letih tapi tetap lembut.

Kenzo menatapnya lama. Tak bicara. Hanya memandangi satu-satunya orang yang bertahan di sisinya saat dunia serasa runtuh.

"Keira..." suara itu nyaris hanya gumaman. Serak, patah.

Tak ada jawaban. Keira masih dalam dunia mimpinya, mungkin mimpi yang juga penuh luka.

Kenzo memalingkan wajah ke langit-langit. Menahan napas sejenak. Dadanya sesak bukan karena sakit fisik-tapi karena rasa bersalah, dan janji yang perlahan terbentuk di hatinya.

"Gue janji, Kei..." bisiknya lirih. "Gue bakal jagain lo... ga akan ada orang yang bakal nyakitin Lo, termasuk Farrel."

Tangannya bergerak, pelan, menarik selimut menutupi bahu Keira. Lalu jari-jarinya menyibak sedikit rambut dari wajah gadis itu. Lembut, takut-takut, seperti menyentuh luka.

Keira bergeming. Hanya sedikit menggerakkan badan, berganti posisi tanpa benar-benar bangun. Ia masih bersandar padanya.

Kenzo kembali diam. Tapi kali ini, dengan sedikit senyum yang samar-penuh rasa sakit, tapi juga tekad.

-------

Pagi itu masih sepi. Matahari baru menyelinap dari celah gorden kamar Farrel. Suara ketukan keras di pintu membuyarkan tidurnya.

Tok tok tok.

"Farrel!" Suara berat Ricko terdengar dari balik pintu.

Dengan kesal, Farrel membuka pintu. Rambutnya masih acak-acakan, matanya sayu.

"Lo mau ngapain sih? Pagi-pagi ganggu tidur gue aja." gumam Farrel kesal.

Ricko berdiri tegak di ambang pintu, rapi seperti biasa. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.

"Papa cuma mau ingatkan. Malam ini party kamu. Semua angkatan kamu bakal datang, kolega partai, orang-orang kantor-semuanya. Papa nggak mau ada kekacauan. Semua harus berjalan sempurna."

Lalu, suaranya merendah, tapi nadanya dingin, mengancam.

"Kalau sampai kamu bikin kegaduhan lagi, anak kampung itu... Papa bakal pastikan dia lebih menderita dari sebelumnya."

Farrel mendongak tajam, rahangnya mengeras. "Stop bawa-bawa Keira! Kita udah putus!"

Nafasnya memburu. Emosi yang ia tahan sejak semalam meledak.

"Puas, kan? Gue juga tau, semua ini permainan lo sama Nayla. Gue muak, Pa! Gue eneg!"

Farrel hendak menutup pintu, tapi Ricko sempat menggumam pelan sebelum pergi.

SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang