Aku bersedia, apapun yang terjadi kita lalui bersama.
Happy reading
Kelas Ilmu Komunikasi 2, awal perkuliahan
Mata kuliah baru saja dimulai. Namun Salma tak bisa memusatkan perhatiannya ke materi. Sejak tadi, pandangannya tertuju pada Keira yang duduk diam, wajahnya sayu dan tanpa ekspresi.
"Kei," bisik Salma pelan, melirik ke arah dosen yang sibuk menyiapkan proyektor. Keira menoleh, matanya tampak lelah.
"Lo baik-baik aja? Gue ngerasa ada yang beda dari lo hari ini."
Keira mengangguk pelan, mencoba tersenyum. "I'm okay." Ia kembali menunduk dan menulis di buku catatannya.
Salma mendekatkan mulut ke telinga Keira. "Tadi pagi anak-anak kampus lihat postingan di akun lambe, foto liburan kalian kemarin berdua—lo sama Kenzo."
Keira menghela napas pelan. "Sal... nanti aja kita bahas. Gue mau fokus dulu."
Bel istirahat berbunyi.
Keira, Gabby, Elina, dan Salma masih duduk di dalam kelas. Beberapa mahasiswa lain duduk di barisan belakang, sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Kei, pagi tadi ada kejadian aneh, ya?" tanya Gabby sambil memutar kursinya, menghadap langsung pada Keira.
Keira menatap mereka satu per satu, lalu bicara pelan. "Iya. Soal foto gue sama Kenzo. Gue nggak nyangka, cuma karena itu, reaksi anak-anak kampus bisa sejahat itu. Komentarnya... nyakitin banget."
Suara Keira mulai bergetar. "Dan yang paling gue takutin... dari banyaknya foto itu, seolah-olah gue yang salah. Padahal semua itu bukan salah gue."
Salma menggigit bibirnya, merasa bersalah. Ia tahu siapa yang awalnya menyebarkan konten dari akun anonim.
"Lo sampai dirundung lagi?" tanya Elina, prihatin.
"Iya... ada yang ngata-ngatain gue. Tapi yang parah itu Kenzo. Dia denger langsung dan—dia mukul Alvin."
"Apa??" Gabby terkejut. "Kenzo bisa kena sanksi, Kei. Dia kan duta kampus."
"Makanya gue khawatir. Gue nggak mau masalah ini bikin dia kehilangan posisinya. Dia cuma pengen belain gue."
Salma menggenggam tangan Keira. "Lo ga sendiri. Kita semua di sini buat lo. Gue yakin Kenzo juga kuat."
Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Dua mahasiswi berdiri di ambang pintu.
"Permisi, ada yang bernama Keira Wijaya?"
Keira mengangkat tangan. Mereka mendekat dan berkata, "Kami diminta mengantar kamu ke ruang rektorat."
Gabby berdiri. "Apaan lagi sih ini? Masalah sepele bisa sampai dibawa ke rektorat."
"Kita ikut dari belakang," sahut Salma cepat. Mereka bertiga langsung mengikuti Keira dari kejauhan.
---
Ruang Rektorat
Keira duduk di ruangan yang sepi namun penuh tekanan. Di dalam sudah ada Alvin, Kenzo, dan... Nayla.
Tak lama kemudian, Pak Budi, Kepala Rektorat, masuk ke ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)
Teen FictionSEMESTA bertemu dengannya adalah ketidaksengajaan yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh. apakah luka ini sudah benar benar sembuh? ntahlah rasanya ia ada ruang tersendiri di dalamnya. Semesta kumohon, pertemuan pertama yang membuatku jatuhc...
