JALAN TERBAIK

96 26 1
                                        

Menyakiti diri sendiri demi ketentraman hidup di sekelilingnya.

Happy reading!

Setelah makan malam berakhir, suasana di antara Farrel dan Keira justru semakin sunyi. Lagi dan lagi, Farrel menatap Keira dalam diam-penuh harap. Keira pun membalas tatapan itu dengan sorot mata yang sendu, seolah sudah tahu apa yang akan datang.

"Seng..." panggil Farrel pelan, gugup.

"A-aku mau ajak kamu tunangan. Would you accept this engagement?" ucapnya, membuka sebuah kotak cincin kecil yang sudah ia siapkan sejak lama. Tangannya sedikit gemetar, tatapannya penuh harap.

Keira terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Momen itu indah, terlalu indah, tapi juga menyakitkan. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Hatinya berantakan. Logika dan perasaan saling bertabrakan dalam kepalanya.

Saat Farrel perlahan meraih tangan Keira untuk menyematkan cincin, Keira dengan cepat menarik tangannya dan malah menggenggam tangan Farrel erat-erat.

"Aku... nggak bisa," bisiknya lirih.

Farrel menatapnya, bingung. "Enggak Kei, kamu nggak boleh ambil keputusan ini sendiri."

Keira hanya menggeleng lemah, tenggelam dalam tangisnya.

"Aku nggak bisa nerima cincin ini, Rel. Kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku," ucap Keira terbata, air mata terus mengalir.

"Enggaaa!" seru Farrel panik.
"Gue cinta sama lo, Kei. Gue sayang banget sama lo. Gue nggak mau kehilangan lo. Gue janji, gue bisa bikin lo bahagia!" Ia mencium jemari Keira berulang kali, seolah tak ingin melepaskan.

Keira memejamkan mata. "Terlalu sakit, Rel..."

Farrel terdiam. Kata-kata itu seperti pisau.

"Aku udah mikirin semuanya. Dan ini... ini keputusan yang paling baik buat kita."

"Enggak Kei! Aku tahu kamu cinta sama aku! Kamu sayang sama aku! Jadi kenapa ini yang kamu pilih?!"

Karena panik, Keira akhirnya meledak, berusaha membuat Farrel mundur.

"Aku nggak cinta sama kamu! Aku cuma pengen harta kamu! Aku manfaatin kamu biar nggak dibully sama Sarah dan geng-nya! PUAS?!" bentaknya, emosinya meledak tak terkendali.

"BULLSHIT!" bentak Farrel, amarahnya tak kalah meletup.
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu? Lo pikir gue bakal percaya? Itu cuma alasan lo biar gue nggak benci bokap gue, kan?!"

"Enggak!" tegas Keira dengan mata merah. "Itu fakta! Maaf karena udah bawa kamu sejauh ini..."

Keira berbalik, hendak pergi. Tapi Farrel menahan tangannya dan menariknya mendekat.

Kini tubuh mereka hanya berjarak beberapa inci. Farrel menatap Keira dalam-dalam, tatapannya tajam, namun lembut. Keira tak kuasa menatap balik.

"Aku tahu ini bukan yang kamu mau. Aku tahu ini berat. Tapi aku mohon, jangan sakitin diri kamu sendiri," bisik Farrel, bersandar di kening Keira.

"Udah cukup, Rel..." ucap Keira lemah.

Farrel tiba-tiba mencium bibirnya, dalam dan penuh luka. Dan tanpa sadar, Keira membalas. Ciuman itu bukan kebahagiaan-melainkan perpisahan yang menyakitkan.

Di luar, Bima menoleh ke arah Reynald.
"Sebenernya, apa sih yang terjadi sama mereka berdua?"

Reynald menghela napas. "Kayaknya ketakutan Farrel jadi kenyataan. Keira milih pergi. Dia nggak kuat terus-terusan hidup dalam bayang-bayang bokapnya Farrel."

SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang