MOMENT

83 27 0
                                        

Cerita kita sulit di terka

Happy reading!

Saat Sarah berjalan menuju lobby bawah bersama ketiga temannya, langkah mereka dihentikan oleh suara yang cukup keras.

"Sarah!" seru Mike, setengah berlari menghampiri, membuat Sarah dan ketiga temannya spontan berhenti.

"Fans Lo datang," cibir Raisa pelan di telinga Sarah, membuat Sarah hanya mendesah malas.

Mike menghampiri dengan tatapan serius. "Gue bisa ngomong sama Lo, berdua aja?" pintanya.

Sarah menghela napas berat, jelas terlihat dari sorot matanya bahwa ia sedang tidak ingin berurusan dengan siapa pun. "Jujur, gue lagi males buat interaksi sama siapapun," balas Sarah, datar.

"Sebentar aja," bujuk Mike.

Sarah menoleh sebentar ke arah ketiga temannya. Dengan anggukan kecil, mereka bertiga melanjutkan jalan ke lobby, memberi ruang untuk Sarah berbicara.

Mike mendekat sedikit, menjaga suaranya agar tetap tenang. "Gue tau apa yang terjadi sama Lo kemarin. Bukan Keira atau Salma yang cerita, tapi gue paksa Salma buat jawab."

Sarah hanya diam, menunduk sedikit.

Mike melanjutkan, "Kalo Lo ga keberatan, Lo bisa tinggal di apartemen gue. Berapa lama pun, terserah Lo. Selama itu bisa bikin Lo aman dan nyaman."

Sekilas, senyum tipis terukir di wajah Sarah, walau matanya tetap redup. "Thanks, Mike... beneran, gue apresiasi itu," ucapnya tulus.

Tapi kemudian, suaranya menjadi lebih mantap. "Tapi gue udah dapat tempat tinggal dari salah satu sahabat gue," lanjutnya.

Tanpa menunggu respon Mike, Sarah melangkah pergi, meninggalkan Mike yang hanya bisa menatap punggungnya menjauh, dengan rasa yang sulit ia jelaskan.

------

Di meja makan sederhana tempat Farrel tinggal sementara, suasana awalnya hening. Hanya suara alat makan yang beradu pelan. Namun ketenangan itu terusik saat suara langkah berat terdengar dari arah pintu.

Farrel menoleh. Matanya langsung mengeras saat melihat sosok yang muncul-ayahnya, diiringi dua orang bodyguard.

"Ngapain Lo kesini? Tau darimana gue ada di sini?!" ketus Farrel, nadanya penuh kemarahan.

Ayahnya hanya tersenyum tipis, mendekat tanpa gentar, lalu duduk di kursi tepat di hadapan Farrel. "Buat Papa, terlalu gampang menemukan kamu, Farrel," balasnya enteng.

Pak Ricko melirik sekeliling ruangan, lalu berbicara dalam hati, "Apa perlu gue ancam lagi tuh anak kampungan itu."

Ia kembali menatap putranya. "Udah cukup main-main, Farrel. Kamu harus mulai menguasai kantor Papa. Setelah Papa pensiun, kamu yang harus jadi pemimpin di perusahaan kita," tegasnya.

Farrel meletakkan garpunya, menahan emosi.

"Bisnis lagi? Pa, gue udah pernah bilang. Gue bersedia terusin perusahaan ini, asalkan satu: jangan ganggu hidup pribadi gue!"

Farrel mengepalkan tangannya, lalu menggebrak meja. "Tapi apa? Nyatanya Papa tetap hancurin hubungan gue! Papa tetap campur tangan dalam hidup gue!"

Pak Ricko menarik napas dalam-dalam, nadanya berubah dingin. "Papa cuma melindungi kamu. Hanya orang bodoh yang membiarkan anaknya jatuh cinta sama orang yang beda kelas sosial!"

SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang