Hilang dari seluruh memori indah
Happy reading!
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Matahari menyusup lewat sela tirai jendela, menerangi kamar-kamar yang mulai terasa hangat.
Di ruang tamu, Bima, Mike, dan Reynald duduk di sofa. Suasana masih lesu, sisa kejadian malam sebelumnya membekas jelas di benak mereka.
“Kalau inget kejadian tadi malam… kasihan juga ya, Keira sama Farrel,” ujar Bima sambil menyeruput kopi. Matanya masih sembab karena kurang tidur.
“Bokapnya Farrel tuh… gila sih. Ambisinya udah kelewat batas,” sahut Mike sambil bersandar.
“Gue malah gak nyangka Keira dateng bareng Kenzo,” ujar Reynald pelan, ekspresinya masih bingung.
Mike mengangguk, lalu bersuara, “Tapi kalian nyadar gak? Cara Kenzo ngeliat Om Ricko tuh… kayak mereka udah kenal lama. Ada sesuatu di situ.”
“Gue gak terlalu fokus ke situ sih. Gue lebih fokus ke Keira. Cantik banget gila! Pantes aja ketua kita sampai segitunya,” cibir Bima, mencoba mencairkan suasana.
Mike menoleh ke Reynald. “Kita harus gimana, Rey?”
Reynald menarik napas panjang. “Gak tau… kondisi sekarang udah rumit banget. Semua keputusan kayaknya salah.”
Beberapa menit kemudian, langkah pelan terdengar dari arah tangga.
Farrel muncul, masih dengan pakaian kasual dan rambut acak-acakan. Wajahnya pucat, matanya sembab karena kurang tidur.
“Lo tidur jam berapa, Rel?” tanya Mike pelan.
“Gak bisa tidur gue… pikiran gue penuh tentang Keira.”
Reynald menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. “Setelah semua yang terjadi tadi malam… Lo sama bokap lo gimana?”
Farrel menghela napas. “Gue jelas bertentangan sama dia. Dan gue gak akan nikahin Nayla. Gue gak cinta sama dia, Rey.”
“Terus tanggapan bokap lo?”
“Dia ngancam. Katanya, Keira bakal celaka kalau gue masih deket-deket sama dia.”
Semua terdiam. Mike akhirnya angkat suara.
“Rel… maaf banget gue harus ngomong gini. Tapi menurut gue, udah cukup. Lo harus ikhlasin Keira.”
Farrel menatap Mike, diam.
“Bukan karena kita gak mau lihat lo bahagia, tapi karena makin lo deketin Keira… dia yang bakal terus disakiti,” sambung Bima pelan.
“Dan Keira gak ninggalin lo karena udah gak cinta. Dia ninggalin karena dia gak mau makin terluka,” lanjutnya, menatap mata Farrel.
Reynald ikut bersuara. “Gue setuju. Om Ricko bakal lakuin apa aja buat singkirin siapa pun yang dia anggap penghalang. Keira terlalu rentan buat dipaksa bertahan di tengah ini semua.”
Farrel mengepalkan tangan. Suaranya lirih, tapi terdengar jelas.
“Jadi kalian gak mau dukung gue?”
Reynald menggeleng pelan. “Kita selalu dukung lo, Rel. Tapi dukungan juga berarti tahu kapan harus berhenti. Hargai keputusan Keira. Dia berkorban, bukan buat dia sendiri... tapi juga buat lo.”
Farrel tertunduk. Ia tidak menjawab. Hanya suara napasnya yang berat terdengar. Tanpa ia sadari, air mata menetes jatuh ke lantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tapi hatinya tetap berat.
------
Rumah Salma
"Excuse me..." ucap Gabby sambil membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia membawa nampan berisi tiga teh hangat. "Teh pagi spesial biar kita semua gak terlalu stres."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)
Genç KurguSEMESTA bertemu dengannya adalah ketidaksengajaan yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh. apakah luka ini sudah benar benar sembuh? ntahlah rasanya ia ada ruang tersendiri di dalamnya. Semesta kumohon, pertemuan pertama yang membuatku jatuhc...
