Meski hati ini masih ingin bersama
Namun pada akhirnya, cinta kini perlahan sirna.
Happy reading
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela, menerangi ruang tamu rumah Salma yang hangat. Di dalam kamar, Keira duduk di depan cermin, wajahnya sudah dirias dengan cantik oleh tangan-tangan sahabatnya.
"Kei, lo berhak bahagia sekarang," ucap Salma lembut sambil merapikan rambut Keira. "Lupain semua rasa sakit yang ada di hati lo."
Keira tersenyum kecil, menatap pantulan dirinya di cermin.
"Semangat, Kei! Gue percaya sama lo. Lo pasti bisa lewati semua ini," tambah Elina penuh keyakinan.
"Yuk, ke bawah. Udah ditunggu sama Kenzo juga," ajak Gabby, bangkit lebih dulu dari tempat duduknya.
Mereka berempat turun ke lantai bawah, dan saat Gabby membuka pintu utama, Kenzo sudah berdiri di sana. Saat pandangannya jatuh pada Keira, ia terdiam sejenak. Matanya menatap Keira penuh kekaguman. Ia tidak berkata apa-apa, tapi ekspresinya mengatakan segalanya.
"Iya... iya... sahabat gue emang cantik. Terpesona kan lo?" celetuk Gabby sambil menyikut Kenzo, membuatnya langsung salahtingkah. Salma dan Elina hanya terkekeh geli melihatnya.
"Udah gih jalan, keburu mataharinya naik," sahut Salma sambil melambai pelan.
"Gue pamit ya, Sal, El, Gab..." ucap Keira. Ia melangkah keluar bersama Kenzo, masuk ke dalam mobil, dan perlahan melaju meninggalkan rumah Salma menuju beberapa tempat di Jakarta.
Begitu mobil Kenzo menjauh, Salma langsung berbalik pada Elina dan Gabby. Wajahnya serius.
"Guys, ayo kita ikutin Keira. Kita harus buat akun anonim buat mereka, biar semua orang liat mereka bareng, supaya Nayla sama Farrel ga ganggu hidup Keira lagi."
Elina mengerutkan kening. "Tapi Sal, lo yakin sama rencana ini? Takutnya malah jadi boomerang buat Keira."
Salma mengangguk mantap. "Gue ngerti. Tapi kalo kita diem aja, Keira malah bisa dicap macem-macem di kampus. Pelakor lah, selingkuhan lah. Makanya ini kesempatan kita buat bantu bersihin nama baik dia."
Gabby langsung setuju. "Oke, kalo itu yang terbaik, yuk kita ambil tas di kamar!"
Tanpa buang waktu, mereka bertiga berlari naik ke atas, mengambil barang-barang mereka dan kunci mobil. Tak lama kemudian, mobil Salma melaju pelan, mengikuti dari kejauhan ke mana pun Kenzo dan Keira pergi—dalam diam, dalam rencana.
Kenzo dan Keira berjalan berdampingan memasuki kebun binatang. Sesekali, Keira tertawa melihat tingkah lucu hewan-hewan yang mereka kunjungi. Saat sampai di kandang gajah, Kenzo mengambil satu ikat tebu dari petugas dan menyerahkannya pada Keira.
"Yuk, kita kasih makan bareng," ajaknya.
Keira tersenyum dan mengangguk. Tangannya sedikit gemetar saat memberikan tebu ke belalai gajah yang besar. Kenzo refleks memegang tangan Keira untuk menenangkan, membuat Keira menoleh dan tersenyum malu.
Dari balik pagar tanaman, Salma mengintip dengan ponselnya yang sudah siap siaga. Keira dan Kenzo tampak sedang memberi makan rusa.
"Candid yang ini bagus banget. Liat deh ekspresi Keira pas ngasih tebu ke gajah bareng Kenzo," bisik Gabby sambil cekrek diam-diam.
"Jangan lupa yang tadi pas di depan kandang gajah, ya. Pas Kenzo bersihin dedaunan dari rambut Keira. Natural banget tuh," sahut Elina, tak kalah semangat.
Setelah berkeliling melihat hewan-hewan lainnya seperti zebra, jerapah, dan singa, mereka berdua makan siang di restoran terdekat. Meja mereka menghadap danau kecil buatan, dengan angin sepoi yang membuat suasana semakin tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)
Novela JuvenilSEMESTA bertemu dengannya adalah ketidaksengajaan yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh. apakah luka ini sudah benar benar sembuh? ntahlah rasanya ia ada ruang tersendiri di dalamnya. Semesta kumohon, pertemuan pertama yang membuatku jatuhc...
