KEPUTUSAN

176 26 2
                                        

Langkah yang harus diambil

Happy reading!!

Dua puluh menit rapat berlalu, pintu ruang VVIP terbuka kasar. Ricko Atmajaya, sang direktur utama, melangkah masuk dengan wajah merah padam. Tatapannya tajam menghunus ke arah Farrel, putranya, yang duduk di sofa mewah. Amarahnya memuncak, tak habis pikir bagaimana anaknya bisa mengabaikan kebijakan perusahaan yang telah ditetapkan.

"Kamu ini keterlaluan!" seru Ricko, suaranya menggelegar di ruangan itu.

Farrel bangkit, menantang tatapan ayahnya. "Siapa yang keterlaluan di sini? Saya atau Anda?"

"Ini hasil pergaulan kamu dengan cewek miskin itu!" balas Ricko, merendahkan.

"Jaga ucapan Anda!" Farrel menunjuk wajah ayahnya dengan telunjuk gemetar.

"Saya sudah menuruti semua keinginan Papa, dari pencitraan kampanye sampai menjaga nama baik keluarga. Tapi apa yang saya dapat? Anda mengusik kehidupan pribadi saya!" Farrel melangkah maju, berdiri tepat di hadapan ayahnya.

"Papa sudah sering bilang, jangan bergaul dengan orang yang tidak selevel dengan kita. Mereka hanya mengincar harta kita, bukan cinta tulus yang kamu impikan," ucap Ricko, berusaha menenangkan diri, meski hatinya bergejolak melihat kemarahan putranya.

"Itu semua tergantung sama kamu." tawar sang Ayah.

"Kamu ikuti kata Papa, wanita miskin itu selamat. Tapi kalo kamu berani melawan Papa, Papa ga akan segan segan bikin hidup dia lebih menderita."

"Semua keputusan ada di kamu, kalo kamu mau buktikan, silahkan aja. Papa mau lihat, sejauh mana kamu bisa bertahan." balas Sang ayah, sembari memegang cangkir yang berisi teh hangat.

Farrel mengepalkan tangan, menahan gejolak amarah yang hampir meledak. la ingin melayangkan tinju ke wajah ayahnya sendiri, tapi bayangan itu terlalu mengerikan. Akhirnya, ia melampiaskan kemarahannya pada tembok, hingga jemari tangannya berdarah.

"CUKUP, PAH! CUKUP!" seru Farrel dengan suara bergetar, matanya menatap tajam ke arah sang ayah.

Ricko tertegun, sedikit gentar melihat kemarahan putranya. Namun, ia berusaha memasang wajah tenang, berharap Farrel tetap menuruti perintahnya.

"Satu-satunya jalan. Kamu harus putuskan hubungan kamu dengan dia, dan bertunangan dengan Nayla," ucap Ricko datar.

"LEBIH BAIK GUE MATI DARIPADA MENURUTI KEINGINAN GILA ITU!" bentak Farrel.

"Silakan keluar dari ruangan ini!" tegas Ricko. Farrel berbalik, meninggalkan ruangan VVIP itu dengan wajah berantakan.

Setelah Farrel pergi, Ricko segera menghubungi asisten pribadinya. "Bekukan semua rekening atas nama Farrel Pradipta," perintahnya.

Farrel berjalan cepat keluar dari gedung Atmajaya, hatinya mendidih. Reynald dan kedua temannya menatapnya dengan bingung.

"Pergi," ucap Farrel singkat, lalu masuk ke dalam mobil.

Di tengah perjalanan, Farrel berteriak sekuat tenaga, melampiaskan amarahnya dengan memukul dashboard mobil berulang kali.

Reynald hanya melirik ke arahnya, tak berani bertanya apa yang terjadi. la tahu, Farrel sedang berada di puncak amarahnya.

------
Universitas Wrexham

Keira berdiri diatas rooftop sendirian, menatap keindahan langit yang sangat cerah. Gadis itu sedang memikirkan keadaan Farrel, yang sampai detik ini belum ada kabar dari dia ataupun teman temannya.

SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang