Seoul, Korea Selatan...
07.22
Langit gelap, seperti akan datang badai. Matahari pagi seolah di telan oleh awan hitam yang semakin banyak.
Lisa duduk di ruang belajar, menandatangani beberapa dokumen perusahaan saat suara ponsel menghentikan kegiatannya.
"Hyun Joong dan Jongin sudah kami amankan, apa kau ingin menemuinya? Kami juga sudah berhasil menangkap semua bawahan yang dia bawa dengan bantuan pemilik hotel dan para polisi di sini, kami akan segera membawa Hyun Joong dan bawahannya ke Korea dengan pengawalan polisi Amerika.." Jiwon di sisi lain menjelaskan.
Hal ini tidak menarik Lisa, "Tidak. Biarkan saja mereka langsung membusuk di balik jeruji besi.. aku punya lebih banyak hal penting dari dua orang itu.."
Jiwon setuju, dia tidak menanyakan lebih lanjut saat menutup panggilan.
___
Penerbangan dari Amerika ke Korea Selatan cukup lama, apalagi mereka harus terbang dengan polisi yang membantu mereka mengamankan Hyun Joong dan para bawahannya menuju Korea Selatan.
"Kim Jiwon! Aku akan benar-benar membunuh mu!"
"Huh? Kau ingin membunuhku? Kim Hyun Joong, kau bahkan tidak bisa bergerak sesuka mu saat ini. Jangan pikir kau hanya akan mendekam beberapa tahun di penjara, ingatlah tentang sabotase dan kecurangan dalam perusahaan. Kami miliki semua bukti kuat untuk membuat mu bertahan selamanya di penjara.." ujar Jiwon dengan tatapan meremehkan. Dia benar-benar puas memprovokasi bajingan ini.
"Apa maksud mu? Nona, aku tidak mengerti. Aku selalu memperlakukan mu dengan baik, apa seperti ini cara mu membalas?"
"Kurasa kau lebih tahu seperti apa aku harus membalas mu, Jongin."
Jiwon berdiri dan melangkahkan menghampiri Jongin, tatapan matanya sedingin es. "Sifat baikmu itu adalah trik untuk mencapai tujuan busuk kalian. Jangan pikir aku akan begitu bodoh untuk tidak menyadarinya setelah penghianatan kalian... Aku tidak akan tertipu untuk selamanya!"
Saat mengatakan hal tersebut, tatapan Jiwon begitu tajam menusuk, menunjukkan rasa benci dan marahnya karena tidak menyadari niat busuk kedua bajingan Appa dan anak itu.
"Jiwon unnie, tidak ada gunanya memprovokasi mereka. Mereka akan segera berakhir di tempat terburuk, tempat dimana mereka lebih memilih kematian dari pada harus bertahan hidup. Seluruh orang di Korea saat ini membenci mereka dan menganggap mereka sebagai sampah, kita tidak perlu menghabiskan waktu memprovokasi mereka.."
Jiwon melirik Jisoo, tiba-tiba dia kembali tenang. Apa yang di katakan Jisoo benar. Dia tidak perlu repot-repot menghabiskan waktu dan tenaga, karena seluruh orang saat ini membenci Kim Hyun Joong dan Kim Jongin, mereka berdua seharusnya jika masih mendapatkan sedikit kebebasan, itu malah hanya berakhir dengan lebih tersiksa.
___
Pagi cerah di Korea saat Lisa menuntun Jennie menuju mobil.
Kali ini, dia ingin membawa gadisnya itu bertemu dengan Jongin. Bukan untuk menunjukkan bahkan dia baik, tapi untuk mengeluarkan kekesalannya pada bajingan itu.
Setelah mendapatkan panggilan dari Seonho yang mengatakan jika Hyun Joong dan Jongin telah tiba dengan pengawalan ketat, Lisa buru-buru membawa Jennie.
Di kantor polisi, banyak media reporter yang berkumpul, mengelilingi hampir seluruh kantor polisi untuk mengambil berita. Dengan bantuan Seonho yang juga berada di sana, Lisa dengan aman membawa Jennie masuk dan terhindar dari media yang sangat berfokus pada Hyun Joong dan Jongin.
"Jennie? Itu kau? Jennie, tolong aku... Aku benar-benar membutuhkan bantuan mu... Aku mohon... Aku akan membawa mu pergi berlibur bersama di pantai setiap akhir pekan dan menaiki kuda bersama.." begitu melihat gadis yang lama tidak di lihatnya itu, Jongin segera menatapnya penuh harap.
Dia tahu, dengan bagaimana cinta Jennie padanya yang rela melakukan apapun untuknya, bahkan Seonho maupun Jiwon sekalipun, jika Jennie yang mengatakannya, dia pasti akan di bebaskan. Dengan memanfaatkan bagaimana Jennie yang begitu mencintainya, Jongin berpikir dia bisa bebas.
Plakk!!!
Belum sempat Jongin tersenyum, tamparan keras melayang mengenai wajahnya. Jongin tidak sempat beraksi, tapi gadis Kim itu menggunakan semua kekuatannya untuk melayangkan tamparan keras.
"Aku begitu bodoh pernah mencintai bajingan seperti dirimu. Memberikan semua cinta ku yang pada akhirnya kau memanfaatkan untuk keuntungan pribadi antara kau dan Appa mu! Tapi, ini yang kau lakukan? Menghabiskan waktu bersama dengan banyak wanita malam, melakukan penggelapan dana, dan mencoba menarik keuntungan pribadi... Tempat ini sangat cocok dengan mu, Kim Jongin!"
Tamparan dan kata-kata keras Jennie membuat Jongin tidak mampu membalas. Seluruh kata-kata yang ingin diucapkan seolah tersangkut di tenggorokannya.
"Kuharap kau berada di sini untuk selamanya!"
"Jennie... Jennie! Kumohon! Aku benar-benar tidak serius melakukan hal itu, aku sangat mencintaimu! Jennie!" Jongin menolak saat polisi membawanya, dia masih saja berubah untuk mencapai Jennie yang menatapnya dengan tatapan kecewa, benci dan marah. Menatap seolah Jongin adalah sesuatu yang paling dia benci.
___
Jongin pasti akan berakhir dengan begitu menyedihkan, bahkan Hyun Joong pun sama. Seonho menatapnya dengan acuh tak acuh Hyun Joong yang hanya diam saat polisi menggiringnya menuju sel tahanan.
"Kurasa persahabatan kita berakhir... Aku benar-benar tidak mengharapkan hal ini akan terjadi.." ujar Hyun Joong melirik Seonho, memiringkan kepalanya menatap ke samping, menunjukkan satu sisi bagian wajahnya.
"Tentu saja ini harus berakhir.." balas Seonho dingin.
Hyun Joong tersenyum simpul, dia benar-benar menghancurkan hubungan baiknya dengan Seonho yang selalu membantunya selama ini. Menghancurkannya dengan merancang banyak rencana busuk di belakang untuk menusuknya dari belakang dan pada akhirnya, dia benar-benar menjadi satu-satunya yang hancur.
"Bukankah itu adil? Tuhan menunjukkan mana yang baik dan buruk? Hubungan mu dan keluarga Manoban sebelumnya hancur karena ke salah pahaman dan menunjukkan sifat asli Kim Hyun Joong di belakang. Aku akan berterima kasih jika menjadi dirimu, Tuan Kim.."
Seonho melirik Chaeyoung yang bicara di sampingnya, tersenyum tipis mendengar kata-kata anak ini. "Kau pandai berkata-kata. Kuharap kau segera membawa anak dan kedua orang tua mu agar bisa tinggal disini kembali.."
____
12.15
Mereka keluar lewat pintu belakang dan menuju ke restoran. Lisa kali ini mentraktir makan untuk kali ini, dia mengatakan untuk hal baik yang akan datang dan hal buruk yang baru saja selesai.
"Kau serius? Kau tahu aku akan memesan banyak bukan? Ku harap kau tidak menyesal, Manoban.." Chaeyoung memandang Lisa dengan geli saat memesan banyak menu makanan.
"Lakukan sesukamu.."
"Apa kau bisa menghabiskan semua itu?" Tanya Jiwon dengan tatapan terkejut, dia melongo melihat Chaeyoung yang memesan hampir semua menu yang ada.
"Unnie tidak perlu khawatir. Perutnya seperti lubang hitam yang melahap semua makanan.." balas Jisoo yang membuat mereka tertawa.
Jennie sedari tadi diam, gadis itu hanya memeluk tubuh Lisa sejak bertemu dengan Jongin. Sepertinya dia sedikit kesal. "Jennie, kau tidak ingin memesan lebih? Mandu? Kenapa putri Appa cemberut terus, huh?"
Lisa menegakkan tubuhnya yang terasa kaku saat dia menatap Seonho dan yang lainnya, sementara tangannya memainkan pipi gadis itu yang gembul.
"Pernahkan aku mengatakan pada kalian jika Jennie tengah hamil?"
______________________________________
Baru update lagi🗿. Lagi mager-magernya nulis sama mikir ini gw🗿, mana di tambah main game ketemu penghuni asli terus😑. Btw, buat Heavenly Beauty 2 itu di unpublish dulu, mau ganti alur sama judul, yang pertama kayak gk cocok sama alur yang season 1.
Jangan lupa vote dan komen!
See you!
KAMU SEDANG MEMBACA
Domino Impact
Fanfiction"Shut up! I will control everything!!!" _________________________________________ WARNING!!! Content Only For Adults!
