Tok!!! Tok!!!! Tok!!!!!
"Daddy!! Mommy!! Ini sudah hampir waktunya berangkat sekolah, kami akan telat jika kalian berdua tidak segera keluar dari kamar!"
Lisa berdecak kesal mendengar suara putri mereka yang berumur emam tahun itu terus memanggil.
"Lanjutkan nanti setelah aku mengantar anak-anak ke sekolah. Kita akan memiliki banyak waktu luang karena Unnie dan Appa mengajak anak-anak pergi ke pantai.." Jennie mengelus rahang Lisa dengan lembut.
Seolah takdir berpihak padanya."Antar anak-anak kalau begitu, aku akan pergi ke perusahaan sebentar mengecek beberapa berkas,.... Dan pastikan aku pulang, kamu sudah siap, Wife.." bisiknya sebelum melepaskan tubuh sang istri yang selalu membuatnya ketagihan dan tidak pernah bosan.
Cup!
Jennie menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Lisa yang tidak pernah berubah. Selalu memberikan perasaan yang sama seolah mereka baru saja menikah.
Melihat kedua anaknya yang sudah rapi dengan tas di punggung masing-masing. "Kita berangkat sekarang?" Anak tertua mereka – Aurora Manoban – tersenyum sambil menggenggam tangan adik laki-laki di sampingnya.
Jennie berjalan dengan kedua tangannya menggenggam tangan kedua anaknya yang terlahir kembar.
Ya, anak Lisa dan Jennie kembar.
Dokter awalnya mengira Jennie hanya mengandung satu bayi, tapi saat persalinan, dia memiliki dua bayi. Yang tertua anak perempuan dan adiknya adalah laki-laki pendiam dan jarang berbicara. Sangat mewarisi sikap Lisa saat masih kecil menurut kata sang Haraboji – Marco Manoban.
Aurora adalah nama yang di pilih oleh Seonho sementara adik laki-laki di pilih oleh Marco dan di beri nama Limario. Lisa dan Jennie setuju mendengarnya, mereka berdua sangat setuju karena bagi mereka, nama bayi yang di berikan oleh Seonho dan Marco bagus dan tentu saja kedua haraboji itu tidak sembarangan memberi nama atas cucu pertama mereka.
Aurora sangat ceria dan gampang berbaur, sementara Limario lebih tenang. Ini membuat Marco teringat saat Lisa masih kecil, sifatnya akan berkembang seiring waktu berjalan.
"Jangan nakal, Aunty Jiwon yang akan menjemput nanti bersama haraboji kim.." Jennie memberikan pesan sebelum kedua anaknya itu turun dari mobil.
Keduanya mencium pipi Jennie bergantian lalu keluar, "Apa Aunty dan haraboji akan membawa kami pergi ke pantai?" Rora bertanya dengan penuh keingin tahuannya yang tinggi.
"Ne, besok weekend, jadi kalian bisa sepuasnya bermain di pantai.." Rora yang mendengar itu bersorak dengan semangat.
Sementara Limario, bocah kecil satu itu hanya menyimak pembicaraan nona dan mommynya.
"Unnie, kau bisa menjemput anak-anak jam 11. Tolong jaga mereka saat di pantai. Limario mungkin tidak akan terlalu kesulitan, tapi Rora memiliki keingin tahuan tinggi dan mungkin kau akan sedikit kerepotan menjaganya selama tiga hari kedepannya.."
Suara tawa Jiwon di seberang membuat Jennie mendengus kesal; "Baiklah-baiklah. Kau tidak perlu khawatir, oke?"
"Nikmati quality time mu dengan Lisa, tidak perlu khawatir tentang anak-anak, aku dan Appa pasti menjaga si twins dengan baik.." ucap Jiwon meyakinkan.
Jennie menghela nafas, dia hampir tidak pernah meninggalkan kedua anaknya itu dalam waktu lama. Jadi, wajar jika dia khawatir seperti itu, itu emosi yang sangat wajar.
"Nyonya, kita akan langsung pulang atau mampir ke suatu tempat terlebih dahulu?" Supir bertanya sambil tetap fokus pada jalan.
"Langsung pulang saja.."
___
"Berhenti!!"
Supir membulatkan matanya terkejut dan dengan reflek menginjak pedal rem dengan tiba-tiba.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" Supir bertanya dengan khawatir, takut sang istri dari bosnya itu terluka.
Jennie mengangguk dan menatapnya dengan bertanya; "Ada orang di depan yang tiba-tiba muncul entah dari mana menghalangi jalan.."
Jennie melihat ke depan setelah mendengar penjelasan supirnya itu. Menatap ke orang yang kini berjalan menghampiri mobil. Melihat sekitar, ini sudah memasuki pekarangan mansion, tidak mungkin akan ada sesuatu yang buruk.
"Apa yang kau inginkan, Tuan Song?" Jennie tidak keluar, dia hanya menurunkan jendela mobil dan menatap laki-laki bernama Song Yaxuan itu dengan tidak senang.
"Bisa ikut aku sebentar? Aku ingin membicarakan beberapa hal padamu.." Yaxuan tersenyum sambil menahan kaca mobil.
Laki-laki bermarga Song ini benar-benar terpesona oleh kecantikan Jennie. Apalagi dia sudah tidak memiliki istri karena bercerai dan kini hanya tinggal berdua dengan anaknya yang seumuran dengan Rora dan Limario, jadi dia dengan semangat mendekati orang yang dia sukai.
Jennie menatapnya dengan malas. Semenjak dia bertemu dengan laki-laki ini saat mengantar little twins, laki-laki bermarga Song ini semakin gencar mendekati dan selalu mencoba melakukan kontak dengannya.
Drrrttttt!!! Drrrttttt!!!
Dering ponsel Jennie menghilangkan keheningan dan suasana canggung yang terjadi, "Aku akan segera sampai, kamu ada di mana sekarang?" Suara lembut Jennie sangat berbeda saat berbicara dengannya, membuat Song Yaxuan merasa iri dengan orang yang saat ini menelfon wanita pujaannya.
"Ne, aku akan segera sampai." Akhirnya lalu menyimpan ponselnya.
Seolah mengerti, supir tanpa di beritahu langsung menjalankan mobil, membuat Yaxuan yang sempat melamun tertinggal. "Sialan!!!"
Ingin mengejar, tapi orang-orang yang berjaga akan menghentikannya. Yaxuan dengan terpaksa pergi.
___
Jennie berjalan dengan pelan sambil memijat bahunya yang sedikit pegal, tangannya membuka pintu kamarnya saat tiba-tiba sepasang tangan menarik tubuhnya dan menciumnya dengan panas.
Cupp!!
"Hhmmmm.." Jennie kaget, tapi dia langsung membalasnya saat melihat jika itu adalah Lisa. Di jatuhkannya tas yang dia bawa lalu mengalungkan lengannya ke leher Lisa.
"Bibirmu selalu menggoda ku untuk memakannya.." Lisa melepaskan ciumannya dan menatap bibir sang istri yang merah merona itu kini basah olehnya.
Jennie menatap Lisa dengan menggoda. Tidak ada orang yang bisa membuatnya sebahagia ini selain Lisa, yang benar-benar selalu mengerti dan memberikan hari-hari seolah layaknya pasangan yang baru menikah.
"Kamu tadi mengatakan masih ada di perusahaan.." Jennie mengusap dengan lembut rahang tegas Lisa.
"Kejutan.... Aku tidak bisa menahan lebih lama, kita hanya punya tiga hari waktu bersama sampai anak-anak pulang dari pantai.." Lisa selalu merindukan istrinya itu walaupun hanya sebentar berpisah.
"Kalau begitu,... Tunggu apalagi, hubby?" Jennie mengigit bibirnya, menggoda Lisa untuk tidak bermain-main lebih lama.
Lisa mendekatkan bibirnya, mengincar bibir merah istrinya yang terlihat begitu menggoda. Jennie menutup matanya saat bibir kedua akan saling bersentuhan, tapi Lisa menahan dan berbicara dengan berat.
"Aku melihat mu berbicara dengan orang asing, bukankah gadis yang nakal harus di hukum, hm?" Lisa menyeringai sambil mengusap punggung Jennie, mencari pengait bra yang terpasang di belakang.
"Then? Punish your naughty kitten severely if so.."
Setelahnya, Jennie tidak mendengar apapun kecuali suara seluruh pakaian mahal yang dia kenakan kini terkoyak dan terlepas dari tubuhnya yang tiba-tiba melayang ke ranjang yang di penuhi kelopak bunga mawar.
"Don't Regret It, Kitten."
"Aaaahhhhh!!!"
______________________________________
Yak, segitu dulu untuk chapter terbaru. Ini akan mulai perlahan sampe anaknya jenlisa besar, genre akan tetap gak berubah dan ya, banyak+++ jadi tetap bijak dalam membaca!
Jangan lupa vote dan komen!
See you!
KAMU SEDANG MEMBACA
Domino Impact
Fanfiction"Shut up! I will control everything!!!" _________________________________________ WARNING!!! Content Only For Adults!
