M Regency.
Suasana M Regency terasa begitu sejuk dan nyaman. Bunga-bunga dan pohon yang rapi menambah kesan yang alami serta terjaga dengan baik. Begitu Seonho, Jiwon, Chaeyoung dan Jisoo memasuki kawasan elit milik keluarga Manoban ini, mereka tidak bisa untuk menahan rasa ingin tahu.
Keempatnya keluar dari mobil. Sejenak menghirup udara segar yang sedikit mirip dengan suasana pedesaan. "Nyonya saat ini ada di taman.."
Arthur berdiri menatap keempat orang itu. Karena telah di hubungi sebelumnya oleh Marco, dia menyambut mereka dengan ramah dan mengantarkannya menemui Jennie yang saat ini tengah bersama Lisa di taman, di pinggir kolam yang penuh ikan.
Mata Seonho langsung berkaca-kaca melihat putrinya itu.
"Jennie..."
Suasana yang tadinya terasa ceria menemani gadis yang sibuk bermain dengan ikan-ikan kecil, kini berubah senyap. Jennie mengangkat kepalanya, mendengar suara yang sudah lama tidak di dengarnya, rasa rindu yang sudah lama dia tahan membuat air mata seketika mengalir membasahi kedua pipinya.
"Appa..."
"Appa... Hiks..."
Tubuhnya langsung berbalik dan dia berlari; melihat orang yang benar-benar di rindukannya itu, dia berlari, berhamburan memeluk Seonho.
"Jennie... Maafkan Appa,.. Appa tidak menjaga mu dengan benar... Appa benar-benar menyesal telah mempercayai bajingan itu!" Mendekap putrinya dengan erat, Seonho mengeraskan rahangnya; ingatan tentang penjelasan dan bukti yang Marco bawa padanya, membuatnya merasa sangat bersalah. Dia tidak seharusnya melakukan hal ini dan seharusnya lebih protektif serta menyelidiki Jongin lebih dalam lagi.
Jiwon menghampiri mereka dan ikut dalam pelukan. Dia mengusap rambut Jennie, menatapnya dengan begitu lembut.
"Maafkan unnie... Unnie jarang pulang ke rumah dan tidak bisa memiliki waktu dengan mu.. mulai sekarang, unnie berjanji akan lebih sering meluangkan waktu bersama.."
Melihat ketiganya berpelukan menyalurkan rindu. Chaeyoung dan Jisoo berjalan menghampiri Lisa, keduanya tersenyum tipis namun terlihat begitu tulus.
"Lisa, terima kasih karena sudah menepati janji mu untuk menjaganya. Sekarang, semua sudah terungkap.. hanya tinggal mengurus Jongin dan Appa-Nya.."
Melirik Chaeyoung, Lisa mengangguk. Dia diam sejenak sebelum kembali menatap Chaeyoung dan Jisoo dengan senyuman tipis di bibirnya; "Eoh, itu tidak sulit. Selama dia masih hidup, akan sangat mudah memancing mereka keluar.." mata Lisa sedingin es saat mengatakan hal tersebut.
___
Acara kerinduan dan pelukan hangat yang telah lama itu kini selesai. Appa Jennie - Seonho - berdiri menghampiri Lisa. Dia memeluk tubuh Lisa, mengucapkan terima kasih.
"Tuan Kim, seharusnya aku yang meminta maaf... Aku sudah melakukan hal yang membuat mu sakit dan membuat mu harus berada dalam tekanan yang tidak pernah kau bayangkan.."
Seonho menggeleng. Dia memegang kedua pundak Lisa dan menatapnya dengan penuh makna; "Tidak... Jika kau tidak melakukan hal ini, aku tidak akan tahu apa yang terjadi pada masa depan Jennie.."
Rasa terima kasih Seonho begitu besar. Rasa marah yang sebelumnya ada, tertutupi oleh rasa terima kasih yang begitu besar. Melakukan hal membunuh dan menculik memang adalah kesalahan besar, tapi setelah mengetahui alasan di baliknya, serta bukti yang tidak bisa di bantah, dia tidak mempermasalahkannya.
___
Sementara itu, di sisi lain.
Kim Hyun Joong dan Kim Jongin; mereka berdua ada di Busan. Keduanya lebih memilih pergi dari Seoul sekarang. Karena mereka berdua tahu, Seonho pasti sudah mengetahui sesuatu.
Entah dari mana, tapi Hyun Joong merasa sangat yakin kali ini. Bersama Jongin dan beberapa bawahan terpercayanya, mereka pergi dari Seoul menuju bandara di Busan; Bandar Udara Internasional Gimhae.
Hyun Joong tidak membawa banyak barang, dia hanya membawa baju-baju dan uang cash. "Appa, apa kita harus meninggalkan Korea?"
Jongin menatap Hyun Joong. Dia sedikit bingung dengan Appa-Nya yang terlihat begitu cemas sedari pagi. Ingin sekali dia bertanya, tapi dia tidak ingin membuat sesuatu yang akan memancing emosinya.
"Kemungkinan Seonho akan mengejar kita. Setelah perbuatan bodoh mu terbongkar, bukan tidak mungkin dia mengetahui rencana yang telah kita susun... Kita akan pergi ke Amerika,.. di sana, setidaknya lebih baik. Appa juga sudah membuat pengaturan agar tempat kita tidak langsung di ketahui Seonho dan bawahannya.."
Jongin mengangguk mengerti. Kemudian, dia tidak bertanya lebih lanjut saat mereka mulai satu-persatu memasuki kabin pesawat.
_____
16.00
Sore hari masih terlihat cerah, hari ini sepertinya tidak akan ada hujan sama sekali. Di dalam M Regency, Seonho dan Jiwon memeluk Jenni sebelum pulang ke rumah. Sementara itu, pasangan Chaeyoung dan Jisoo sudah pulang lebih awal.
Berada di depan pintu, Seonho dengan lembut mengelus rambut panjang putrinya yang halus itu; "Dengarkanlah apa yang Lisa katakan.. kali ini, Appa merasa dialah orang yang tepat. Appa merasa tidak perlu mengkhawatirkan mu lagi jika berada di sisinya.."
Di samping, Jiwon mengangguk setuju. "Dan jangan lupa pesan unnie juga, eoh... "
Cup!
Seonho mengecup kening putrinya itu dengan lembut. "Kami pulang dulu, eoh... Appa dan unnie akan sering-sering mengunjungi mu. Jadilah istri yang baik, jadilah istri seperti eomma mu yang begitu baik dan sangat menyayangi keluarganya.. eomma pasti bahagia melihat putri kecilnya kini sudah menikah.."
Tersenyum lembut, kedua pipinya yang gembul membuat Jennie semakin menggemaskan. "Ne!.. hati-hati di jalan, jangan lupa untuk sering-sering mengunjungi Jennie di sini.."
Begitu Seonho dan Jiwon pergi, Lisa tiba-tiba muncul di belakang Jennie dan memeluknya. Ia mencium wangi gadis yang selalu membuatnya ketagihan seperti sebuah alkohol.
"Apa yang Appa dan Unnie mu bicara tadi?" Suara Lisa terdengar berat saat dia bertanya dengan setengah berbisik, sesekali bibirnya menempel pada leher jenjang Jennie yang putih, mengecupnya dengan lembut; mengantarkan perasaan yang membuat jantung Jennie berdebar.
Jennie menyentuh tangan Lisa yang melingkar di tubuhnya, mengelus perutnya. "Aniyo... Appa dan Unnie tidak mengatakan hal penting... "
"Lalu,... Kenapa telinga mu memerah, hm?" Lisa menghembuskan nafasnya, mengenai daun telinga Jennie yang semakin memerah. Bukan hanya telinganya, tapi kedua pipinya terasa panas, dia menggigit bibirnya.
"Jangan mengigit bibir ini... Hanya aku yang boleh melakukannya.." satu tangan Lisa menyentuh dagu Jennie, mengusap bibirnya yang merah. Dengan pelan, tangannya menarik tengkuk gadis itu menghadapnya, menempelkan bibirnya.
Lisa mengisap bibir Jennie, mengigit bibirnya untuk memasukkan lidahnya, melilit lidah gadis itu dengan panas. Sementara itu, Jennie memejamkan matanya, merasakan lidahnya di lilit dan tidak sanggup mengimbangi ciuman Lisa yang begitu mahir, detak jantungnya semakin cepat.
Satu tangan Lisa mengelus perut Jennie, menyelinap ke dalam. Sementara tangan lainnya, menahan tengkuk gadis itu saat ciuman semakin panas. Air liur keduanya saling bercampur, karena tubuh Lisa yang lebih tinggi, Jennie harus mengangkat kepalanya yang membuat dagunya basah oleh liur keduanya yang menyatu.
Melepaskan ciumannya, Lisa memandang bibir basah yang kini sedetik membengkak itu. Tatapan begitu menahan saat mata hazle-nya yang hitam pekat menatap dengan tajam; "Ini tidak akan selesai... Aku ingin lebih dari ini.. " tepat setelah mengatakan hal tersebut, Lisa mengangkat tubuh Jennie dengan mudah. Membawanya ke dalam. Di mana, kegiatan yang membuat siapapun yang melihatnya akan memerah.
______________________________________
Sorry ya baru update. Lagi sakit soalnya. Mau publish Heavenly Beauty 2 juga ketunda gara² sakit-_
Jadi gw up domino Impact dulu, karena udh lama banget gak update.
Jangan lupa vote dan komen!
See you!
KAMU SEDANG MEMBACA
Domino Impact
Fanfiction"Shut up! I will control everything!!!" _________________________________________ WARNING!!! Content Only For Adults!
