Malam semakin larut, langit semakin gelap dan angin semakin dingin. Jam menunjukkan hampir pukul 12 malam, waktu yang sangat pas untuk seseorang pergi ke alam mimpi. Namun tidak untuk dua laki-laki yang sedang jalan berdampingan sambil bergandengan tangan tersebut.
Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu malam berjalan di jalan kota di bandingkan pulang setelah selesai makan telur gulung. Disini banyak kendaraan berlalu lalang dengan orang-orang yang sedang berjalan sambil bercanda gurau.
Namun hanya ada kesunyian di antar Chenle dan Jisung. Mereka membisu seolah berbicara dari hati ke hati. Orang orang sering bilang ketika malam semuanya hal akan muncul di dalam kepala. Entah itu kebahagiaan, cinta atau mungkin kesedihan.
"Sung kita mau kemana?" Tanya Chenle sambil menatap laki-laki yang ada di sampingnya.
"Ke jembatan" Jawab Jisung sambil tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Lu gak kedinginan sung?" Tanya Chenle penuh khawatir. Dan di jawab gelengan kepala oleh Jisung.
Aneh bukankah malam begitu dingin? Tapi mengapa Jisung seolah biasa saja. Padahal jaket miliknya sedang Chenle pakai. Bukan kah pakaian yang sedang Jisung pakai cukup tipis?
"Lu serius sung? Ini dingin banget loh" Ujar Chenle kepada Jisung.
"Iya Chenle, kan ada tangan kamu yang hangatin aku" Ucap Jisung sambil menunjukkan tangan mereka yang bergandengan.
"Idih jamet najis!" Ucap Chenle dengan wajah kesal namun sesudah itu dia pun tertawa.
Melihat Chenle tertawa sungguh hal yang indah. Rasanya hati Jisung menghangat melihat orang tersayangnya bahagia.
"Gak usah senyam senyum Jisung! Lu kek orang gila!" Ucap Chenle bergidik ngeri. Namun bukannya berhenti Jisung malah makin ingin tersenyum.
Hingga perjalanan mereka yang tadi sunyi kini di iringi dengan canda dan tawa. Namun tidak lupa dengan sedikit umpatan menyakitkan yang keluar dari mulut imut Chenle. Jisung sudah terbiasa dengan hal itu malahan Jisung merasa aneh jika nanti Chenle tidak lagi mengumpat. Mungkin kah itu hantu?
•Sebangku•
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang. Mereka berdua pun sampai di sebuah jembatan. Dari atas sini semua terlihat begitu kecil. Pemandangan kota terlihat begitu indah.
"Lu mau ngajak gua bundir sung?" Tanya Chenle ketika melihat Jisung yang kini sedang memejamkan matanya sambil merentangkan tangan.
"Gak lah, kalo bundir gak bakal masuk surga" Jawab Jisung yang kini telah membuka matanya.
"Kek bakal masuk surga aja lu" Jawab Chenle dengan sinis.
Jisung tidak menjawab perkataan Chenle tadi. Dia hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut Chenle. Membuat perasaan aneh mengitari diri Chenle.
"Jisung, lu pernah kehilangan orang yang lu sayang gak?" Tanya Chenle dengan wajah menunduk. Entah kenapa pertanyaan itu tiba tiba muncul di dalam kepala Chenle.
"Pernah" Jawab Jisung yang kini tidak lagi mengelus rambut Chenle.
Mereka berdua sama sama bersandar di jembatan meninggalkan keheningan. Tidak ada yang memulai percakapan lagi setelah pertanyaan singkat tadi. Seolah mereka terlalu takut untuk mengungkapkan apa yang mereka pikir kan.
"Jisung, gua rindu bunda" Ucap Chenle dengan bibir bergetar dan wajah menunduk.
Runtuh, semua pertahanan yang Chenle buat akhirnya runtuh. Setelah melontarkan pernyataan tersebut Chenle pun menangis. Karena rasa rindu dan rasa kehilangan yang selama ini dia pendam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebangku||JICHEN||
Teen FictionJisung si kutu buku duduk sebangku dengan Chenle si berandalan. Warn⚠️ BXB|HOMO|GAY Jisung dom Chenle sub Lokal Cerita ini murni dari pemikiran otak saya yang sinyal nya E+ jadi mohon maaf bila ada kesamaan. Star:21122023
