19. Is It Over Now?

261 69 16
                                        





"Jadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jadi ... ada apa, [Name]?"

Sepasang mata yang semula merunduk, kini beralih membalas tatapan seorang pemuda bersurai salju di seberangnya. Netra blueberry itu redup, seperti cahaya yang lelah bertahan melawan gelap.

[Name] sadar, dirinya tak bisa terus bungkam. Ada kepasrahan lewat cara ia menatap, seperti seseorang yang tahu kebohongannya tak dapat dipertahankan lebih lama lagi.

Usai beberapa saat membiarkan Umemiya menunggu, [Name] akhirnya membuka mulutnya. "Sebelum itu ... aku minta maaf, Umemiya-senpai." Sang gadis membungkuk kecil. Tiap jeda yang tercipta, ia terus meyakinkan diri, [Name] tahu dengan siapa ia berbicara sekarang.

Kemudian, gadis bersurai pendek itu menegakkan punggungnya, memandang Umemiya yang terlihat mengerutkan wajah seakan menanti sebelum ia benar-benar mengerti maksud kedatangan [Name].

Di satu sisi, [Name] bergeming, bagai seseorang yang tahu dirinya akan menghancurkan sesuatu begitu ia mulai berbicara.

"Aku tak seperti yang kau ... lihat," ungkap sang gadis, "Aku memalsukan identitas untuk masuk ke Furin." Wajah [Name] datar, tetapi matanya tak dapat menyembunyikan lelah yang lama tersimpan.

"Sebenarnya ... aku perempuan."

Setelah kalimat itu terucap, hening menerpa.

Tepat di hadapan [Name], Umemiya terpaku, udara seperti ditarik paksa dari paru-parunya. Ia yakin suara itu bukan berasal dari pikiran yang sibuk menerka, sangat jelas bahwa pengakuan tersebut terucap lewat bibir sosok di depannya. Manik sang pemuda bergetar.

Umemiya masih bisa tertawa dan menyangkal saat pria pemilik kedai cendera mata yang mengatakannya. Akan tetapi hari ini, yang berbicara, yang mengaku dengan sukarela adalah pemilik dari satu nama yang menggerayangi pikirannya setiap malam.

Lalu sekarang, apa yang harus Umemiya katakan saat isi kepalanya mendadak kosong?

Di hadapan lelaki itu, [Name] duduk tegap sembari mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Penglihatannya mulai goyah, namun ia masih menggenggam tekad dengan erat.

Gadis bermanik blueberry itu berusaha meredam degup di dadanya. Umemiya sudah tahu, tak ada yang bisa ditarik kembali. Perasaan bersalah membuat hatinya tidak nyaman, harusnya sejak awal [Name] melakukan ini. Namun, ia terhanyut untuk menyusun tiap petunjuk.

Seusai mengembuskan napas, [Name] berucap tenang, "Aku tak berniat buruk di sini. Hanya saja ... aku mencari seseorang."

Bahkan setelah [Name] mengungkapkan maksud kedatangannya, Umemiya masih membeku. Rahang pemuda itu mengeras, alisnya menukik seakan sulit menerima kebenaran ini secara tiba-tiba.

𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang