20. All Too Well

381 76 132
                                        





Derap kaki beruntun memenuhi sepi di sepanjang kebisuan ketika seorang pemuda memimpin dua langkah lebih cepat dibanding perempuan yang tak melepas atensinya dari sepasang sepatu putih yang ia kenakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Derap kaki beruntun memenuhi sepi di sepanjang kebisuan ketika seorang pemuda memimpin dua langkah lebih cepat dibanding perempuan yang tak melepas atensinya dari sepasang sepatu putih yang ia kenakan.

[Name] hanya menurut saat Sakura menuntunnya. Gadis itu tak perlu menebak ke mana mereka akan singgah, sebab kini ia amat familier pada lorong kelas yang dilewatinya.

Setelah menerima kekecewaan, [Name] merasa tak ada lagi yang harus ia lakukan di SMA Furin. Namun, sesungguhnya gadis itu masih berhutang penjelasan para mereka, teman-temannya. Mungkin usai mengutarakannya, sang gadis bisa pergi dengan lapang.

[Name] enggan menghayal terlalu tinggi, benci atau tidaknya mereka terhadap dirinya tak pernah sanggup ia terka.

Apa tidak masalah jika gadis bermanik blueberry itu tak lagi memiliki tempat untuk berdiri di samping teman-temannya, saat yang begitu [Name] khawatirkan adalah kesendirian? Tidak semua kebersamaan harus dipaksakan untuk tetap ada, tetapi bolehkah ia sedikit berharap?

Jarak demi jarak terpangkas, langkah yang Sakura tuntun telah tiba pada sebuah pintu kelas. Candaan, teriakkan, sampai kericuhan yang biasanya terdengar kini menghilang. Dingin serta hening dari dalam sana seakan menembus sela pintu, dan tubuh [Name] tanpa sadar berdiri kaku di tempat.

Di waktu yang sama, si pemuda bersurai dwiwarna telah mencengkeram gagang pintu di hadapan mereka. Namun, sebelum menggeser benda itu, lebih dulu ia tolehkan kepala pada sosok di sampingnya.

"Kemarin kau bertanya apa yang mereka katakan tentangmu, kan?" ungkap Sakura mengingatkan, ia sedikit menggeser pintu kelas hingga celah kecil terlihat. "Setelah ini, kau akan tahu."

[Name] yang semula memperhatikan benda di depannya dengan kosong mulai menggerakkan bola mata pada lelaki di sampingnya. Kedua manik istimewa itu berserobok, sang gadis tak dapat menebak apa yang coba dikatakan netra heterochromia tersebut, sedangkan Sakura hanya melihat lautan gelap yang diam-diam menyimpan harap.

Demi demi detik berlalu, Sakura memilih berpaling, dan tanpa persetujuan siapa pun, digesernya pintu itu. Suara berderak yang cukup berisik memecah hening, disusul banyaknya pasang mata yang tertuju pada sang ketua kelas yang melangkah masuk.

Sesaat setelah itu, Sakura menyingkir hingga menunjukkan apa yang ia bawa di balik punggungnya.

Sementara sosok di luar kelas masih belum berkutik, [Name] menyadari jika semua pasang mata tengah tertuju pada dirinya, seakan ialah bintang utama hari ini. Gadis itu mencoba menenangkan debar di dadanya, semakin ia berusaha semakin tak beraturan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 28 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang