18. Keep You in the Dark

709 107 107
                                        

- I didn't mean to keep you in the dark about my self -





"Ayo kita bicara, [Name]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ayo kita bicara, [Name]."

Jalan untuk melarikan diri hanyalah kebuntuan. Kalimat Suo menyatakan bahwa sesuatu telah menyebar, dan mereka tidak datang untuk sekadar berkunjung.

[Name] yang terpuruk, memaksa lututnya untuk menekuk, menahan rasa sakit yang membuatnya hampir jatuh lagi. Seusai bangkit, tanpa menatap mata siapa pun, ia berpaling memasuki kamarnya.

Suo menoleh ke arah Sakura dan Nirei, kepalanya bergerak menunjuk pintu yang terbuka. Sikap [Name] memberi isyarat jika mereka diizinkan untuk memasuki tempat itu.

Bunyi pintu balkon yang dibuka memecah hening di dalam kamar tersebut, gadis bermanik blueberry itu meremas ujung kaosnya kala suara tiga pasang kaki terdengar memasuki ruangan. Futon sudah ia gulung dan singkirkan, [Name] berbalik, berjalan pelan, kemudian mendudukkan diri.

Apa yang sang gadis suguhkan kepada tiga tamunya? Bukan makanan atau minuman, melainkan keheningan. Di hadapan [Name], tiga laki-laki duduk berjajar dengan sopan.

Pintu balkon yang terbuka menyelipkan udara hangat lewat celahnya, tetapi dinginnya kecanggungan di dalam sana mengusir semua itu.

Di antara Sakura dan Suo, ada Nirei yang duduk bersimpuh, kedua tangannya mengepal di atas paha. Pemuda itu diam-diam melirik kedua teman di sampingnya, berharap salah satu dari mereka membuka suara.

Nirei bersyukur, [Name] memperbolehkan ketiganya untuk masuk setelah Suo mengajaknya berbicara. Lelaki bersurai kuning itu yakin, jika hanya ia dan Sakura yang datang, [Name] mungkin akan membiarkan mereka tetap di luar.

Di seberang tiga pemuda itu, nampak [Name] yang menatap kosong lantai. Kepala si gadis berdenyut, sesekali ia menarik napas panjang, punggungnya terasa kaku. Tamu yang tak diundang membuatnya kehilangan suara.

Kamar yang tak terlalu luas itu terasa semakin menyesakkan.

[Name] sadar, dirinya kini menjadi satu-satunya terdakwa di sana.

Sementara itu, manik cokelat Nirei melirik ragu perempuan di hadapannya, wajah pucat temannya itu menimbulkan pertanyaan. Sejenak Nirei mengulum bibir, lalu berucap pelan, "[Name]-san, kau sedang sakit?"

Yang ditanya tak langsung menjawab, [Name] melirik masing-masing rekannya, setelah itu buru-buru mengalihkan pandangan. Ia sudah mencoba, meski begitu, tetap sulit menunjukkan wajah saat kepercayaannya mulai dipertanyakan, terutama pada si pemilik manik heterochromia.

"Ah ... begitu, ya." Nirei mengusap belakang kepalanya dan terkekeh kikuk. Padahal pemuda itu sudah peka tanpa harus bertanya, hanya saja ia tak nyaman dengan kebisuan di antara mereka.

𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang