selamat

402 13 0
                                        

Tania segera bergegas ke arah akram , memopohnya untuk berdiri

"Alhamdulillah, polisi datang." Ujar nya lirih.

Tembakan demi tembakan terus terdengar. Tania membopong  akram ke arah luar ruangan. Di bantu salah satu petugas polisi.

Dorr..
Tembakan melesat ke arah tania mengenai tangan kirinya.

Akhhh

Tania mengerang kesakitan

"Bawa dia pergi, biar aku yang mengamankanya." Ujar seseorang. menyuruh polisi lain membawa akram keluar terlebih dahulu.

" Kamu gak papa?" Ujar laki laki tersebut

Tania mematung memperhatikan wajah yang ia kenali, seorang aditama mahendra, kenapa dia ada di sini? Suara tembakan membuyarkan pertanyaan di otak tania.

Sedikit demi sedikit tama menuntun tania keluar dari gedung tersebut. Sampai akhirnya mereka sekarang sudah ada di luar gedung.

Tania melepaskan tangannya dari cengkraman tama. Ia berlari ke arah akram yang sedang di obati di dalam mobil ambulan. Tania tidak berkata apa apa, hanya menangis mengelus elus tangan adiknya yang lemah.

" Terimakasih bang." Ucar akram lirih

Tania menoleh ke belakang, berdiri tama, tersenyum dengan hangat

" Mba kami akan membawa pasien untuk pemeriksaan lebih lanjut." Ujar petugas ambulan

"Boleh, saya akan ikut" Jawab tania

Saat tania akan naik ke dalam ambulan, tangannya di tahan

"Kami akan menyusul." Ujar tama

"Baik Pak." Ujar petugas

"Euhh tapi...

Belum tania melanjutkan ucapannya tama menarik tangannya untuk menjauh dari mobil ambulan

Pintu mobil di tutup, lalu pergi meninggalkan tania dan tama.

Tania melepaskan cengkraman tama dengan kasar.

" Jelaskan..." Ujar tania "jelaskan semuanya." Ujar nya lagi

Cairan bening mulai mengalir membasahi pipinya. Napasnya naik nurun seperti menahan amarah yang menggebu

"Tania kita ke rumah sakit dulu." Ujar tama lembut

Tania menyeka air matanya

" Tidak perlu aku bisa sendiri." Ujar nya ketus

Tania berjalan ke arah jalan raya hendak menyetop taxi. Tapi langkahnya di hadang aditama

" Aku akan jelaskan, tapi nanti kita ke rumah sakit dulu". Ujar tama

"Jangan dekati aku lagi, jangan datang ke kehidupanku lagi." Ujar tania, napasnya tercekat menggebu

"Kamu, selalu sesuka hati" Ujar nya lagi

"Aku cape, jangan dekati aku lagi."

Air mata terus mengalir di pipinya, seolah ikut mengiringiri rasa marah, kecewa dalam hatinya. Tama menarik tangan tania, membawa tubuhnya kedalam pelukannya.
Tangis tania semakin kencang. Ia tidak tau kenapa? Tapi mengingat apa yang terjadi kepadanya bisa saja menjadi sebab akibatnya.

Rasanya lelah sekali, kenapa cobaannya terus saja datang bertubi tubi. Kenapa harus ia terus yang mendapatkannya. Kenapa hidupnya seperti drama sinetron yang di atur oleh sutradara dan penulis. Takut, cemas, kecewa, sedih tercampur menjadi emosi yang kadang siap meledak kapan saja

 Dia Abdi Negara (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang