Satu tahun yang lalu.
Setelah membagi timnya menjadi dua kelompok, tama melanjutkan penyelidikan nya jauh masuk ke dalam gedung. Tama memeriksa setiap ruangan sementara beta tetap siaga memperhatikan sekitar.
Sampailah tama pada ruangan di ujung lorong. Tama membuka ruangan tersebut hati hati, pintunya tidak di kunci. Di ruangan tersebut banyak sekali Buku-buku. Tama melihat ke atas meja yang berada di tengah tengah ruangan, ada sebuah peta yang sudah di tandai. Tama memegang peta tersebut. Ia tau persis lokasi-lokasi di peta tersebut yang sudah di lingkari oleh pensil merah.
Tama mulai mencari-cari petunjuk lain. Ia membuka satu persatu laci laci meja. Hanya terdapat buku buku. Hingga saat tama membuka laci terakhir, kosong tidak ada apa apa. Tama meraba dasar laci, kayunya berbeda dengan dasar laci yang lain. Ia mengeluarkan pisau lipatnya dari saku, mengorek sisi dasar laci, dan benar saja di dasar laci ini ada ruangan lain
"Beta kou membawa obeng yang ku suruh kemarin?" Ujar tama
"Siap bawa komandan." Jawab beta
Lalu menyerahkan obeng ke arah tama
"Awasi di luar." Ujar tama
Beta mengangguk mengerti
Tama mulai membongkar laci dengan hati-hati. Jangan sampai ada goresan sedikitpun. Tak berapa lama dasar laci pun terbuka. Di dalam terdapat 2 buku , dan cip kecil. Tidak mungkin memeriksa 2 buku ini di sini sekarang. Mau tak mau tama harus membawanya.
Tama mengambil 2 buku tersebut beserta cipnya, lalu ia meletakan buku lainnya ke dalam sebagai ganti. Tama mulai merapikan kembali laci tersebut seperti semula. sangat rapi sehingga seperti tidak ada yang pernah membukanya.
Tama mengkode beta untuk segera pergi dari sini karna waktu tidak banyak lagi.
* * *
Satu hari setelah oprasi penyelamatan.
Tama mulai memeriksa Buku-buku yang sudah ia ambil kemarin. Tak lupa ia melingkari peta baru. Karna tama tidak mengambil peta yang di atas meja, tapi ia masih ingat daerah yang di lingkari. Setelah melingkari nya tama berpikir keras bukankah ini daerah yang sering terjadi konflik? Apa hubungannya?
Tama membuka buku bersampul coklat. Isinya hanya kode kode angka. Tama mulai berpikir lebih keras. Apa maksud dari angka ini?
"Lapor komandan apakah ada sesuatu." Ujar danu menghampiri tama
"Kode apa ini?" Ujar danu saat melihat buku yang tengah di pandangi tama
"Menurutmu kode apa?" Tama malah balik bertanya
Danu mencoba berpikir keras
"Seperti senjata." Celetuknya
"Nahh... ( tama menjentikan ibu jari) benar ternyata ini kode-kode yang di pakai di senjata?." Ujar tama mengangguk-angguk
"Banyak sekali." Ujar danu sambil membalikan lembaran-lembaran buku
"Aku mendapatkannya di oprasi kita kemarin." Jawab tama enteng
"What?" Danu kaget
"Sepertinya aku akan melakukan hal gila lagi." Ujar tama
" Kami ikut." Ujar rekan-rekan tama yang lain.
Ternyata dari tadi mereka menguping di luar pintu. Dari situlah tama mulai membagi tugas kepada rekan rekannya. Misi ini di jalankan secara rahasia, tidak boleh ada satupun yang tau kecuali tim tama. Mengumpulkan bukti bukti secara halus supaya orang orang tidak curiga.
* * *
"Cantik." Ujar Tomi, ia tidak sengaja melihat tama sedang memandangi satu sosok perempuan di dalam poto.
Tama menutup layar ponselnya. Menarik napas pelan
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Abdi Negara (End)
RomanceTania sabira adalah wanita yg tidak pantang menyerah meski ia sangat ceroboh tapi tania selalu berusaha menutupi kecerobohannya dengan berusahanya pertemuannya dengan aditama mahendra adalah hal tak terduka, tama yg adalah seorang abdi negara. mampu...
