harapan baru

369 15 0
                                        

"Nah ini mukenanya,kamar mandinya di samping tangga, nanti sholatnya di kamar yang itu aja ." Ujar tama sambil menunjuk kamar tamu

"Terimakasih" ujar tania. Mengambil mukena, lalu bergi

Acara pertunangan abigael di mulai setelah ashar. Tania kira acaranya akan berakhir sebelum adzan magrib tiba. Tapi ternyata, Acara pertunangan abigael di lanjut sampai malam. Entah lah. Aga berbeda memang Kalou acara orang berada.

Tania di tawari sholat di rumah , oleh ibu hermia. Di hantar tama tentunya. Awalnya tania menolak, biar dia cari mesjid saja. Tapi ibu bilang:

"Di rumah saja sayang,dekat ko dari sini, sekalian bisa istirahat dulu. Nanti bisa ke sini lagi habis isya."

Tapi gk papa ya cuman berdua doang di rumah orang. Duh apalah, berfikir positif tania.

Selesai sholat tania menghampiri tama lagi di ruang tengah. Tapi ternyata tama malah tertidur di kursi

Apa ku bangunkan saja ya. Batin tania. Tapi kayanya tidurnya pulas. Terus sekarang aku harus gimana?

Tania bingung dengan situasinya sekarang. Tania duduk besebrangan dengan tama. Ia melihat sekeliling rumah. Terlihat bersih dan rapih.

"Udah selesai sholat nya? ko gk bangunin." Ujar tama sambil merubah posisinya dari terlentang menjadi duduk

Tania tersontak kaget dengan suara tama

"Ehh.. Emm udah. Mas tama gk sholat?" Tanya tania kikuk

"Ini mau sholat. Tania gk bangunin sih." Ujar tama sambil berdiri, berjalan ke arah kamar mandi.

Tania memainkan jari-jarinya, entah kenapa situasinya canggung.

Ceklek.. Suara pintu kamar mandi terdengar di buka. Tania menoleh pandangannya ke arah kamar mandi, keluarlah sosok tama yang selesai berwudhu, Dengan menyibakan rambutnya kebelakang dan lengan baju yang sudah di gulung. Tama melirik ke arah tania, dan tania langsung memalingkan muka.

Ya allah ko mas tama ganteng, batin tania. Jangan tania, jangan tergoda dengan buaya darat ujar batinnya lagi. Tapi tidak di pungkiri, senyum kecil menyembul dari bibirnya tania tidak bisa ia tahan. Tania berusaha menenangkan dirinya. Ia beberapa kali menarik napasnya.

Mas tama lumayan lama juga sholatnya, apa dia ketiduran? Batin tania.
Tania kembali melihat sekeliling. Lalu ia menoleh kepada foto foto yang terpajang di sudut ruangan. Jangan di lihat tania batinnya tapi pengen lihat. Perang ucapan antara dirinya dan batinnya.

Akhirnya tania berdiri juga. di lihatnya deretan foto-foto keluarga tama.

Ini pasti ayahnya mas tama. Batin tania saat melihat poto seorang bapa-bapa. Pandangan tania tertuju kepada foto dua anak kecil.

"Itu aku sama ael." Ujar tama

Tania kaget, sejak kapan mas tama ada di belakang nya. Ko suaranya gk kedengeran

"Coba tebak aku yang mana?" Ujar tama antusias

"Yang ini lah." Ujar tania, sambil menunjuk anak laki-laki yang memakai topi coklat. Semua orang juga pasti tau kali mana tama soalnya nya ael masih bayi di foto itu

"Nah anda betul." Ujar tama sambil tertawa

Tania hanya nyengir, emang lucu ya?

"Dan ini ayah." Ujar tama lagi. Ada terbesit perasaan sedih di hatinya

"Ayah gugur dalam bertugas." Ujar tama lagi

"Beliau pasti ayah yang hebat." Ujar tania

"Iya." Ujar tama. Ia tidak melanjutkan ucapannya lagi

 Dia Abdi Negara (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang