Banyak jalan berliku nan terjal yang menghadapi cinta tania dan tama. Tapi semua itu terbayar sudah dengan penantianya saat ini.
Pengajuan ternyata tidak semudah yang di bayangkan.
tama dan tania mulai mengurus persyaratan nikah kantor , SKCK, surat kesanggupan sebagai istri, foto dengan berbagai macam ukuran.
langkah pertama yang harus di lakukan menyerahkan SKBD ke kodim, setelah SKBD lolos tahap selanjutnya pergi ke batalyon untuk melanjutkan perjuangan.
Melengkapi semua persyaratan satu demi satu, foto kopi ini itu menyiapkan berkas dan menyalinnya menjadi tujuh rangkap.
"Jadi ini calonnya" Tanya letnan kolonel
"Iya Pak." Jawab tama
"Berapa lama kalian pacaran." Tanyanya lagi
"Tiga taun pak." Jawab tania
Tama memandang ke arah tania, lalu ia tersenyum.
3 taun? Yang ada tuh 3 bulan kenalan. 2 taun Lost contact 1 taun nunggu lagi. Penantian yang penuh dengan dag dig dug .....
Setelah selesai dari batalyon , melanjutkan perjalanan menuju korem yang ternyata letak kotanya juga berbeda.
Tama dan tania pun berkendara dengan sepeda motor vespa kesayangan tama menuju kota tujuan , menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, sungguh melelahkan, menyelesaikan semua persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya.
Tahap demi tahap mereka lalui, suka dan duka dijalani, salah mengisi form lalu harus menulis ulang. Begitu saja terus.
Tama santai saja menghadapinya berbeda dengan tania yang sudah bad mood di buatnya.
"Makan bakso yu." Ajak tama di tengah-tengah pembicaraan
"Huaa.. Aku nyerah aja." Ujar tania prustasi
"Hus jangan gitu bilangnya. Kalou mau cepet, nikah aja yu gk usah pengajuan." Ujar tama nyengir
Tania memukul tangan tama dengan dokumen yang ada di tangannya.
"Sudah lah mending kita jajan bakso, kasih cabe yang banyak." Ujar tama
Aish tama nih, gk tau apa ini posisinya genting.
Tidak hanya sampai di situ mereka pun harus rela menunggu atasan tama dari pagi sampai sore.
Tentunya mengurus nikah kantor sambil mengurus acara pernikahan tidak semudah yang di bayangkan.
"Kita sewa wo aja lah." Ujar tama
"Biayanya mahal mas." Ujar tania
"Uangnya bisa kita tabung buat pindahan nanti." Ujar tania lagi
"Besok kita perginya pinjem mobil ibu aja ya, mas cape bawa motor." Ujar tama
"Ya udah biar aku aja yang bawa motor." Ujar tania sambil nyengir
"Gak mau mas." Ujar tama mengelak
"Ihh, kenapa? Gk bakal kenapa napa ko." Ujar tania
"Mending jalan kaki aja, dari pada di boncengin." Ujar tama
"Aku sudah pro bawa motor." Ujar tania tidak mau kalah
"Apaan, kemarin nabrak gerobak sampah itu kenapa?" Ujar tama gk mau kalah juga
"Itu mah salah teknis." Jawab tania
"Pokonya mas gk mau." Jawab tama.
Lebih menakutkan di bonceng tania, dari pada menghadapi 10 orang dengan senjata lengkap
"Ya Kalou kita pake motor siapa tau cepet selesai?." Ujar tania
"Apa hubungannya." Ujar tama
"Kan nanti bersimpati, beginilah perjuangan dua sejoli memperjuangkan cinta mereka." Ujar tania
Tama tertawa kecil, tidak menyangka tania akan berkata seperti itu
"Ihh jangan tertawa." Ujar tania saat melihat tama cekikikan
Akhirnya tawa tama meledak juga. Ia sudah tidak tahan melihat tingkah lucu tania
Senyum merekah di kedua bibir tania dan tama. Perjuangannya sudah selesai tinggal tahapan terakhir yaitu berkunjung ke satu per satu rumah di dalam batalyon untuk perkenalan.
(Aku gk tau ini lengkapnya gimana, apakah kebalik atau ada kesalahan. Soalnya aku gk pernah pengajuan nikah sama tentara hehe nikah juga belum)
* * *
Resepsi pernikahan pun di mulai. Pernikahan di gelar di kediaman tania. Suasana begitu syahdu.
Saat tama selesai melakukan ijab qobul. Tania menangis sesegukan. Tidak menyangka, pelabuhan cintanya akan berakhir di tama. laki-laki yang ia temui tanpa sengaja. Cinta tubuh di antara rangkaian kejadian yang luar biasa. Tak henti-hentinya tania berucap syukur.
Kalou jodoh mah ya kan gak bakal kemana.
Tama menangis haru saat melihat tania keluar dari ruangan di gandeng oleh ayahnya dan adik perempuan nya. Ini beneran nikah batinnya masih tidak menyangka.
Acara demi acara pun satu persatu selesai di laksanakan. Malamnya di adakan hiburan santapan rohani. Tania mengadakan pernikahan sederhana saja. Baginya seperti ini sudah cukup. Uang tabunganya bisa di pergunakan untuk hal lain setelah menikah nanti.
* * *
Di sinilah perjuangan tania di mulai: menjadi ibu persit, julukan untuk istri seorang tentara.
Tania belajar menjaga sikap tidak bisa pecicilan seperti biasanya. Berwibawa layaknya seorang istri tentara. Setiap ngobrol harus pakai izin, mohon izin, siap, awalnya kagok, terkadang lupa tapi lama-lama mungkin akan segera terbiasa.
(Dulu aku juga kerja, di lingkungan rumah dinas TNI. Bicara ku juga berubah jadi pake mohon izin, atau izin bertanya pak, haha lucu deh Kalou inget itu)
Seperti yang di rencanakan sebelumnya, tama dan tania pindah tinggal di rumah dinas.
Tania mulai berbaur dengan lingkungan sekitar. Mendapatkan keluarga dan sahabat baru. Ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti Zoom meeting, webinar, dan pengajian. Terbilang hal baru bagi tania tapi dia berhasil melaluinya dengan bantuan tama tentunya.
Terkadang ada sebagian istri tentara tidak boleh mempunyai sosial media. Ada juga yang memperbolehkannya. Tergantung kebutuhan dan pasangannya.
Menjadi istri tentara benar-benar harus aktif mengikuti kegiatan apapun, seperti menjadi petugas posyandu, senam di asrama setiap pagi, menjadi pengurus yayasan, berpartisipasi dalam lomba-lomba dsb. Tapi tidak semua seperti itu. Ada juga yang hanya tiduran saja di rumah. Atau gak tidak berlaku untuk ibu-ibu persit yang tetap bekerja meski sudah menikah.
Tapi sesekali ikut ya....
(Maaf jika terjadi salah penulisan dalam semuanya, aku gk tau karna sekarang udah gk punya teman TNI)
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Abdi Negara (End)
RomanceTania sabira adalah wanita yg tidak pantang menyerah meski ia sangat ceroboh tapi tania selalu berusaha menutupi kecerobohannya dengan berusahanya pertemuannya dengan aditama mahendra adalah hal tak terduka, tama yg adalah seorang abdi negara. mampu...
