gugur mengemban tugas

317 10 0
                                        

Hari itu jakarta di guyur hujan deras dari pagi. Tania mengajukan cuty untuk datang ke acara pemakaman. Hujan turun dengan deras seolah merasakan pilunya kehilangan. Isakan tangis terdengar di setiap sudut pemakaman. Ibu hermia menggenggam erat tangan tania.

Hati tania terketuk tak kuat melihat pemandangan ini. Ia ikut menangis sesegukan. Ibu hermia terus menguatkan. Apakah ini yang di rasakan setiap istri tentara, yang telah di tinggal gugur? Batinnya.

Acara pemakaman telah selesai di laksanakan. Selamat jalan abdi negara. Jasamu tidak terhingga. Semoga allah menerima amal ibadahmu dan menempatkanmu di tempat yang terbaik.Terimakasih banyak.

Bayu darma cahyadi, telah berpulang ke rahmatullah.

* * *

Tania berusaha menelpon tama. Tapi tidak kunjung di angkat

"Belum di angkat juga?" Tanya ibu hermia sambil menyodorkan minum

"Terimakasih." Ujar tania sambil menerima minumnya

"Baju tania basah, mau ganti baju dulu?" Ujar ibu

"Tidak usah bu." Jawab tania

"Tidak apa-apa nak. Tama pasti baik baik saja." Ujar bu hermia menenangkan

"Iya." Jawab tania singkat.

Meski begitu air matanya tetap menetes tidak bisa di bendung.

Malam kemarin tania mendapat kabar ada prajurit yang gugur. Sahabat dekat tama. Jika beliau gugur bukankah ini berarti tugas yang di emban tama. Tania mencoba menghuhungi tama tapi nomornya tidak aktif. Lalu iya menghubungi ibu tama

"Iya ibu sudah dengar." Ujar ibu di telpon

"Besok tania mau ikut acara pemakamannya." Ujar ibu lagi

"Tania minta ijin dulu ke ibu dais." Ujar tania

Begitulah akhirnya tania bisa ikut acara pemakaman. Mas bayu adalah orang yang pernah ikut penyelamatan tania saat di sandra dulu. Beliau adalah sahabat baik tama, yang selalu menyapa tania Kalou bertemu dengan nya. Orangnya lucu, humoris. bisa di bayangkan bagaimana tama kehilangannya.

* * *

Sorenya tania kembali ke asrama. Hatinya tetap gelisah. Dari semalam tama tidak bisa di hubungi sama sekali. Meski ibu sudah bilang

"Tidak usah di pikirkan sayang, nanti Kalou ibu dapat kabar dari batalion. Ibu kabari tania ya."

Tapi tetap saja hatinya tidak tenang. Kembali tania menangis, ia masih ingat bagaimana pilunya keluarga mas bayu tadi di pemakaman. Apakah begitu rasanya di tinggalkan. Ibu bilang ini bukan pertama kalinya mas tama kehilangan rekan seperjuangnnya.

Tania jadi mengerti kenapa dulu mas tama tidak mau mengatakan kemana dia pergi. Lebih sakit di tinggal pergi tanpa kata apa apa, dari pada di tinggal gugur dalam tugas. Kalou di tinggal pergi tanpa kata kita akan cepat melupakan karna kita pasti berpikir dia berengsek. Berbeda jika di tinggalkan gugur, di bilang harus ikhlas tapi berat sekali rasanya.

Setelah sholat magrib, tania mengaji. Sambil Sesekali ia memeriksa ponselnya kembali. Tetap belum ada panggilan dari tama.

Dreed... Hpnya berdering. Tania buru-buru mengangkatnya.

"Hallo, assalamu'alaikum bu." Ujar tania. Ibu hermia yang menelponnya

"Sudah sholat magrib nak." Tanya ibu hermia di sebrang telpon

"Sudah." Jawab tania dengan suara masih purau setelah menangis

"Ibu dapat kabar, tama baik-baik saja. Nanti Kalou semua sudah membaik ia akan menelpon tania." Ujar ibu

"Mas tama menelpon ibu?" Tanya tania

"Tidak, ibu tadi dapat kabar dari atasannya. Ibu tutup telponnya ya. Tidak udah di pikirin. Tama pasti baik baik saja." Ujar ibu

"Iya." Jawab tania singkat

"Ya sudah ibu tutup telponnya ya assalamu'alaikum." Ujar ibu

"Waalaikumsalam." Jawab tania

Lalu telpopun berakhir

"Tania di dalam?" Ujar bu dais dari luar

"Iya bu." Jawab tania

Bu dais membuka pintu kamar tania. Ia tersenyum melihat tania.

"Ibu masuk ya." Ujar bu dais meminta ijin

Tania hanya menganggu mempersilahkan

"Barusan yang nelpon ibu hermia?" Tanya bu dais

"Iya." Jawab tania

"Masih belum ada kabar dari tama?"  Tanya ibu hermia

" Belum."jawab tania

"Biarkanlah dulu. Kasih waktu tama.  Mungkin kejadian ini sangat berat untuknya. Tidak mudah di tinggalkan oleh orang yang selalu bersama kita." Ujar bu dais menenangkan

Tania kembali menangis. Entah kenapa rasanya hatinya pilu sekali

"Bu Kalou terjadi sesuatu sama mas tama suatu saat. Kira-kira tania bisa kuat gak ya." Ujar tania di sela-sela tangisnya

"Ngeliat keluarga mas bayu aja, tania gak kuat." Ujar tania lagi

Bu dais tidak bisa berucap apapun. Iya hanya bisa memeluk tania, menenangkannya

 Dia Abdi Negara (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang