Tama memandang keluar jendela rumah sakit. Pandangannya menerawang jauh entah kemana pikirannya terasa kosong.
Cek lek.. Ruangannya ada yang membuka. Duduk lah Tomi di samping tama
"Bayu, sudah di lakukan pemakaman." Ujar Tomi lirih
Tidak ada jawaban dari tama
"Yang lain sudah baik-baik saja. Kondisi Rafa juga sudah mulai membaik." Ujar tomi
"Seandainya aku tidak memaksa. Mungkin kita masih baik-baik saja ya kan." Ujar tama akhirnya
"Tam. Ini bukan salah...."
"Aku yang menggerakkan komando." Ujar tama memotong pembicaraan
Tomi menghela napas kasar
"Tidak ada yang salah dalam kasus ini." Ujar Tomi
"Semua jajaran Parlemen juga bilang: tidak ada salah siapapun. Kasus ini sudah bocor." Ujar Tomi lagi
"Ayo lah tam bangkit lagi, musuh kita bukan hanya mereka. Tapi rekan kita sendiri. Sepertinya ada mata-mata di sekitar kita." Ujar Tomi
Tama kembali diam membisu
"Oh ya, telpon lah keluargamu. Jangan membuat mereka terus kawatir." Ujar Tomi lagi. Lalu keluar dari ruangan tama
* * *
Oprasi penyergapan 4 hari yang lalu benar-benar kacau seolah sudah ada yang membocorkan. Tama masih menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya dia dengarkan ucapan bayu untuk mundur , mungkin teman temannya tidak akan terluka dan bayu pun masih ada sampai sekarang. Tama benar-benar mementingkan egonya. Untuk terus maju menumpas semuanya. Ia tidak sadar Kalou teman temannya sudah mulai kehabisan amunisi. Musuh yang di hadapi semakin banyak.
Sampai akhirnya kejadian yang tidak di inginkan pun terjadi. kehabisan amunisi. teman temannya memilih pasrah. Jika mereka keluar hidup-hidup berarti takdir allah masih berumur panjang. Tapi Kalou pun gugur, itu sudah resiko menjadi seorang tentara.
Tama berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa mereka pasti akan keluar dari sini hidup-hidup.
"Mas bayu terluka parah." Ujar Rafa kepada tama
Tama menghampiri bayu yang sudah terkapar lemas. Bayu masih bisa tersenyum.
"Gak papa, luka kecil." Ujar nya menyangkal
"Rafa, tanganmu berdarah." Ujar bayu. Masih bisa memperhatikan rekannya.
Tama menekan luka bayu. Supaya darahnya tidak banyak keluar
"Tahan ya mas." Ujar rafa, sambil terus membalut luka-luka bayu.
"Kita tidak bisa berdiam terus di tempat ini." Ujar beta
Tama melihat rekan-rekannya, mereka sudah terluka. Bahkan bang danu tengah membalut kakinya yang tertembak.
"Alat komunikasi bangsat." Ujar Tomi melemparkan alkomlek ke lantai
Alat komunikasi tidak berfungsi dari satu jam yang lalu. Seperti sudah di sengaja
"Tunggulah di sini semunya. Aku akan mengecek keluar." Ujar tama
"Biar ku temani tam." Ujar beta
"Tidak usah bang." Ujar tama mencegah
"Senjataku masih ada amunisinya." Jawab beta
"Jaga yang lain bang." Ujar tama
"Tunggulah di sini bet, biar aku yang menemani tama." Ujar danu
"Bang danu terluka, biar aku sendiri saja." Ujar tama
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Abdi Negara (End)
RomanceTania sabira adalah wanita yg tidak pantang menyerah meski ia sangat ceroboh tapi tania selalu berusaha menutupi kecerobohannya dengan berusahanya pertemuannya dengan aditama mahendra adalah hal tak terduka, tama yg adalah seorang abdi negara. mampu...
