pengakuan tama

447 14 0
                                        

Akhirnya tania pergi ke rumah sakit dengan tama. Di dalam mobil tania hanya diam membisu. Pandangannya tertuju keluar jendela, ia memilih duduk di kusi penumpang, alih alih duduk di samping kemudi
Tama memperhatikan tania dari arah kaca depan, senyum kecil keluar dari bibirnya

" Lukanya sakit tidak?" Tanya tama

Tapi tania tidak menjawab. Ia tetap diam mebisu

Sesampainya di rumah sakit, tania keluar duluan dari mobil. Ia berjalan cepat ke arah pintu masuk rumah sakit. Masuk ke dalam. Berjalan ke arah resepsionis.

"Malam, ada yang bisa saya bantu?" Ujar resepsionis

" Mba saya mau tanya pasien bernama akram, yang sebelumnya di bawa ambulan kasus penculikan. Di rawat di ruangan mana? " Tanya tania

" Sebentar saya cek ya." Jawab resepsionis

" Tidak usah mba" Ujar tama

" Apa sih ko gk usah " Ujar tania sewot

" Kita obatin dulu luka kamu" Jawab tama

"Aku gk papa." Ujar tania tidak mau kalah

"Itu bekas peluru " Ujar tama lebih tegas

"Ehmm... Tapi menurut saya benar kata masnya, lebih baik embanya obati dulu lukanya." Ujar resepsionis  melerai pertengkaran tama dan tania

Tama menarik tangan tania menuju ruangan dokter, yang sudah ia kenal dari dulu. Dokter senior teman ibunya

***

Di ruangan pengobatan.
Tama berdiri di samping tempat tidur . Sedangkan tania duduk di obati lukanya

"Wah dalam juga ini" Ujar dokter tersebut

"Iya dok, ngeyel lagi, gak mau di obatin." Ujar tama meledek

Tania melototi tama tajam

"Tahan sebentar ya, lukanya mau saya jahit ". Ujar dokter lembut

" Kalou gk di jahit bisa kan dok." Tanya tania

"Bisa tapi lama sembuhnya" Jawab dokter

"Jahit aja dok." Ujar tama

Tania kembali melototi tama. Tapi yang di pelototi malah terkekeh geli

***

Setelah dari ruang perawatan. Tania dan tama duduk di depan ruang tunggu perawatan akram. Hening itu yang mereka berdua cipatakan. Akram beberapa hari ini harus di rawat di rumah sakit.

"Aku dan abigael bersaudara. Kami adik kaka." Ujar tama memecah keheningan.

Tania masih mengunci mulutnya untuk mengeluarkan suara. Bukan ia tidak terkejut, hanya saja ia ingin diam menanggapinya

"2 tahun ini aku pergi bertugas, di perbatasan konflik yang tidak berkesudahan." Ujar tama lagi

"Bohong jika aku tidak merindukanmu tania."

" Pulang tinggal nama itu sudah hal biasa bagi seorang abdi negara." Ujar tama lagi

"Saat aku mengutarakan niatku, kamu hanya menghindar, tapi saat aku pergi seorang tania terus mencariku. Ujar tama lagi

" Aku gak nyari nyari." Jawab tania malu

Mendengar jawaban tania, tama tertawa kecil. Mendengar tama tertawa tanpa sengaja ia memukul tangan tama

"Aww sakit..." Ujar tama sambil memegang tangannya.

"Nih rasain.." Ujar tania sambil terus memukuli tangan tama

"Ini kekeraaan dalam rumah tangga." Ujar tama sambil tertawa

Tania menghentikan pukulannya

"Jadi aku di maafkan." Tanya tama

"Nggk." Jawab tania singkat

"Sudah di pukuli tapi tidak di maafkan? Itu kekerasan." Ujar tama

"Memang sesakit apa pukulan ku?" Ujar tania

"Hmmmm sesakit apa ya. Kurang lebih seperti gigitan semut kecil." Jawab tama nyengengesan

Lagi lagi tania memukul tama, dan tama hanya tertawa lebar.

***

Hari telah berlalu, tania melanjutkan aktivitas nya seperti biasa. Akram di tanyatakn telah sembuh. Sekarang ia sedang dalam masa rehabilitasi.
Tring....Bunyi notifikasi
Tania merogoh ponselnya dari dalam saku bajunya. Notifikasi masuk dari aditama

Tania makan siang ayo... 😊

Tania hanya melihat pesannya memasukan kembali ponselnya ke saku, tanpa membalasnya, entah kenapa ia masih merasa kesal kepada sosok aditama. Dia yang salah ko berasa aku yang salah begitulah pemikiran wanita entah apa maunya.

"Mba tania, ini ada undangan." Ujar satpam penjaga pintu depan TK

"Undangan? Dari siapa pak? " Tanya tania

" Bapa gk tau." Jawabnya

"Terimakasih pak." Ujar tania

Pak satpam pamit undur diri

Tania membulak balik undangan berwarna biru langit di tangannya, ia duduk di tangga menuju lantai dua.

"Alamat rumah abigael, apa undangan pernikahan mas tama? Masa sih baru saja dia kirim pesan kan "

Gumamnya

Entah kenapa tiba tiba dadanya berdetak kencang,

"Tidak apa apa, toh aku dan mas tama tidak ada hubungan apa apa ". Ujar nya lagi menguatkan

Tania menetralkan napasnya, ia membuka undangan perlahan, tapi entah kenapa matanya malah terasa panas, cairan bening dari pelupuk matanya malah menetes duluan di atas undangan yang baru ia buka

 Dia Abdi Negara (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang