panggilan hati

379 12 0
                                        

Tania memperhatikan anak- anak tk yang belum di jemput. Lalu pandangannya tertuju kepada seorang anak laki-laki bernama dikta. Tania menghampiri dikta yang sedang menggambar.

"Dikta gambar apa?" Tanya tania

Dikta tidak menjawab ia mewarnai gambar profesi - profesi

"Ko gambar TNI nya gk di warnai malah di coret." Tanya tania lembut

"Dikta gk suka TNI." Jawab dikta

"Kanapa?" Tanya tania

"Ayah dikta jadi TNI, malah gk pulang-pulang." Jawabnya dengan polos

"Nanti ayah pasti pulang." Jawab tania

"Tapi kata ibu ayah gk bakal pulang pulang. Ayah sudah bergi jauhhhhhh ke atas langit." Ujar dikta

Mendengar perkataan dikta deg hati tania merasa sakit. Dari kejadian pemakaman alm.Mas bayu. Sudah dua bulan, Tama belum juga mengabarinya. Meski ia selalu mendapat kabar dari ibu hermia tapi tetap saja hatinya belum tenang

"Ayah pasti bangga, punya anak seperti dikta." Ujar tania lembut

"Dikta sebenarnya rindu ayah." Ujar nya, lalu menghapus coretannya di gambar TNI

"Tapi Kalou dikta bilang rindu ayah, ibu selalu menangis." Ujar nya lagi

Tak terasa air mata tania menetes, ia buru-buru menyekanya

"Dikta anak yang hebat. Dikta punya ibu yang hebat. Dikta adalah sumber kekuatan bagi ibu." Ujar tania lembut

"Ayah itu hebat." Ujar nya sambil mewarnai gambar TNI

"Iya ayah dikta hebat." Ujar tania. Menetralkan napasnya, ia tidak kuat membendung air matanya lagi.

"Suster bantuin gambar boleh?" Ujar tania

"Boleh, suster gambar ibu gurunya." Ujar arkana

"Emm iya." Jawab tania lembut

*  *   *

Satu persatu anak-anak di jemput orang tuanya. Tania memegang tangan dikta yang tak kunjung di jemput orang tuanya. Mereka duduk di ruang tunggu. Dikta sudah tidak ingin bermain lagi.

"Dikta lapar gak?" Tanya tania

"Nggk." Jawabnya singkat

"Mama bolehin dikta makan coklat gak?" Tanya tania

"Boleh, tapi habis itu harus gosok gigi." Ujar nya

"Suster punya coklat, dikta mau gak?" Ujar tania, merogoh sakunya mengeluarkan coklat

Dikta mengambil coklat pemberian tania. Ia tersenyum lembut. Lucu sekali

"Dikta harus jadi anak yang hebat, membanggakan mamah. Buat mamah jadi bangga sama dikta ya." Ujar tania menasehati

"Emm.. Mamah bilang dikta anak yang hebat." Ujar dikta

"Iya dikta hebat sekali, suster juga bangga." Ujar tania memuji

Tak berapa lama ibunya dikta datang

"Dikta..." Ujar nya memanggil

"Mama...." Dikta turun dari duduknya dan berlari ke arah ibunya

Tania mengikutinya dari belakang

Ibu dikta memeluk anaknya, lalu menggendongnya

"Maaf ya Sus jadi ngerepotin." Ujar mama dikta

"Gak papa ko mam." Jawab tania

"Dikta salim dulu sama suster." Ujar mama dikta
Dikta menurut ia mengalami tania, mencium tangannya dan tersenyum. Lucu sekali sih dikta.

"Dadah suster." Ujar dikta lalu pergi dengan ibunya.

Tania memperhatikan dikta dan mamanya sampai tidak terlihat lagi. Tapi pandangannya tertuju kepada sosok laki-laki yang berdiri di pinggir jalan bersandar pada mobil

"Mas tama." Gumamnya. Tania berlari keluar. Ke arah tama ia memeluk tama erat. Tama juga membalas pelukannya. Sesekali tama mencium pucuk kepala tania.

Tania menangis di pelukan tama. Ia sangat rindu sekali

"Yah bajunya kena ingus." Ujar tama

Tania melepaskan pelukannya, menyeka air matanya.

Tama tertawa melihatnya.

*  *  *

"Maaf ya mas gak ngabarin tania." Ujar tama. Mereka berdua sekarang duduk di ruang tunggu jemputan anak anak TK

Iya gk papa, sebenarnya tania ingin mengucapkan itu tapi dirinya tidak menerima

"Sebegitu susahnya ya ngasih kabar?" Ujar tania ketus

Tama tersenyum, mengelus kepala tania. Tania menepiskan tangan tama

"Jangan Pegang-pegang." Ujar nya

"Lah tadi meluk mas erat banget, sampe mas gk bisa napas." Ujar tama

"Ya itu mah repleks." Jawab tania

"Ngeles aja." Ujar tama sambil mencubit hidung tania

"Aww sakit ah." Ujar tania

"Maafin aja lah." Ujar tama

"Gak mau pokonya." Ujar tania keukeuh

"Yang penting mas kan sudah pulang." Jawab tama

"Bodo ah." Ujar tania tetap pada pendiriannya

Suasana hening sejenak

"Anter mas jiarah ke makam bayu yu." Ujar tama kemudian

"Aku masih kerja." Ujar tania

"Ya gk papa mas tungguin sampai selesai." Ujar nya

Tania melihat jam di dinding, masih ada 2 jam lagi dari waktu pulang.

"Emang gk papa nungguin? " Tanya tania

"Ya gk papa, kan mas masih bisa liat tania terus." Jawab tama sambil cengengesan

"Gombal ah." Ujar tania ngelak

Tama tertawa melihat ekpresi tania yang risih

"Tama.." Tetiakan bu dais dari dalam saat melihat tama

Tama dan tania menoleh ke arah bu dais. Tama berdiri lalu menghampiri bu dais

Bu dais memeluknya erat

"Gimana kabarmu." Tanya bu dais, setelah selesai melepaskan pelukannya

"Sehat bu." ujar tama rapat

"Kamu nih bikin kawatir saja. Tuh tania sudah kaya ayam kena virus nungguin kamu." Ujar bu dais

"Nggk ko." Ujar tania mengelak

"Iya bu, tadi juga meluk kenceng banget sambil nangis, nih baju tama penuh sama ingusnya." Ujar tama becanda

"Ih nggk ko." Ujar tania malu

Tama dan bu dais tertawa, berhasil menjaili tania

*  *  *

Sorenya tania menemani tama berziarah. Segurat kesedihan nampak di muka tama. Bayangan demi bayangin terlintas saat bayu masih hidup. Beliau kawan yang baik. Selalu membuyarkan suasana di antara tim mereka. Orang paling ceria di timnya. Tania mengusap-usap  punggung tama menenangkan. Meski sebenarnya tania pun ingin menangis saat itu.

Tania melihat muka tama. Ada bekas luka di pipi sebelah kanannya, Dan jari tangan tama yang  beberapa masih terbungkus perban. Tania juga ingat saat tadi memeluk tama. Tama sempat meringis kesakitan. Tania juga merasakan ada perban yang melilit di tubuh tama. Apa sebenarnya yang sudah di lalui tama

 Dia Abdi Negara (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang