Orang gila mana yang baru nikah satu minggu sudah di tinggal pergi?
Yap itulah resiko menjadi istri seorang tentara. Tania mulai belajar mandiri. Tinggal sendiri di tengah lingkungan yang baru. Terkadang ia mengikuti kegiatan yang di adakan oleh ibu-ibu persit lainnya.
Setiap pagi ia melihat istri yang lain mengantarkan anak-anaknya sekolah. Sementara tania bingung akan melakukan apa. Hiburannya hanya melihat beberapa anggota TNI olahraga setiap pagi. Eit jaga mata jaga hati ya
Tania mulai memutar otaknya, bagaimana menghilangkan ke bosannya. Sesekali ia menelpon ibunya tama atau gak adiknya tapi masa harus di telpon setiap hari.
Nah mulailah terbesit di pikirannya kenapa gk bercocok tanam saja. Lumayan di belakang rumah dinas ada lahan kosong. Tania membeli pupuk, dan berbagai jenis benih sayuran. Lumayan kan mengisi waktu luang.
Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, beberapa tanaman mati. Ada juga yang gagal panen. Tapi tania tetap berusaha. Sampai akhirnya usahanya membuahkan hasil. Sayuran nya tumbuh subur. Terkadang ia bagikan kepada tetangga-tetangga lainnya
* * *
Tama tersenyum, bergeleng geleng saat melihat kebelakang rumah dinasnya. Di sana sudah tumbuh berbagai jenis sayuran. Ada- ada saja yang di lakukan istrinya.
"Apa sih." Ujar tania sambil memasukan baju-baju bekas dinas tama ke mesin cuci
"Sayang, kamu ngapain?" Ujar tama
"Ya itu nanam sayur." Jawab tania
"Mas kan nyuruh nya diam saja." Ujar tama
"Bosen tau, berapa lama mas pergi dinas hayo." Tanya tania
"Hanya 4 bulan tidak lama." Ujar tama sambil cengengesan
"4 bulan tidak lama katanya. Aku nunggunya sampe jamuran tau." Jawab tania ketus
"Hahaha..." Tama tertawa
"Nah kan cuman bisa ngetawain." Ujar tania
"Nanti Kalou udah punya debay, gk bakalan keinget nanem sayur." Ujar tania lagi
"Emang udah siap punya debay." Tanya tama, menggoda tania
"Ya... Ya... Siap gk siap." Jawab tania malu-malu
"Ya udah ayo bikin." Ujar tama. Menghampiri tania
"Aish apa sih, mending sana mandi." Ujar tania sambil mendorong tama menjauh
"Mandi bareng mau gak?" Tanya tama
"Nggk ah, sudah sana mandi." Ujar tania lagi
"Ya gk papa, kan udah sah." Ujar tama masih menggoda tania
"Mandi sekarang gak." Ujar tania meninggikan suaranya. Layaknya seorang ibu yang menyuruh anaknya mandi
"Ya udah mandiin." Ujar tama masih menggoda tania
"Udah gede, masih di mandiin." Ujar tania
"Aduh mas cape sekali." Ujar tama ngelendot
"Mandi sekarang gak." Ujar tania semakin galak
"Iya.. Iya sayang ini mandi nih." Ujar tama
Mengecup pipi tania pelan lalu pergi ke kamar mandi.
* * *
"Lukanya masih sakit gak sih mas?" Tanya tania, sambil mengoleskan salep ke bekas luka tebak di punggung tama
"Nggk ko" jawab tama
Tania meraba punggung tama yang banyak terdapat luka-luka.
"Jelek ya." Ujar tama
"Nggk." Ujar tania
"Luka ini kenapa mas?" Tanya tania. Menunjuk luka di pinggang tama
"Oh gk sengaja itu, bekas jatuh." Ujar tama bohong
"Boong banget, ini luka tusuk senjata tajam ." Ujar tania
"ko tania tau?" Ujar tama
"Sering liat di filem." Jawab tania
"Tapi itu beneran bekas jatuh." Ujar tama
Tania tau tama bohong. Mungkin ia berusaha menutupinya supaya tania tidak terlalu kawatir saat tama pergi bertugas
"Katanya tadi mau cepetan punya debay." Ujar tama menggoda
"Hah" Ujar tania pura-pura
Tama menarik tangan tania, dengan sekejap mata, tania sudah ada di pangkuan tama. Tania memalingkan mukanya malu di tatap tama secara inten.
"Liatnya ke sini." Ujar tama sambil memalingkan muka tania untuk berhadapan dengannya
"Awas ah." Ujar tania meronta turun.
Tapi tangan tama erat memegang pinggang tania.
"Aku malu mas di tatap gini." Ujar tania jujur
"Lah kenapa malu, sama suami sendiri ini." Jawab tama
"Gimana kabarnya teman-temannya mas?" Ujar tania mengalihkan pembicaraan
"Emang harus nanya itu sekarang ya?" Ujar tama
"Iya, kan penasaran." Ujar tania
"Semuanya baik ko." Ujar tama
Nah sekarang suasananya jadi canggung. Tania berpikir keras bilang apa lagi ya
Tama merapikan anak rambut tania. Taniapun jadi memandang wajah tama.
"Cantik ." Ujar tama
Mendengar ucapan tama. Membuat pipi tania memerah, yang berhasil membuat tama tersenyum
Tak berapa tama kembali melancarkan aksinya mengecup kening tania perlahan. Kembali pipi tania memerah karna malu
Tama pun bergantian mencium pipi kiri dan kanan tania, lalu kemudian menciun bibir tania pelan. Tania memejamkan matanya, siap menerima serangan fajar setelahnya
* * *
Tama merapikan barang-barangnya yang akan ia bawa dinas. Tania tidak ikut membantu. Hanya memperhatikan saja.
"Mas cuman pergi sebenar." Ujar tama
"Mas baru seminggu di rumah." Ujar tania
"Iya nanti kan mas pulang lagi." Ujar tama
"Iya setelah 4 bulan kemudian." Ujar tania
Tama tersenyum melihat muka istrinya yang cemberut
"Sabar sayang ya." Ujar tama
Lalu memeluk tania.
Tak terasa air mata tania menetes.
"Doakan mas kembali dalam keadaan sehat walafiat." Ujar tama
"Mas baik-baik di sana, jaga kesehatan. Makan yang bener." Ujar tania
"Pasti sayang." Ujar tama. Mengecup pucuk kepala istrinya
Begitulah akhirnya tama kembali bertugas. Meninggalkan istri tercintanya. Sudah resiko menjadi istri tentara, Harus siap di tinggal-tinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Abdi Negara (End)
RomanceTania sabira adalah wanita yg tidak pantang menyerah meski ia sangat ceroboh tapi tania selalu berusaha menutupi kecerobohannya dengan berusahanya pertemuannya dengan aditama mahendra adalah hal tak terduka, tama yg adalah seorang abdi negara. mampu...
