Flora melangkah sendirian menusuri koridor. Sesekali dia tersenyum tipis atau mengangguk singkat saat ada yang menyapa. Namun, setelahnya, Flora kembali berjalan sembari melamunkan sesuatu--Jessi, atau lebih tepatnya, respon dirinya sendiri akan pembelaan yang Jessi lakukan untuknya di kantin tadi. Flora senang mengetahui Jessi bisa memahaminya dengan cukup baik, tetapi Flora juga heran, rasanya dia ingin selalu membalas semua perlakuan Jessi untuknya. Seolah, itu adalah ungkapan terima kasih yang tersirat.
Napas Flora berhembus panjang. Saat Flora hendak berbelok masuk ke kelas, tiba-tiba suara lantang Jessi memanggilnya dari ujung lorong. Flora menoleh dan menemukan Jessi berlari ke arahnya dengan muka cerah. Kening Flora seketika berkerut. Rasanya belum ada lima menit sejak Flora menyuruh Jessi meminta maaf pada Muthe. Muthe tadi juga melarikan diri, seharusnya mencari keberadaan gadis itu memerlukan waktu yang tidak sedikit.
"Cepet amat?" heran Flora sesaat setelah Jessi tiba di dekatnya. "Udah minta maaf?"
"Belum." Jessi terkekeh.
"Kenapa? Enggak ketemu?"
"Bukan... cuman, tadi gue lihat dia lagi sama Christy. Jadi, yah, gue pikir kayanya mending ntaran aja waktu di kelas minta maafnya. Tenang aja, Flo. Gue bakal tetep minta maaf, kok! Enggak sekarang aja." Jessi membuat tanda damai dengan jari tengah dan telunjuknya, disertai muka sok serius yang berusaha terlihat meyakinkan.
Flora memutar mata malas. Tetapi dia menangkap sesuatu yang baru dari penjelasan Jessi. Flora kembali menatap Jessi dengan serius dan penasaran. "Emangnya, kenapa kalo Muthe lagi sama Christy?"
"Lo gak tahu?" Jessi menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati keadaan, kemudian menarik Flora sedikit jauh dari pintu kelas. Setelah aman, dia berbisik sangat pelan. "Christy itu suka sama Muthe, Flo."
"HAH?!"
"Sut, sut, ssstt!" Jessi melotot dan langsung membungkam Flora. Flora membalas tatapan Jessi tak kalah lebar seolah mempertanyakan kebenarannya, Jessi menganggukkan kepala tanpa keraguan. Dirasa Flora sudah agak tenang dan bisa menerima fakta, Jessi menarik tangannya menjauh. "Udah dari lama, kok. Makanya gue gak pernah nanggepin Muthe, Flo. Kalo gue bales perasaan Muthe, udah pasti gue bakal dapet apapun yang gue mau atau gue harapin dari dia, tapi gue juga sadar kalau dia bukan orang yang gue mau. Muthe pantes dapetin orang yang bisa bales perjuangan dia juga, Flo, bukan yang malah ngemanfaatin perasaannya."
Flora tertegun. Meski mengejutkan, penjelasan Jessi entah bagaimana terasa seperti angin segar. Selama ini Flora pikir Jessi adalah cewek gila yang suka tebar pesona. Memang. Tapi Flora tak menyangka masih ada ruang di kepala Jessi untuk berpikir rasional. Atau justru Flora yang selama ini menganggap Jessi terlalu berlebihan sisi negatifnya? Bagaimana jika aslinya Jessi memang gadis baik? Bukankah selama ini dia tak pernah terindikasi melakukan tindakan yang berbahaya pada Flora?
Lantas, apakah pikiran-pikiran yang Flora bayangkan soal Jessi hanyalah bagian dari sisi defensifnya yang terlalu takut untuk membuka hati?
"Oi, malah bengong!" tegur Jessi mengguncang bahu Flora. Jessi lalu tersenyum miring. "Gue emang cakep, gak usah terpesona gitu dong," lanjutnya percaya diri sembari menggerakkan alisnya naik turun dengan tengil.
Flora melengos. "Gue cuma gak nyangka aja."
"Gak nyangka kalo gue ternyata secakep itu?"
"Soal Muthe sama Christy!" desis Flora tajam, tangannya tak luput memberi tabokan keras yang hanya dibalas Jessi dengan tawa.
"Jadi, gimana menurut lo?" tanya Jessi.
"Apanya?"
"Soal mereka berdua."
