6| Mendung

7.5K 678 29
                                        

Ibaratnya, rumah ini seperti taman rahasia. Setiap si cantik melangkah, para fauna akan bersorak riuh menyorotnya dengan lampu disko, sedang flora-flora bermekaran menguarkan aroma manis supaya nona manis tidak bete. Kabarnya sih, sekarang dia sedang berbadan dua. Di tengah mereka menerka-nerka tentang rupa calon kehidupan yang tumbuh di perut Wening, kabut gelap melingkupi tanpa diduga-duga.

Tidak biasanya kediaman itu kehilangan suaranya. Bahkan semut saja enggan berbuat onar. Makanan tersaji di meja mendadak dingin tak berasa. Meski Sri tak sampai kehilangan selera, ia tak bisa mempertontonkan aksinya mengisi perut sedang seisi rumah diselimuti kabut.

Sudah tiga minggu berlalu sejak jilatan api meluluhlantahkan seisi toko. Memang, masih ada yang tersisa, tapi tidak sebanding dengan kerugian yang menunggu diperhitungkan. Jangan tanyakan isi kepala Wening karena sudah pasti kacau. Memang sih, uang adalah musuh bebuyutannya.  Tapi, hidup melarat juga bukan bagian yang Wening sukai.

Lalu, apakah sekarang mereka jatuh miskin?

Wening sendiri enggan bertanya mengenai status ekonomi mereka sekarang. Karena, selain toko yang hancur, ada Birawa yang hidupnya seakan lebur. Kadang pulang dini hari, kadang gak pulang. Gimana sih, Birawa itu?

Wening takut mengusik. Bermanja-manja pun dia enggan.

Malam ini, sekali lagi dia melewatkan makan malamnya. Membaringkan diri di atas peraduan, dengan jiwa yang masih terjaga.

Sejujurnya ya, Wening tak tahu mau bereaksi apa. Marah? Pada siapa? Dan kenapa? Bahkan, setelah mengutak-atik relungnya, tidak sedikit pun ada kemarahan dalam dirinya.

Ya kenapa juga dia harus marah?

Karena toko suaminya terbakar?

Entah lah. Wening tahu seberapa keras Birawa mendedikasikan tenaga, waktu, dan hartanya untuk merintis usaha itu. Tapi, rasa-rasanya bukan ranah Wening untuk ikut marah, kacau, serba salah.

Hanya saja, terlalu jujur seolah semuanya baik-baik saja membuatnya merasa berdosa. Bagaimana ini?

Di atas dipan itu Wening terlentang menatap langit-langit. Suaminya sekarang sudah seperti Bang Toyib. Seingatnya, kemarin mau mengurus klaim asuransi. Tapi, entah bagaimana, dan seribet apa, lelaki itu jarang sekali menginjakkan kaki di rumah.

Seperti tahu sedang dipertanyakan, Si Tuan muncul dari balik pintu. Pandangannya memencar ke seluruh ruangan, memindai apa saja yang ada di sana.

"Mas dari mana?" Wening melingkupi perutnya saat mencoba bangun. Akhirnya, suaminya pulang juga. Dia bertanya-tanya, apa selama ini Birawa sudah jarang mandi? Kalau mandi di mana? Ah, tapi bajunya masih sama seperti yang terakhir kali dipakainya.

"Saya masih ada urusan, tidur lagi saja," Birawa melangkah menuju nakas, mencari sesuatu di sana.

"Mas nanti pergi lagi?" Wening menunggu respon suaminya, tetapi tampaknya si lelaki terlalu fokus dengan kegiatannya sendiri.

Menghela, Wening memilih mengalah. Entah kenapa di saat sekarang ini stok sabarnya malah banyak.

"Cari apa sih, Mas? Biar aku bantu," Wening berinisiatif mendekat, laci nakas diacak-acak, beberapa isinya sampai berjatuhan di lantai. Salahkan kebiasaan Wening menyimpan perintilan di dalam sana.

Wening berjongkok dengan hati-hati, memunguti benda yang dijatuhkan Birawa.

Saat dia kembali berdiri, Birawa sudah berbalik pergi.

Dia kerasukan jin apa gimana sih?

"Mas!" Wening mengerutkan kening. Mau kemana lagi lelaki itu tengah malam begini.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang