15 | Hak Milik

7.9K 525 42
                                        

Sore ini, Wening pulang langsung mandi, mengeringkan rambut, kemudian duduk di depan meja rias usang yang kakinya nyaris lapuk dimakan rayap. Amat kontras dengan catokan dua belas juta yang setara dengan tiga ekor kambing mahal. Jemari Wening mengetuk-ngetuk meja ala asmr. Perempuan itu memekik gemas sebelum menatap kembali pahatan bidadari jawa yang baru selesai mandi di saung dari balik kaca.

Wening menyingkirkan buku petunjuk hingga jatuh ke lantai, sementara di tangannya sudah ada alat styling rambut yang terasa sangat pas dan compact.

Kepulan asap tipis menjadi awal mula rambut acak-acakan Wening yang masih menguarkan bau shampo menjadi licin seperti rambut duta shampo. Setiap kali helai rambutnya yang sudah lurus jatuh ke pundak, Wening langsung mengangguk kecil seraya memuji diri di depan cermin yang—hanya berupa serpihan kaca bulat penuh sidik jari, lipstik dan bekas bedak yang ditempel di dinding dengan lakban.

Satu sisi selesai, Wening mengambil jepit kemudian meng-clip poninya sendiri. Rambutnya sudah tertata badai, sudah cocok jadi Kanjeng Mami. Tapi, Wening belum puas kalau wajahnya masih pucat, masih perlu polesan lain.

Perempuan itu meraih loose powder.

Tap! Tap! Tap!

Abu tipis dari bedak menyebar di udara. Wening mengambil kuas, memoles pipinya dengan perona merah muda. Jangan lupakan maskara yang dalam satu tarikan bisa bikin bulu matanya berdiri seperti sapu. Dan puncak dari segalanya, lipstik merah menyala dilapisi lip gloss yang membuatnya tampak juicy.

Wening mengatupkan bibirnya tiga kali, kemudian memonyongkan manja sambil berkedip genit di depan kaca.

Sempurna!

Perempuan itu berdiri, kemudian berputar seperti gasing hingga rambut dan roknya berkibar diterpa angin. Satu tangan di dada, satu tangan menangkup perut.

Cicak di belakang lemari sampai ikut berdecak heboh. Sudah seperti artis di film bollywood.

Karena terlalu banyak gaya, tiba-tiba kepala Wening pusing, nyaris limbung dan jatuh ke lantai kalau Birawa yang baru masuk tidak menangkap gajah mini itu.

"Aduh! Aduh! Pusing banget pusing!" Wening memegang kepalanya yang terasa pening. Pandangannya yang sempat kabur lantas jernih perlahan, dan wajah suaminya langsung muncul di detik berikutnya.

Wening memekik. "Mas! Kok kamu muncul pas banget? Kamu tahu aku mau jatuh?"

Birawa hanya menghela, menyentil jidat Wening dengan lembut. "Nanti jatuh Ning, bahaya,"

Wening menyengir, memeluk leher suaminya dengan genit. "Mas, aku cantik nggak?" Tanyanya seraya berkedip manja.

Birawa tersenyum tipis. Menyelipkan tangan di bawah lutut istrinya lantas mengangkat tubuh Wening dan berjalan menuju kasur. "Cantik,"

"Cantik atau cantik banget?"

"Cantik banget,"

Kaki Wening menendang-nendang udara dengan senang dalam gendongan Birawa. Tiba-tiba dia ingin kasurnya lebih jauh, biar lebih lama. "Mas, mau aku kasih hadiah?"

Birawa meletakkan tubuh Wening di atas peraduan dengan dirinya duduk di pinggir ranjang.

"Hadiah apa?"

"Sini," Wening meraih lengan besar Birawa, membuat pria itu membungkuk di atas Wening. Perempuan itu memonyongkan bibirnya lalu—

Cuppp!

Satu stempel mendarat di bibir Birawa.

Wening tertawa puas. "Ada lipstiknya!" Ujarnya geli.

Berbeda dengan Birawa yang masih diam menatap istrinya seperti ada sesuatu yang belum tuntas. Pandangannya jatuh ke wajah Wening yang dipoles seperti ondel-ondel yang mengherankannya malah cantik di mata Birawa. Sorot matanya berubah begitu melihat bibir mengkilat basah perempuan itu.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang