7| Rencana Melarat

7.3K 692 28
                                        

Rumah itu dulunya sederhana. Dibeli Birawa saat masih dicicil oleh pemilik lama. Lalu, olehnya dilanjutkan dilunasi dan direnovasi. Dirancang lebih luas lagi. Di lantai dua, ada empat kamar. Satu kamar utama, satu kamar kecil untuk ruang kerja Birawa, dan dua lainnya rencananya kelak akan menjadi kamar anak, sama-sama besar juga. Namun sekarang dibiarkan menjadi semacam gudang, ada sofa dan lemari lama yang bertumpuk di dalam sana.

Di lantai satu, ada tiga kamar. Satu kamar paling besar yang memang Birawa khususkan untuk ibunya yang sudah sepuh, supaya tidak perlu repot naik-turun tangga, satunya adalah kamar tamu, dan satunya lagi sekarang ditempati Sri, asisten rumah tangga mereka.

Sore ini Wening duduk di kusen jendela dengan secangkir teh melati yang masih mengepul di tangannya. Tirai linen beterbangan tertiup angin, tapi perempuan itu sama sekali tak merasa terganggu. Berbeda dengan Sri yang meringis takut majikannya itu jatuh terjungkal keluar.

Walau Wening tak seringkih itu, Sri tak bisa menahan arah pikirannya sendiri, maka dari itu ia memilih duduk di kursi.

"Bapak tadi pulang, Mbak," kali ini suaranya terdengar lebih kecil.

Wening menahan dengusannya. Membiarkan seruputan teh panas itu membasahi tenggorokannya. "Kamu sudah ulang itu berapa kali, Sri," desisnya.

"Mhh, mobil Bapak tapi agak penyok ih Mbak depannya. Apa emang udah gitu ya dari lama?"

Kening Wening terangkat kelewat santai. "Tadi badannya masih utuh kan?"

"Badan mobil apa badan Bapak?"

"Suamiku, Sri!" Wening tak bisa benar-benar menjadi wanita kalem selama Sri ada di dekatnya. Selalu membuatnya mengulang perkataan.

"Ya masih utuh lah Mbak, kan Bapak juga yang gotong Mbak ke atas," Sri menaik turunkan alisnya, "Udah baikan ya, Mbak?"

"Bukan urusan kamu," ketus Wening pada akhirnya. Kembali dia menyeruput sisa tehnya. Kalau terjadi apa-apa di luar sana, mestinya Birawa cerita. Tapi mungkin terlalu banyak, sampai Birawa tak tahu mau cerita yang mana.

Wening tak ingin ambil pusing. Selama suaminya masih ingat pulang, ya sudah. Menjadi istri cerewet juga melelahkan. Sok berempati padahal nyatanya tak mengerti juga bukan pribadi Wening.

Mereka sedang ditimpah masalah, itu saja. Wening tak ingin menambahkan lebih jauh.

"Aku kepikiran beli burung. Kenapa ya, suamiku gak ada niatan melihara burung? Kan enak tuh tiap sabtu minggu diikutin lomba manuk. Mana tahu dapat juara," celetuk Wening.

"Bapak mana ada waktu, Mbak?"

"Ya adalah, Sri. Nanti kalau dia lagi kerja, kamu aja yang ngasih makan. Terus kamu ajarin tuh berkicau yang panjang biar ikut lomba bisa menang,"

"Wah, jadi saya ceritanya berubah profesi jadi guru burung gitu, Mbak?" Sri berdecak. "Boleh sih tapi bayarnya mahal,"

Mendengar kata mahal sontak membuat Wening mengelus perutnya. "Jangan deng, aku gak ada duit buat nambah gajimu. Aku malah takut gak bisa gaji kamu,"

"Banyak begitu duit Bapak, Mbak,"

"Dih? Tahu dari mana? Aku aja sangsi dia punya simpanan sekarang," sewot Wening. Kembali dia mengelus perutnya.

"Gakpapa lah, nanti Ayah cari lagi Nak,"

***

Birawa sudah seperti maling di rumah sendiri. Pulang nyaris tanpa suara. Kuci berputar perlahan di lubang pintu, langkahnya terseret-seret. Mabuk dia?

Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Lampu-lampu sudah redup mencipta temaram. Tersisa lampu di koridor lantai dua yang menyorot sepotong tubuh perempuan berambut panjang yang menungging berpegang pada jeruji teralis.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang