21 | Hampa

6.2K 598 33
                                        

Sri bersenandung pelan sambil beresin dapur yang pecah akibat ledakan sambal cumi buatan Mami Wening. Bau pedasnya sampai ke teras belakang, bikin mata dan hidung siapa pun yang lewat rasanya ikut pedas.

Di teras belakang, Wening sudah menyerah pada kipas. Dua kipas tornado digeber dari dua arah, tapi tetap saja ibu hamil 8 bulan itu merasa ngos-ngosan kayak habis diajak lari maraton.

Demi konten.

Matahari sudah mulai tergelincir ke barat, dan Wening dengan pedenya menyenderkan tubuh seberat karung beras itu ke sosok lemah di belakangnya—ibu mertua, yang tengah duduk bersila di atas tikar anyam.

Pintu kaca sudah digeser. Angin sore ikut menepis hawa panas di tubuh Wening. Para ayam-ayam sudah muali berebut kandang, padahal matahari belum juga sepenuhnya tenggelam. Pantulan cahaya dari kolam ikan yang berisik berkilat sinis. Satu dua kelinci nyelonong dari balik rumpun pohon singkong, membuat Ibu sempat menoleh sebentar, lalu kembali fokus menyisir rambut menantunya pelan-pelan.

Wening memejamkan mata, kemudian merengek lagi.

Tangan keriput Ibu dia kerahkan membagi rambutnya. Lalu dia menoleh manja. "Bu, mau dikepang dua. Kayak gini,"

Tangannya naik ke kepala, membentuk dua tanduk setan. Ibu langsung menangkap maksudnya. Di balik senyum tipisnya, beliau kembali membagi helaian rambut hitam itu tanpa suara. Sementara bibirnya, sibuk mengucap dzikir.

Sejak kandungan Wening mendekati waktu-waktu persalinan dan Birawa mulai sibuk dengan bisnis barunya, Ibu dan Sri tidak lagi tinggal jauh-jauh di kota. Berhubung sekarang, rumah lawas Ibu juga sedang direnovasi. Sambil menunggu selesai, dan mengawasi Wening, Birawa meminta ibunya untuk tetap tinggal di sana.

"Alhamdulillah ya, Bu. Mas Birawa sekarang udah dapat kerja lagi. Meski harus bangkrut dulu, tokonya dibakar, ditipu hidup-hidup ... masih aja sabar kayak malaikat ngantuk." Wening menyeletuk, menoleh ke arah Ibu yang mengerjap, bibirnya bergerak tanpa suara, bertanya 'apa?'

Wening menggeleng, terkikik geli. "Gapapa, ibu cantik."

Ibu senyum lagi.

Ah! Gemas sekali. Tangan gembul Wening naik mencolek dagu Ibunya.

"Padahal ya, Bu. Wening udah rela kalau Mas Birawa cuman jadi petani padi setelah gagal jadi pengusaha." Wanita itu kembali berbicara, meski ia tahu Ibu juga nggak akan ngerti dia ngomong apa.

Tahu dia lagi ngomong aja ibu nggak tahu.

"Tapi ya ternyata rejeki itu luas, ya. Cuman soal waktu. Wening seneng lihat Mas Birawa sekarang semangat lagi. Kemarin ya Bu, Wening lihat dia mulai mangku-mangku diut segepok. Udah mulai nggak bisa lepas leptop."

"Lucu, ya? Dulu dia jualan baut, sekarang jual se lemari-lemarinya. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya hidupnya Mas Birawa nggak merosot turun level, tapi naik level."

Sri muncul menyajikan pisang goreng.

"Berarti gajiku naik dong, Mbak." Sosornya.

Wening yang tadinya nyender manja langsung memekakkan mata. Tatapannya nyaris kayak laser.

"Enak aja! Kamu suka banget ya malakin aku,"

Sri terkikik geli, menyajikan teh hangat untuk Ibu. Senang sekali mengganggu Wening.

"Kan biar rejekinya makin lancar, Mbak."

Wening mencibir. Tangan gembulnya mengelus perut yang sedikit tegang. "Emang kemarin bonus dari Mas Birawa masih kurang? Ditambahin kan kemarin waktu ngurus Ibu?"

"Itu kan dari Bapak, Mbak,"

"Emang tamak ya kamu Sri!" Wening melempar gumpalan kertas bekas kipas-kipas ke arah pembantunya itu.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang