Sejak dulu rumah itu sudah berdiri kokoh dan disegani. Terletak tepat di sudut desa menghadap jalan utama yang membelah area permukiman dan ladang. Dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya, rumah Haji Marsudi termasuk yang paling megah dan rapi. Tipikal rumah-rumah jaman dulu. Tampak luarnya, menggunakan dinding setengah tembok yang dipadu kayu jati dengan finishing alami. Atapnya menggunakan limasan klasik berlapis genteng pres tanah liat, dengan bubungan yang dibubuhi ukiran kecil khas yang menunjukkan warisan arsitektur dari masa lampau.
Terasnya sendiri dinaungi oleh langit-langit tinggi dan ditopang empat tiang besar dari kayu yang dipelitur. Berlantaikan ubin semen berkilau, bersih dan dingin saat diinjak. Dua kursi rotan tua diposisikan di sudut, tempat biasanya Paklik duduk ngopi sambil memikirkan rencana kedepannya.
Rencana licik!
Iya. Wening heran, kenapa ada orang tua kolot yang punya permainan licik seperti ini. Pakdhe Marsudi adalah adik dari mertuanya—ayahnya ayang beb—yang entah kenapa tiba-tiba mengaku-ngaku sebagai pemilik tanah warisan ayah mertua. Dari yang Wening tahu, sebelum mereka membangun rumah, tanah sawah itu adalah peninggalan kakeknya Birawa yang kemudian diwariskan lagi untuk Ayah Birawa, dan sebelum wafat diwariskan menjadi tiga bagian ke tiga anaknya. Dari enam hektar lebih, dipecah tiga. Kurang lebih, milik Mbak Gendhis dan Ihsan sudah dijual ke orang lain. Yang Birawa bangun sekarang, adalah warisan bagiannya yang memang sejak awal tidak dijual.
Dan lagi, memang selama ini tanah itu tidak memiliki sertifikat. Tanah seluas dua hektar itu, dulunya hanya ditanami sebagain oleh Ayah mertua. Tidak disertifikat karena saat itu, administrasi tanah belum terlalu jelas. Tapi semua orang desa utamanya orang-orang tua yang sudah sepuh jelas tahu bahwa tanah itu milik Ayah Biwara. Setelah ayah wafat, Birawa tidak pernah terpikir untuk mengurus tanah bagiannya. Dia lebih memilih merantau dan membangun hidup di tanah orang ketimbang mengolah tanah sendiri.
Maka tanah itu Paklik Marsudi pinjam. Mau dikelola katanya. Beliau juga pernah bilang, "Tanah itu biar diurus Paklik,". Sampai anaknya pun—Mas Haris—ikut menggarap.
Bertahun-tahun kemudian, mungkin karena betah, atau karena melihat nilainya, atau karena licik, tiba-tiba saja tanah itu dikuasai tidak hanya fisik tapi juga administratif. Bahkan, sekarang malah diiming-imingkan akan diwariskan ke Mas Haris.
Apa nggak gila?
Wening duduk di beranda teras, disuguhkan kopi oleh Masya—istri Mas Haris— yang tersenyum sok ramah. Sementara Birawa, sedang di teras samping, bertemu Pakliknya dengan niat membicarakan status tanahnya, masih dengan kaos dalam dan sarung kesayangan. Becak listrik yang dibeli Birawa diparkirkan di depan garasi tua beratapkan seng, yang diisi oleh mobil lawas penuh debu milik Paklik.
"Sudah berapa bulan, Mbak?"
"Enam bulan," Wening duduk memeluk perutnya dengan anggun. Jujur saja dia belum gosok gigi dan cuci muka tapi Birawa sudah langsung membawanya ke sini. Kalau tahu Masya masih tinggal di rumah mertua, mestinya Wening berdandan cetar dulu. Bukan malah dasteran begini!
"Waduh, bentar lagi tujuh bulanan dong, Mbak," Masya mengangsurkan setoples camilan yang sama seklai tidak dilirik Wening.
"Alhamdulillah, doakan saja," jawab Wening setengah sarkas.
"Omong-omong Mbak," Masya mencondongkan tubuh. "Mas Birawa ke sini mau bahas tanah, Mbak?"
Telinga Wening panas sekali dipanggil Mbak. Dia benci! Karena yang benar saja! Masya itu kakak kelas Wening dulu!
Memangnya Wening setua itu dipanggil Mbak?
"Iya, mau menanyakan kejelasan tanah," Wening mengangkat alis. "Jadi ini tho yang Mbak Masya maksud supaya ngomong dulu ke suamimu?"
