10 | Calon Saingan

7.7K 609 19
                                        

Klinik itu memang tidak mewah dengan berinteriorkan marmer apalagi lampu gantung kristal yang harganya puluhan juta. Meski begitu, klinik kandungan tempat Wening memeriksakan kandungannya sudah terkenal sejak jaman dulu, selalu ramai dan menjadi kepercayaan pasien. Ada yang datang dengan harap-harap cemas, ada yang penuh gelisah, ada yang bahagia, ada pula yang pasrah.

Siang itu, ruang tunggu dipenuhi berbagai jenis calon ibu dengan ukuran perut yang beragam dan ekspresi yang penuh makna. Wening duduk di paling ujung, nyaris tidak kebagian tempat. Perempuan itu meremas tisu yang dia cabut dari mobil, sesekali pandangannya melirik sekeliling. Bukan mau julid, ya, dia hanya bosan saja. Mana tahu, kan, manusia-manusia itu bisa memberinya sedikit hiburan?

Di sebelah dispenser yang terletak tepat di ujung lorong, seorang wanita paruh baya dengan perut yang mencuat duduk menjulurkan kaki. Tampaknya sih, dia sudah kepala empat. Di sebelahnya, seorang anak perempuan yang mungkin anaknya, menatap layar ponsel dengan lagu Blackpink yang sayup-sayup terdengar. Pakaiannya, masih berseragam SMA. Jadi, Wening taksir perbedaan usianya dan adiknya tujuh belas atau delapan belas tahun.

Beda generasi ya?

Tepat di seberang gadis itu, duduk pasangan muda yang saling menghimpit padahal kursi tidak begitu sempit. Masih ada space. Tangan suaminya tidak lepas dari perut istrinya, mengelus-elus mesra sampai Wening iri dibuatnya.

Di sisi lain, persis di depan Wening, duduk seorang remaja dengan sweater yang sudah lusuh. Gadis itu menunduk seolah terpuruk. Apakah dunia baru saja jatuh menimpanya? Tepat di sebelah gadis itu, ada seorang ibu yang sibuk mengisi formulir dan sesekali menyenggol bahu putrinya. Wening tersenyum tipis, pasti Ibunya cerewet. Tampak mulutnya komat-kamit sendiri.

"Jangan bengong kamu, nanti bingung kalau ditanya dokter,"

"Iya,"

"Iya-iya aja!"

Wening menutup mulut, menghalau senyum geli yang nyaris terpancar di wajahnya kala tak sengaja mendengar obrolan ibu dan anak itu. Merasa pegal, Wening mulai meluruskan pinggangnya. Perutnya sekarang makin bulat saja, Wening juga sudah mirip gajah mini.

Wening menguap lebar.

"Ngantuk?" Birawa duduk di sebelah istrinya, baru kembali dari meja pendaftaran.

Wening mengangguk kecil, memepet suaminya, tak mau kalah dengan pasangan baru di ujung lorong itu. "Mas,"

"Hm?" Gumam Birawa, memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Aku cantik, nggak?" Tanya Wening genit. Matanya dia kedipkan berkali-kali, berharap suaminya klepek-klepek.

Birawa terkekeh, "Cantik, Ning,"

Wening menggeleng. Jepitan kuromi di rambutnya sampai terguncang. "Bukan gitu jawabnya,"

Birawa meraih tangan istrinya, menggenggamnya hangat. "Terus bagaimana?"

"Cantik ... Sayang," ucap Wening.

Sontak saja, Birawa tergelak. Wening itu, ya? Ada-ada saja!

"Cepetan diulang," Wening menyandarkan kepalanya di bahu Birawa, seolah sudah tidak kuat menahan beban badan sendiri. Suka begitu ya, kalau sudah ada pasangan? Tiba-tiba lemas tak berdaya.

Birawa mengelus pipi gembul istrinya. "Cantik, sayang,"

Wening mengulum senyum malu-malu. "Kamu sayang aku, kan?"

"Sayang,"

"Kalau anakmu cewek, aku disayang nomor berapa?"

"Nomor berapa, maksudnya?" Tanya Birawa tak paham.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang