Kamar tidur itu seperti baru saja dijatuhi bom. Bom berisi perlengkapan bayi benuansa pastel yang bersimbah aroma parfum laundry mahal. Dan di tengah kekacauan itu, gajah mini kita duduk bersandar pada tumpukan bantal angsa di kepala ranjang. Kakinya yang bengkak diluruskan, sedang tangannya sibuk memegang sebuah romper bayi berwarna hijau sage.
"Mas, lihat deh. Ini nanti kalau dipakein topi kupluk yang krem pasti bakal lucu banget nggak sih?" Wening menyahut, memiringkan kepala sambil membayangkan princess kecil mereka memakai outfit itu.
"Buat outfit pulang dari rumah sakit nanti, fix pakai yang ini aja, ya. Jangan yang kuning. Norak, nggak earth tone."
Birawa di lantai tampak bersimpuh di hadapan tiga koper besar yang terbuka lebar. Sudah seperti mau pindahan. Badannya tampak terlalu besar untuk kegiatan melipat bayi yang ukurannya tak lebih besar dari telapak tangannya.
Namun, jari-jari kasar yang belakangan mulai berteman dengan cangkul, palu, dan pahat kayu itu bergerak dengan kelembutan yang tidak bisa ditakar. Dilipatnya kain-kain kecil itu dengan presisi.
Sudut ketemu sudut.
Garis ketemu garis.
"Saya sudah masukkan yang hijau, Ning," jawab Birawa tanpa menoleh. Pria itu menyelipkan satu set sarung tangan bayi di sela-sela tumpukan baju dengan rapi. "Yang kuning sudah saya sisihkan di tas cadangan. Ndak masuk koper utama."
Wening tersenyum puas, melempar pelan romper di tangannya ke arah koper yang menganga di sebelah Birawa. "Awas, Mas!"
Birawa menangkap lemparan itu dengan satu tangan. Kembali melipatnya ulang karena lemparan Wening membuat lipatannya jadi berantakan.
"Oh iya, stroller yang travel size udah masuk mobil, kan Mas? Inget lho. Nanti kelupaan. Aku nggak mau gendong-gendong, nanti kan jahitan aku masih basah." Cerocos Wening lagi seraya mengubah posisi duduknya. Perutnya yang besar membuatnya serba salah tingkah.
Bergerak sedikit, engap.
Diam saja, pegal.
"Sudah, Ning. Tadi pagi saya masukkan di bagasi. Bensin juga penuh. E-toll sudah saya isi." Lapor Birawa. Ia menutup resleting koper pertama.
Satu tugas selesai.
Wening menatap suaminya yang sekarang beralih merapikan toiletries bag.
"Ada lagi yang mau diisi? Mumpung kopernya belum saya tutup." Tanya Birawa.
Wening menghela napas panjang, mengubah posisi duduknya yang memulai terasa tidak nyaman. Pinggangnya terasa panas, seperti ada yang menarik-narik ototnya dari dalam. Tapi ia menepis rasa itu.
Paling hanya pegal biasa karena kelamaan duduk.
"Nggak ada, sih. Eh, skincare aku! Mas udah masukin pouch yang putih belum? Jangan ketinggalan, itu penting banget. Nanti muka aku kusam pas difoto nanti."
Birawa tersenyum tipis. Tangannya cekatan mengecek kompartemen jaring di bagian atas koper. "Sudah. Ada di saku depan. Charger hp, kamera, tablet, dompet, semua sudah masuk tas tangan. Besok pagi kita tinggal jalan."
"Habis subuh ya, Mas. Aku nggak mau kena macet di perbatasan kota." Wening mengingatkan lagi untuk kelima kalinya dalam satu jam terakhir.
"Pokoknya sampai sana aku mau langsung makan bubur ayam yang di alun-alun itu. Kamu harus antrein,"
"Iya." Sahut Birawa.
Senyum Wening merekah. Sebab, jika Birawa sudah bilang iya, maka gunung pun akan ia daki demi bubur ayam itu.
