Vote dulu yuk ...
Wening berdiri di depan kulkas seraya memperhatikan isinya dengan sorot kurang selera. Sejak memutuskan untuk migrasi ke desa, Birawa banyak membeli barang-barang baru yang akan mereka perlukan. Kulkas, salah satunya. TV yang hanya Wening nyalakan jika tiba-tiba merasa terlalu hening di dalam rumah, dan AC yang selalu on di kamar sebab semenjak hamil Wening gampang kepanasan.
"Saya pulang!" Birawa tersenyum lebar menenteng kresek penuh belanjaannya dari pasar. Wening lantas menutup kulkas, menyambut suaminya. Perempuan itu melangkah cepat menubruk tubuh Birawa, meyusupkan kedua tangan di pinggang lelaki itu.
"Mas dari mana? Kok aku bangun-bangun udah ditinggal?" Tanya Wening cemberut, kepalanya mendongak menatap suaminya.
Birawa meringis, tangannya dia rentangkan karena masih memegang dua kresek merah. "Maaf, Ning. Saya tadi ke pasar,"
Wening berinjak di masing-masing kaki suaminya, lantas memeluk erat saat Birawa akhirnya melangkah dengan beban yang luar biasa menempel di badannya. Perut istrinya yang menonjol terasa mengganjal di tengah-tengah mereka. Diletakkannya kresek-kresek besar itu di atas meja, satu tangannya yang sudah bebas kemudian melindungi bokong Wening supaya tidak terbentur di ujung meja. "Saya tadi ngejar penjual ayam, Ning,"
"Ayam?"
Birawa tersenyum kemudian mengangguk. "Saya beli ayam,"
"Buat apa? Di kulkas masih ada ayam," Wening mengarjap polos.
"Sambil duduk, ya," Birawa menarik kursi, kemudian dengan sigap mengangkat istrinya yang manja luar biasa itu ke gendongan, sebelum akhirnya mendaratkan bokongnya pada kursi kayu. "Kamu ingat, kan saya pernah bilang mau pelihara ayam supaya kita mandiri pangan?"
Wening mengangguk.
"Nah, saya sudah beli ayamnya tadi. Ada ayam pertelur lima ekor, ada ayam jantan juga dua, ayam betinanya juga dua."
"Mas beli ayam hidup?"
"Iya,"
"Buat dipelihara?"
"Iya,"
"Mana?"
"Ada di luar, masih diikat,"
Wening ternganga. "Mas serius beli ayam hidup?"
"Iya, Ning," Birawa mencium pelipis istrinya gemas. "Nanti ayamnya bisa bertelur setiap hari Ning,"
Mata Wening kontan memicing. "Emang ada ayam kayak gitu?"
"Ada. Telur yang tiap hari kamu makan kan dari ayam yang seperti itu,"
"Mas mau jadi penjual terlur?"
Birawa tergelak. "Bukan begitu. Maksud saya, kalau nanti rumah kita sudah jadi, saya sekalian mau buat kandang. Biar bisa memelihara ayam. Jadi, kita bisa produksi telur sendiri. Ayam juga. Bahkan, kalau semua sudah mulai settle, kita bisa tambah kolam ikan buat memelihara nila,"
Ketika memutuskan untuk hidup di desa, Birawa sudah mematangkan konsepnya. Mulai dari sumber protein, karbohidrat, serat dan vitamin, semua dia pikirkan agar mereka tak bosan dan selalu ada kegiatan. Ini memang keputusan yang kedengarannya buru-buru, tapi bagi Birawa, dia siap kalau memang harus menata hidupnya dari garis awal lagi.
"Jadi, aku bisa panen telur?" Celetuk Wening.
"Bisa,"
"Berapa? Banyak?"
"Banyak," Birawa mencubit pipi chubby Wening sampai wanita itu meringis memukul tangan suaminya. "Sakit tahu!"
"Pipimu makin kenyal, Ning," Kekeh Birawa.
