9| Tiba-Tiba Curhat

6.8K 681 14
                                        

Suara mobil berderu pelan, perlahan meninggalkan pekarang dengan mulus. Birawa menghela berat. Pagi ini, mobil putih yang biasa terpajang di carport rumahnya akhirnya beralih tangan juga. Kalau bukan karena desakan Wening, Birawa sebenarnya enggan.

Masalah toko sudah beres. Birawa sudah tutup buku. Uangnya memang tidak ludes, tabungannya masih sisa. Namun, istrinya itu, terlalu gelisah seolah dunia akan runtuh kalau tidak menjual mobil. Hari ini, satu mobil terjual. Entah besok apa lagi yang akan diributkan Wening.

"Eh, itu beneran mobilnya dijual?" Bu Veve memasukkan seikat buncis dalam plastik bening. Belanja sayur pagi ini, diwarnai kehebohan para ibu-ibu tetangga Wening yang dari jauh memperhatikan seperti elang.

"Kayaknya beneran sih, Bu. Lha soalnya kemarin saya lihat orang bawa map gitu, terus nggak pake lama langsung test drive di sekitar lapangan komplek, ada Mas Birawa juga," Beber Bu Winda. Mereka sudah tak fokus memilih sayur, melainkan sibuk memata-matai rumah Wening. Kira-kira setelah mobil, apalagi ya yang dijual?

"Kasihan ya," Bu Asri berseru prihatin. "Padahal kan, itu mobil baru ya?"

"Alah, Bu. Mobilnya masih banyak itu," Bu Veve berdecak.

"Ya tapi kan, tahu sendiri. Lagi susah. Mas Birawa itu kan tokonya kemarin kena musibah. Saya dengar-dengar ya, katanya asuransinya bodong," bisik Bu Asri.

Bu Veve dan Bu Winda menutup mulut, diam sebentar, mendramatisir. "Beneran, Bu?"

"Ya nggak tahu, saya juga denger itu dari orang," Bu Asri mengedikkan bahu. "Bang, kembaliannya ganti tomat aja,"

Bu Winda mencondongkan tubuh, seolah menyimpan informasi lain yang sebenarnya hanya kejulidan belaka. "Tapi kok modelan Mbak Wening masih gitu?"

"Gitu gimana?" Tanya Bu Veve.

"Ya masih modis. Maksud saya, kan bisa ngerti kondisi. Kemarin lho saya lihat dia masih ikut arisan emas yang sama Pak Lurah itu,"

"Ya mungkin dia tipe istri yang nggak mau tahu kali bu!"

"Kasihan ya, Mas Birawa,"

Sementara di dalam rumah, Wening sibuk menopang dagu di balik tirai. "Berisik banget ya, tuh Ibu-Ibu. Di depanku aja sok baik, giliran di belakang kayak belatung. Nggak bisa diem," sewotnya.

Sri melipat bibir, enggan menanggapi, memilih menyapu remahan roti di atas meja makan.

Wening menyibak tirai dengan kasar, lalu berbalik ke meja makan, duduk dengan mengibaskan rambutnya. "Lagian kenapa mereka yang berisik sih? Itu juga asuransi, tahu dari mana coba? Emang, kamu tahu Sri?"

Sri menunduk, "Hehe, saya gak sengaja denger, Mbak,"

"Tapi kok mereka tahu? Kamu yang kasih tahu?" Tanya Wening galak.

Sri mengusap tengkuk, "Anu ... Mbak, waktu belanja ke warung, saya nggak sengaja—

"Oh! Jadi kamu dalangnya? Tega kamu Sri!" Wening menggebrak meja dramatis, bertepatan dengan Birawa yang turun ke dapur.

"Ning? Kenapa?" Tanya lelaki itu.

"Nggakpapa!"

"Kok marah?"

"Aku nggak marah!"

Birawa mengangkat alis, kemudian mendekat. Mengusap pipi istrinya lembut. Merasa aman dari amukan, Sri segera beranjak dari sana.

"Saya berangkat dulu, ya?" Pamit Birawa, sudah berpakaian rapi.

"Mau ke mana?" Wening membalikkan tubuh, mode manjanya mulai kelihatan. "Ke toko lagi? Alah, kan aku udah bilang nggak usah ke sana dulu, nanti suruh orang aja buat beres-beres.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang