"Hgggrrrr ... dingiiiin Mas ..." Wening meringins kaku, bahunya otomatis naik turun tiap kali air disiramkan ke punggungnya. Gajah mini kita itu sekarang meringkuk di dalam balutan jarik dan roncean melati sambil melotot protes ke arah suami yang setia mendampingi. Antara ingin menghindar dan juga pasrah diguyur air kembang.
"Sabar ... sebentar lagi selesai." Birawa berujar menyentuh punggung istrinya.
"Masih lama nggak? Hrgghh ..." Wening memejamkan mata, giginya bergemeletuk. Sementara ibu-ibu yang duduk di depannya cekikikan geli melihat ekspresi lucu Wening.
"Aku keburu beku, Mas ..."
Birawa tersenyum tipis. "Ndak lama ..."
Wening memeluk dirinya, terpaksa senyum di depan kamera yang meliput prosesi ini. Ketika giliran Paklik Wening yang menyiram, Wening rasanya ingin langsung angkat kaki dari sana. Dia benar-benar diguyur habis.
"Alon-alon Paklik hughhh," Wening mengerang kaku, tubuhnya bergetar sambil setengah menunduk. Air kembang meluncur dari bahu sampai ke betis, dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Ibu-ibu di barisan depan makin heboh menertawakannya, beberapa menutup mulut dengan selendang. Geli melihat gaya Wening yang sudah mirip anak kecil dipaksa mandi pagi.
"Mas ... mereka ngetawain aku ih ... emang aku jelek ya?" Wening mendongak ke arah suaminya, kakinya dihentak-hentakkan ke depan, tidak terima.
"Cantik ..." balas Birawa.
"Bulu mata aku lepas Mas ..." Wening menunduk gelisah, merasa ada sesuatu yang ganjil di wajahnya.
"Ndak pakai juga tetep ayu,"
"Hallah. Bilang aja kamu juga mau ketawa!"
Benar saja, Birawa langsung tertawa ringan. "Saya tertawa karna kamu lucu."
"Tuh kannnn! Ngambek aku, Mas!"
"Senyum sama kamera, jangan manyun."
Wening menatap kameramen yang lalu lalang membidiknya dengan sengit. Alih-alih manut senyum, gajah mini itu justru memeletkan lidah, semakin memancing ibu-ibu di bangku depan untuk menertawakannya.
Sekarang, Wening makin yakin kalau ada yang salah dengannya. Padahal, dia sudah berusaha tampil paripurna pagi ini, berharap mendapat pujian atau paling tidak bisa bikin tetangga pangling. Wening juga makeup sendiri, tidak pakai jasa rias sama sekali. Atau mungkin mereka tertawa karena kakinya yang bengkak seperti gajah beneran?
Wening manyun, menunduk pelan. Kakinya yang kini mirip tahu bulat mengintip malu-malu dari balik kain jarik. Memang bengkak, entah harus bagaimana lagi mendeskripsikannya, yang jelas, bengkak. Seketika dadanya terasa mencelus, bibirnya terlipat ke bawah. Apa hanya dia ibu hamil di dunia ini yang kakinya bengkak seperti gajah?
Kalau tidak, lantas kenapa dirinya ditertawakan demikian seolah itu adalah hal yang tidak biasa? Atau jangan-jangan mereka menertawakan hidungnya yang mekar ini?
Wening menggigil kecil sambil meratapi nasib.
Setelah penantian beberapa abad, prosesi siraman akhirnya selesai. Tubuh basah Wening buru-buru dibalut kain kering. Dia terus manyun mengikuti beberapa prosesi selanjutnya.
Sampai tiba-tiba, perutnya keroncongan.
Dia lapar.
Ini semua gara-gara makeup-an dari subuh dan nggak sempat sarapan apa pun sebab dia sibuk meratapi hidungnya yang ikutan mekar, yang mana harus benar-benar di-shading.
Matanya otomatis terpaku ke meja panjang di teras rumah. Di sana, tumpeng megah menjulang tinggi dengan nasi yang entah sejak kapan semenggoda ini, ayam panggang cokelat yang baunya menguar kemana-mana, telur balado, sambal goreng ati, sampai urap-urapan yang memanggil-manggil sejak tadi.
