18| Semangat Baru

8.3K 602 43
                                        

Darto sudah berkokok tiga kali, sementara si Ines dan si Salsa sibuk mematuk-matuk sayap satu sama lain memperebutkan wilayah bertelur. Ayam-ayam lainnya sudah pasrah mencari cacing di tanah, sedang matahari sudah cukup naik menyingkap kabut yang tebal pagi itu.

Sayangnya, si pemilik rumah tak satupun ada yang keluar. Mereka sibuk bercocok tanam di atas dipan. Selimut sudah melorot ke pinggang, seprai linen sudah tertarik sana-sini, kusut. Tidak ada yang menaruh peduli. Sebab Birawa sendiri asik menanam benih cintanya dari belakang, dalam posisi yang katanya sih disarankan dokter kandungan Wening.

Wening, yang tubuhnya kini menyasuaikan dengan guncangan lembut Birawa, hanya mampu menggigit ujung bantal sambil mencoba tidak tertawa melihat ayam-ayam di balik jendela kaca besar yang uring-uringan mencari makan. Dari belakang, tubuh Birawa menempel penuh pada punggung istrinya. Kulit ke kulit, paha ke paha. Napasnya menerpa tengkuk Wening, naik turun mengikuti gerakan pinggulnya yang menghentak mantap dan teratur.

Tangan kekarnya memeluk perut Wening yang membulat, menahan agar tubuh istrinya tidak bergeser. Pinggulnya, yang sejak tadi sudah menemukan porosnya, mengayun dalam irama yang menolak diinterupsi bahkan oleh ayam sekalipun.

Karena idealnya, sebelum ayam-ayam itu sarapan, Tuannya harus sudah kenyang terlebih dulu.

Wening menggigit bibir bawah. Matanya setengah terbuka, napasnya pendek, mulai terengah, mengalir bersama lirih yang terselip di tengah bibirnya.

"Mmhh ..." lenguhnya manja.

Tangan kiri Birawa menyusuri sisi tubuhnya, mengusap lekuk pinggang dan punggung Wening. Pahanya menahan lutut istrinya, membuka lebih lebar sementara Wening tersentak kecil saat satu gerakan lebih dalam menghantam titik paling sensitifnya. Lehernya menegang, desahannya keluar seiring gerakan intens Birawa.

"Ahh ..."

Birawa memperlambat ayunannya, mencuri satu ciuman di pundak Wening.

Di luar, si Darto—ayam jantan Birawa—mendongak ke langit yang nampak pucat, sebelum kembali mengabarkan fajar dengan suara yang makin menggelegar, seolah ingin menandingi irama di balik dinding kayu kamar itu.

Sayangnya, sepasang manusia yang tengah mencipta peluh itu masih enggan beranjak. Bahkan sekedar mengendurkan gerakan saja tidak. Tangan kekar Birawa masih tertambat di tubuh isrtinya, menahan erat pinggang yang telah kehilangan lekuknya karena kehamilan wening sudah memasuki minggu ke-26. Setiap ayunannya menghantam perlahan, memancing suara lirih-lirih manja nyonya besar kita.

Kasur berderak, seolah ikut tunduk pada kuasa Birawa. Desahan Wening menggulungnya bak ombak kecil. Gerakan Birawa makin dalam, makin teratur. Pria itu menunduk, mengecup bahu Wening dari belakang. Matanya terpejam meresapi luapan rasa yang tumpah ruah. Napas keduanya menggelegak dalam diam.

Wening menggeliat pasrah. Desahan demi desahannya membuat udara dalam kamar bersemu, berhamburan mencari tempat persembunyian saking malunya.

"Mas ..."

Kain yang tersingkap tak lagi mampu menyembunyikan gemetar lutut dan lengkungan yang melebur. Hingga ketika ayunan itu semakin tak terkendali, tenggorokan Wening rasanya tercekat.

"Hnnghh ..."

Geraman Birawa menyusul, rendah, menyesap di bawah telinganya.

Wening mulai merengek. "Nghh! Mas ... aku ugh!" Nyatanya kalimat itu patah di lidah sebelum sempat dikuluarkan dengan sempurna.

Birawa mencium pelipis istrinya dari samping sedang pinggulnya terus menghentak membawa mereka pada puncak fatamorgana yang mampu melemaskan tulang-tulang.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang