17 | Rumah Baru

6.7K 577 66
                                        

Rencana slow living Wening akhirnya terealisasi, meski harus deal dengan banyak drama. Termasuk drama keluarga. Entahlah, apakah orang yang merebut hak-hakmu di saat seharusnya mereka membantumu—pantas disebut keluarga? Karena yang Wening lihat, setelah musyawarah dengan aparat desa kemarin malam, Paklik Marsudi sama sekali tidak merasa bersalah. Beliau bahkan menantang untuk berbicara langsung dengan Ibu Birawa yang semakin membuat Birawa geram. Ibunya sudah terlalu tua untuk dihadapkan masalah pellik.

Birawa sudah membawa bukti-bukti yang kuat untuk melakukan gugatan, dan pihak desa juga menyadari ada yang salah dengan proses penetapan sertifikat tanah dua hektar itu. Karena waktu itu pengukuran dilakukan secara masal karena merupakan salah satu program desa gratis, maka tidak ada pemeriksaan lebih lanjut yang mendetail perihal penelusuran ahli waris. Apalagi yang mengklaim tanah itu adalah keluarga sendiri—paman Birawa yang mana dalam catatan desa, tanah itu masih atas nama kakek Birawa, ayah tirinya Paklik. Jadi amat wajar jika Desa sampai keliru dibuat.

Saat ini, desa menyarankan untuk musyawarah bersama keluarga terlebih dahulu. Karena masalah ini, tidak hanya menyangkut sertifikat tanah, tapi berbuntut panjang pada Bank juga yang menyimpan sertifikat itu sebagai agunan.

Terlepas dari itu semua, Birawa tetap bersikukuh mengisi rumah barunya. Sejak kemarin mereka sudah memindahkan barang, meski menyadari bahwa tetangga sekitar ikut menyoroti mereka. Tidak ada yang tahu masalah yang sebenarnya, dan salah Birawa juga karena sejak awal, harusnya dia peduli tentang legalitas hukum tanah ini. Bahkan pakliknya yang licik itu saja lebih maju pikirannya dalam menilai sebuah warisan ketimbang Birawa.

Birawa masih menghindari untuk menempuh jalur hukum. Karena bagaimana pun, yang tergugat adalah pamannya sendiri. Apalagi, sejak awal Birawa memang tidak senang memperpanjang masalah. Seperti kasus agen asuransi kemarin, yang Birawa tinggalkan meski sebenarnya dia bisa saja menuntut seperti korban lainnya. Padahal kalau dihitung-hitung, nilai kerugiannya ya sebelas dua belas dengan nilai kerugian kalau Birawa kehilangan tanah warisan ini.

Birawa hanya berharap Pakliknya mau berbesar hati untuk menyelesaikan secara kekeluargaan.

Kalau beliau masih punya hati, karena biasanya, kalau sudah menyangkut materi, manusia sering lupa diri.

Pagi sekali, Birawa bangun dengan tak sabar. Membawa perkakasnya ke halaman belakang rumah yang rencananya akan menjadi mini garden untuk menanam sayur-sayuran, beberapa pohon buah, dan juga kandang ayam. Sebenarnya Birawa juga berencana memelihara bebek dan kambing. Namun, dia masih fokus mempelajari dulu.

Pria itu berjongkok di bawah terik pagi, memaku papan kandang ayam yang baru setengah jadi. Peluh bersimbah di pelipis, turun membasahi kaosnya. Palu dan paku berserakan, tidak jarang juga jarinya diketok sendiri. Tapi Birawa tak memekik manja seperti istrinya. Seolah itu sudah menjadi makanan sehari-hari.

Gemersik rumput yang diinjak terdengar garing, Wening—si gajah mini kita—menggendong dedak dalam ember kecil dengan perut bulatnya yang semakin hari semakin membusung. Baru muncul saja ayam-ayam Birawa sudah mengepakkan sayap dan berlarian menghampiri, terbang ke arahnya. Kalau mereka bisa bicara, mungkin sudah berteriak, "Mami! Mami!"

"Iya! Iya! Sabar dong sabar! Salsa, jangan patuk kakiku, awas ya kamu," sekarang ayam-ayam itu punya nama.

Salsa, si ayam petelur yang sok jual mahal, kerjaannya setiap hari selalu membuat rusuh, sudah begitu selalu rebutan tempat bertelur temannya. Galak pula!

Rara, si ayam petelur yang hobi menyendiri, tapi telurnya paling banyak. Mungkin, karena dia nggak bung-buang energi buat berkokok alias ngerumpi kayak si Mimin. Iya, Mimin, ayam petelur Birawa yang paling suka bertengger di atas pagar kayu sambil ngoceh kalau ada orang lewat.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang