Harusnya Wening tidak usah sok ide tinggal di desa saat mentalnya masih mental wanita metropolitan yang kalau ada apa-apa tinggal teriak, "Sriii!" Bahkan saat melihat tokek sekalipun.
Ya, Wening sedang membuat susu saat sesuatu berbunyi di dapur. Dia sudah curiga sejak pertama kali tiba di rumah lawas ini. Karena sangat tidak mungkin rumah yang sudah lumayan lama ditinggal—tidak menjadi sarang binatang melata. Dan benar saja, ketika Wening memeriksa dengan sapu di tangan, seekor tokek seukuran lengannya bersembunyi tepat di belakang lemari piring.
"Huh! Apa aku bilang! Kamu sembunyi di sana, kan?" Wening mengulurkan sapunya, memukul ekor tokek seraya berteriak. "Rasain! Rasain! Minggir dari rumah ini!"
Tapi Wening bukan cicak yang bisa merayap sampai ke atas. Karena ketika tokek itu dipukul, binatang itu langsung memanjat ke atas, melarikan diri melalui lubang ventilasi. Ya, gimana ya? Nggak ada entitas yang mau dipukul mati begitu saja. Binatang sekalipun, mereka juga cari hidup.
"Ewh! Jorok banget!" Wening terdiam, masih mengintip di belakang lemari yang ternyata menempel telur-telur tokek. Sungguh, itu pemandangan yang menggelikan dan tidak pernah dia lihat.
Sapunya terjulur, hendak menumpas bakal-bakal tokek itu hingga ke akar akarnya. Namun, nyatanya niat buruknya itu tidak dilanjutkan saat Wening merasakan letupan kecil seperti gelembung di dalam perutnya. Sontak, Wening merabai bagian itu.
Apa itu?
Samar, tapi nyata.
"Kamu baik-baik aja, kan Nak?" Wening melepas sapunya, menunduk menatap perut sendiri yang membuncit. Sudah masuk minggu ke sembilan belas. Jadi mungkin, makhluk kecil di perutnya ini sudah semakin berkembang.
Wening menengadah, teringat sesuatu. "Ah ... hampir aja kubunuh," ujarnya, memandang kumpulan telur tokek di belakang lemari. Memang hanya mitos, sebaiknya jangan membunuh hewan saat hamil. Secara logika juga tidak ada hubungannya. Namun, sebagai sesama Ibu, semenjijikkan apapun tokek itu, tentu perasaannya akan sakit ketika kembali ke belakang lemari mendapati telur-telurnya sudah hancur lebur tak bersisa.
Mereka berdua sama-sama menanti kelahiran anak—dan kali ini tokek itu selamat karena belas kasih Wening. Tapi sudah dipastikan, kalau nanti dia akan membunuh tokek itu juga dan memastikan rumah ini bersih dari hewan-hewan aneh!
Menghela, Wening meraih gelas susunya. Belum sempat dia minum ketika sebuah suara salam membuatnya menoleh kaget.
"Lho? Mbak Wening?" Suara itu disusul kekehan halus. "Jadi bener to, kata ibu-ibu itu. Mas Birawa sama istri sedang datang,"
Wening memindai penampilan perempuan di depannya. Mereka dulu sering kali bertemu. Istrinya Mas Haris—sepupu Birawa. "Oh ... iya. Mbak Masya, ya?" Wening mempersilahkan perempuan itu duduk. Dalam hati menggerutu, kenapa orang di kampung, suka tiba-tiba nyelonong masuk?
Masya tertawa kecil, meletakkan kresek yang sedikit mencuat isi sayuran di dalamnya. Kakinya menyilang dengan anggun. Kepalanya sempat meneliti seisi rumah yang sudah reot itu. "Udah lama, ya, Mbak, nggak main ke sini? Aduh, kenapa nggak nginep di rumah kami aja, Mbak? Ini rumahnya udah lama nggak ditinggali, Mbak Wening mesti nggak betah," ucapan Masya lebih terdengar basa-basi untuk Wening.
"Nggak kok, aku betah," Wening mengedikkan bahu, kemudian meminum susunya.
"Oh? Mbak Wening sekarang sudah isi, ya?" Masya menatap perut Wening.
"Iya, bentar lagi masuk lima bulan," Wening sejujurnya risih dipanggil Mbak. Karena Masya itu kakak tingkatnya waktu SMA. Meski suaminya adalah adik sepupu Birawa—tetap saja Wening tidak suka, terkesan tua. Dia kan, awet muda, masih cantik.
