23 | Artis Baru

12.5K 958 115
                                        

Sejak lahiran, seisi rumah kompak punya hobi yang sama—nontonin adek bayi mandi. Enggak Sri, enggak Wening. Dua-duanya mendadak sehati kalau urusan begini. Tiga hari pertama, Ibu yang mandiin bayi merah itu. Meskipun beliau budek sebelah, skill mengurus bayi jangan ditanya. Apalagi ini cucu perempuan. Dan Birawa, berguru dengan cepat dari ibunya.

Bapak satu itu sekarang sedang live action memandikan anak gajah yang pipinya tumpah-tumpah di lengan Birawa. Saat dia menurunkan tubuh gempal itu ke dalam baskom plastik merah, air langsung meluap tumpah-tumpah ke lantai kamar. Tergusur oleh berat tubuh adek bayi yang luar biasa padat berisi.

Pemandangan Dek Kinan mandi selalu berhasil menyihir mata siapa saja. Lengan dan pahanya bukan lagi mirip roti sobek, tapi seperti sosis yang diikat benang terlalu kencang.

Bergelambir, montok, dan tumpah-tumpah.

Leher? Jangan tanya! Tidak terlihat!

Kepalanya seakan langsung ditempel paksa ke bahu, menyembunyikan lehernya di balik tiga lapis lipatan lemak dagu yang menggemaskan sekaligus meresahkan. Bisa-bisa dia disuruh diet oleh dokter.

Belum lagi, gen hiperaktif Wening yang mengalir deras di darahnya. Dia tidak bisa diam. Kakinya yang gembul itu menendang-nendang air dengan semangat 45, menciptakan tsunami kecil yang sukses membasahi kaos bapaknya.

Dan alih-alih menangis, anak gajah itu malah enjoy dimandikan Birawa. Bibirnya menyeringai, memperlihatkan gusinya. Jangan kira dia tertawa, karena beberapa detik berikutnya, sebuah bunyi gas menampar permukaan baskom mandi dengan sadis disusul gelembung udara yang perlahan mengambang naik.

Iya, dia kentut.

Tapi dia malah happy. Kakinya berhasil menendang pinggiran baskom sampai wadah plastik itu bergeser beberapa senti. Matanya yang bulat berbinar jenaka, seakan mengejek bapaknya yang kewalahan memegang tubuhnya yang licin dan seberat tabung gas melon itu.

Darah Maminya tidak bisa diragukan lagi.

Sementara sumo mini tengah bergulat di dalam baskom, gajah mini kita asyik mencomot keripik dari toples. Sekarang dia menopang dagu.

"Aku juga mau mandi, Mas," Wening menyeletuk, bosan menunggu gilirannya.

"Iya," Birawa mengusap ubun-ubun putrinya hati-hati.

"Kapan?"

"Tunggu adek tidur dulu,"

"Abis itu mandiin aku?"

"Iya,"

Sri di sebelah berdehem, menutup kupingnya dengan keripik, berharap telinganya tidak hilang perawan karena mendengar percakapan dewasa itu. Dia akhirnya memutuskan untuk mundur teratur setelah membantu menyiapkan handuk tempat sumo mini kita mendarat nantinya.

Sri sadar, bertahan di area kebucinan pasutri ini hanya akan meningkatkan risiko darah tinggi atau menaikkan asam lambung yang memicu mual hebat. Lagipula, dia tidak dibayar untuk mendengarkan fantasi mandi bareng majikannya.

Sepeninggalan Sri yang bertepatan dengan berakhirnya sesi mandi pagi itu, Birawa mengangkat Dek Kinan dari bak mandi. Si bayi, yang sekarang berkilau basah seperti lumba-lumba obesitas yang bahagia—menguap lebar.

Kalau sudah begitu artinya mau menyusu, lalu tidur.

Benar-benar menikmati hari-hari barunya di dunia.

"Handuk, Ning," minta Birawa.

Wening mengambil handuk, mengulurkan ke arah suaminya. Dia bahkan tidak beranjak satu inci pun dari kursinya. Masih memeluk toples keripik sambil mengerjap-ngerjap polos. Menunggu gilirannya dimandikan juga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 04, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang