14 | Kalap

7.2K 497 19
                                        

Votenya mana nih :)

Wening berbaring membelakangi pintu, dengan memeluk bantal kesayangannya, wanita fiksiku itu sesekali menyeka bulir air mata yang mengalir di pipinya. Dia kesal, dia tersinggung, dia marah!

Birawa itu ya!

Tidak ada syukur-syukurnya!

Apa katanya?

Asin?

Memangnya dia bisa masak bacem sendiri?

Sampai berpeluh Wening memasak, malah dikatai asin. Kan, yang penting Wening sudah usaha. Mau bagaimanapun rasa masakan istri, harusnya suami bisa menghargai. Mau rasanya asin sampai mau bikin sekarat sekalipun, dihabiskan saja! Apa susahnya sih?

Sebenarnya, kalimat Birawa sangat sederhana, tapi entah kenapa terasa menusuk sampai ke dada. Wajar Wening marah, karena dia memasak dengan susah payah, sepenuh hati—tapi malah dikatai asin!

Wening mengigit bibir, isak tangisnya kembali lolos. Dia tahu kalau suaminya itu tak berniat menyakiti, tapi Birawa juga harus tahu, kalau rasa ngambek yang tumbuh dari cinta, seringkali lebih tajam daripada luka yang disengaja.

Pintu di belakang tubuh Wening terdengar berderit lirih, disusul langkah berat yang kian mendekat. Tak lama, Wening merasakan sudut lain dari tempat tidur bergoyang bak ditimpa gajah. Wening cepat-cepat menutup wajahnya dengan bantal—dia sedang tidak ingin mendengar alasan Birawa.

Di balik tubuhnya, Birawa bergerak dengan sabar menyentuh punggung Wening. Ringan, tidak mendesak, telapaknya yang besar diam di sana.

"Nggak usah sentuh-sentuh!" Sembur Wening yang masih tenggelam dalam bantal.

Birawa berbaring miring, menempelkan tubuhnya dengan sang istri. Dia dekap Wening penuh lembut, kini tangannya menjalar di atas perut istrinya. "Marah?"

Pakai tanya!

Wening merengek, bergerak maju satu senti. Karena sejujurnya, tubuhnya itu tidak benar-benar berniat lepas dari Birawa. Suaminya adalah candu, bagaimana Wening bisa menjauh?

Birawa membungkukkan kepala, menyentuh ceruk leher Wening dengan bibir. Dia tidak bicara, dia sedang menghapal kebiasaan istrinya kalau marah. Alih-alih menyusun kata, Birawa memilih mengambil tindakan. Sebab, hanya itu yang tak bisa Wening tolak.

Bibirnya terasa dingin, mencium perlahan kulit paling lembut istrinya. "Maaf," Bisiknya.

Wening masih diam dengan gaya batu. Dalam bantal, bibirnya sudah maju, menghitung mundur kapan pertahanannya akan runtuh.

Birawa mencium lagi bagian itu, lebih dalam, turun sedikit ke tulang selangka. Jambang tipisnya menyentuh kulit Wening yang mulai memanas. Tangannya yang bebas bergerak perlahan ke pinggul istrinya yang kini semakin membulat.

Wening melempar bantal dengan jengkel hingga boneka paus tak bersalah itu tersungkur mencium lantai. Wening mencoba terlentang, menatap Birawa dengan sengit. "Aku bilang jangan sentuh!" Serunya dengan suara sumbang, matanya masih basah, hidungnya juga merah seperti orang flu.

Birawa naik mengusap puncak kepala Wening dengan sabar. Dia tidak mengindahkan perintah Wening, karena tahu-tahu saja bibirnya kembali menyerang, kali ini belakang telinga istrinya jadi sasaran. Pria itu mencumbu lembut di sana sembari membisikkan kata maaf dengan tulus.

Wening mulai gelisah, bagian bawah diserang, bagian atas dimakan. Dadanya mulai kembang kempis. "Mas ... udah!"

"Sakit?" Birawa menarik kepalanya, kembali menatap istrinya dengan sayang.

Wening mengangguk.

"Di mana? Saya gigit terlalu keras?" Birawa mengecek leher Wening serius, membuat Wening semakin kesal.

MAMI WENINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang