Rumah tua itu sudah reot, Wening yakin disapu angin sedikit pasti tiang-tiang kayunya akan terguncang seperti kena mental. Tiang-tiang jatinya mulai lapuk, jendela besar menganga lebar menyorot suasana malam di pedesaan. Sesekali daun pisang yang rimbun di sebelah rumah bergoyang, membuat Wening bergidik.
"Jadi Sri sudah tahu kalau kita mau nginap?" Tanya Wening.
Birawa meletakkan dus-dus berisi sayur-sayuran, bumbu jadi, dan camilan yang biasa Wening makan untuk mengganjal perut di atas meja makan yang sudah lawas.
"Dia yang bantu saya menyiapkan semua ini," Birawa membuka box styrofoam berisi frozen food dan beberapa ekor ikan juga ayam.
Wening berdecih, menarik kursi sampai berderit kemudian duduk mengelus perutnya. "Mas mau bikin kejutan ya?"
Birawa tersenyum tipis, masih sibuk memeriksa kelengkapan bahan dapur. Memastikan bahwa dia menculik istrinya penuh persiapan. "Kamu suka?"
"Suka ... sih,"
"Tapi?" Birawa mengangkat alis.
"Tapi, rumah kamu jelek, Mas. Udah nggak dirawat," Wening tak bisa berbohong kalau dia kadang melompat kaget karena melihat kecoa lalu lalang di tengah ruangan. Rumah ini memang peninggalan ayah mertuanya. Sejak beliau meninggal dan anak-anak mulai menikah dan merantau ke kota, rumah ini tidak lagi ditinggali. Apalagi Ibu juga sudah lama pensiun, tidak ada teman di kampung, makanya Birawa membawa ibunya tinggal bersama-sama.
Rumah ini akhirnya tak terurus. Tidak ada juga yang meninggali selain cicak, laba-laba dan kecoa terbang.
Birawa terkekeh kecil, "Kan, sudah dibersihkan,"
"Nanti kecoanya muncul lagi, Mas. Itu mereka kibulin kamu doang itu. Liat aja bentar pas kamu udah tidur, lari-lari lagi dia dalam rumah," Wening mengerucutkan bibir. Birawa mendekat, mengulurkan sebungkus keripik singkong rasa balado yang bungkusnya sudah dia bukakan.
"Mau makan apa? Saya yang masak," tawar Birawa, berkacak pinggang mengamati meja makan yang penuh dengan bahan masak.
Wening mulai asyik dengan makanannya. "Di sini ada abang bakso nggak, Mas?"
"Kemarin kan sudah makan bakso, Ning. Ingat kata dokter," kata Birawa. "Mau yang lain?"
"Apa?"
"Sayur ditumis?"
Wening menjulurkan lidah seolah pahit. Belum juga dirasa, sudah mengeluh nyonya satu itu. "Nggak enak. Kamu bisa emang masaknya?"
"Bisa. Tinggal potong-potong, kan?" Birawa mengeluarkan seikat sawi dari dalam dus. Kemudian berbalik mencari pisau di meja dapur.
Wening menggoyangkan kakinya, kembali mengunyah keripik. "Tambah bawang, Mas. Terus kasih minyak, cabe. Apa kita pulang aja, ya Mas?"
Belum juga ada setengah hari tinggal di desa dia sudah tak betah. Bagaimana sih, Wening itu?
Birawa terkekeh gemas, "Saya bisa masak,"
"Masakan kamu mesti nggak enak, enakan Sri," ejek Wening.
"Percaya dengan saya," ujar Birawa penuh tekad, tak mau kalah, sudah persis calon anggota dewan dan seabrek iming-iming perubahan. Setengah jam kemudian, jidat lelaki itu sudah berpeluh di depan kepulan asap tipis dari tumisan sayurnya. Tak jauh darinya sudah ada nasi yang ditanak dan baru masak.
"Ning? Tolong ambilkan piring," Birawa menoleh, mendapati Wening tengah mengusap perut karena kenyang setelah makan dua bungkus keripik dan minum segelas susu.
Malas, gajah mini itu melangkah menuju rak piring. Sejak petang tadi mereka sudah bersih-bersih. Bukan mereka sih, Birawa. Lelaki itu menyapu lantai dan langit-langit, membersihkan kamar yang akan mereka tempati, juga mencuci alat masak. Sementara Wening, berjongkok di atas kursi seraya memerintah. Takut dia dengan kecoa terbang.
