Tolong katakan, orang gila mana yang mau ziarah kubur pakai acara kutekan dulu?
Hanya Wening, gajah mini kita.
Wening duduk di pinggir kasur dengan daster longgar, masih berantakan karena baru bangun tidur. Kakinya terjulur ke depan, diletakkan tepat di atas pangkuan Birawa yang duduk lesehan di lantai kayu. Pria di hadapannya itu menekuk kening, bingung dihadapkan dengan beberapa botol mini berisi cat kuku.
"Ini yang mana, Ning?" Tanya Birawa.
Wening menangkup perutnya, menunduk susah payah. "Yang pink susu itu, dioles dulu di pinggiran kuku," Wening menunjuk botol yang dia maksud. "Biar nggak bleber," lanjutnya.
Birawa meraih botol kecil berisi cairan putih ke pink-pinkan. Tangan kasar penuh urat itu sangat kontras dengan kuas mungil yang sekarang dia pegang. Badan preman, jiwa hello kitty. Birawa mencelupkan kuas sekali lagi, sebelum mulai meraih kuku kelingking Wening di pangkuannya. "Pinggirnya?" Tanyanya memastikan lagi.
"Iya, di pinggir kuku gitu lho, Mas. Jadi kalau bleber gampang dihapus. Kamu pokoknya oles di sekitar kulit deket kukuku itu," jelas Wening sambil mencondongkan badan.
Birawa berguam samar, lalu mulai bergerak mengoles cat itu. Kuas mungil di tangannya menyentuh jari kelingking istrinya. Tapi, alih-alih melapisi tipis di sisi kuku, dia justru mengoles penuh. Bukan hanya pinggiran yang digilas, tapi seluruh jari kelingking, melingkar sampai ke bawah-bawah, hingga mampir ke lipatan daging jari Wening.
Wening langsung mendelik heboh, setengah menahan geli di kakinya yang disapu kuas.
"Ish! Ora ngono to yooo!" Logat medoknya yang selama ini dia tahan-tahan tiba-tiba keluar, mendikte sang suami.
Birawa mendongak polos. "Salah?"
"Salah!" Wenig berdecak, mengulurkan tangan. "Sini jari kamu,"
Birawa menggeleng tak mau, matanya awas menganalisis gerakan istri. Takut tiba-tiba kukunya dikutekin.
"Pinjem bentar biar aku contohin," pinta Wening, setengah memaksa.
"Laki-laki ndak boleh kutekan,"
Wening menyahut sewot. "Dih? Siapa bilang?"
"Saya."
Wening berdecih. "Nggak ada warnanya, ini bukan kutek, bisa dikelupas. Nggak kena kuku kamu juga. Cepet ..." rengek perempuan itu dengan menghentak-hentakkan kaki.
Birawa buru-buru menurut. "Jangan dikutek lho, Ning," peringatnya.
Wening menaruh tangan Birawa di atas perutnya. Dengan gerakan cekatan, dia memegang kuas dan mengolesi di sekitar pinggiran kuku besar itu. Birawa malah mengusap perut Wening begitu merasakan tendangan dari dalam. Anaknya sepertinya sedang menyapa. Padahal baru semalam dijenguk.
Tidak ada hubungannya!
"Ning, kok kena kuku?" Protes Birawa.
Wening menutup gel anti-overflow itu kemudian menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya. "Salah sendiri kamu goyang,"
Birawa mencabut tisu, mengusap kukunya kuat-kuat seolah tak sudi.
Wening merengek lagi. "Ayo, Mas ... keburu siang, ih,"
"Iya, iya," Birawa mengoles gel kembali dengan benar. Wening menuntun lagi menyuruh menggunakan base coat, kemudian ditimpa cat kuku merah marun.
Birawa masih fokus dengan kuas mungilnya ketika tiba-tiba pria itu bersuara rendah, serius. "Terus, kamu sholatnya gimana? Ndak boleh bolong-bolong lho, Ning." Tanyanya setengah mengingatkan dengan tegas tapi juga lembut.
