23: the reality

155 27 8
                                        

oh ya, kalo kalian nanya gimana orang-orang di sekolah menyikapi gue setelah kejadian menfess itu, jawabannya adalah b aja.

iya, masalahnya surut dan orang-orang pun udah lupa juga gak peduli lagi soal itu.

tapi gak dengan gue.

gue gabakal ngelepas orang yang udah bikin masalah di idup gue bertambah.

pukimak emang.

bukan cuma itu aja, soal kak hanbin juga.

orang yang terus-menerus ngirim kak hanbin gift, inget?

persetan dengan orang yang ngirim menfess, gue juga tau siapa orang yang ihacoy-in kak hanbin itu.

selama seminggu kemaren, kak hanbin gak pernah berhenti dapet snack, atau hadiah kecil lain.

dan disertakan sticky note juga tiap harinya.

gue bacain semua sticky note itu, atas izin kak hanbin juga. naasnya, tiap gue abis baca, perut gue langsung melilit ngeliat tulisan yang menurut gue terlalu diimut-imutin itu.

kak hanbin pun mengakui. tapi dia gak ngejudge langsung, beda sama gue yang terang-terangan ngomongnya.

semua gift yang orang itu kasih, kak hanbin kasih lagi ke gue.

hahay inimah enak di gue, kak hanbin punya fans, dan gue punya hati yang selalu siap menerima pemberiannya.

tapi enggak, fans kak hanbin---ralat, orang itu punya maksud lain. bukan hanya untuk mengambil hati kak hanbin, tapi juga...

oke. karena ini lagi jam istirahat, gue memutuskan untuk pergi dari kelas.

kalo kemaren-kemaren gue masih bisa nahan, sekarang gue udah gak sanggup lagi.

gue pun berjalan menuju UKS.

ada orang yang mau gue temuin saat ini.

tapi pas sampe di UKS, gue gak menemukan orang tersebut. tumben amat, biasanya juga jadi penunggu UKS.

dan yap, langkah gue untuk keluar dari UKS terhenti pas liat orang itu baru aja memasuki UKS.

"eh, lea? kenapa? sakit lagi?" tanyanya dengan senyum.

"gue mau ngomong sama lo." setelah berucap gitu, gue pun narik dia ke suatu tempat.

di belakang sekolah.

"kenapa le?!" tanya dia, rautnya panik.

"sekarang mending pengakuan aja sama gue atas apa yang udah lo lakuin ke gue kemaren-kemaren."

itu yang pertama.

dia mengernyit. "apaansih?" tapi bisa gue liat ekspresi dia sedikit kaget setelah denger penuturan gue tadi.

"mau gue yang bongkar, atau lo yang jujur sekarang?"

"gue g-gak paham maksud lo, lea," ucapnya sedikit terbata-bata.

karena kelamaan nunggu dia ngaku, akhirnya gue pun mengeluarkan ponsel gue, dan menunjukkan sesuatu ke dia.

"gue tau ini lo. gue tau menfess yang ngehate gue itu lo yang ngirim. lo sumber permasalahannya. lo yang udah fitnah dan jelek-jelekin gue lewat menfess itu, nayoung."

orang itu, nayoung, cuma diem membeku setelah melihat layar ponsel gue yang dimana menampilkan akun ig kosongan dengan username @/y.yo0urday itu.

"g-gak! itu bukan---"

"gausah ngelak. dulu lo pernah pake akun ini buat ngestalk orang, dan lo sendiri yang nunjukkin ke gue soal akun ini,"

Aversion | Sung HanbinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang