39: pain

152 21 8
                                        

setelah ketemu kak hanbin tadi, gue memutuskan untuk balik ke kelas.

di perjalanan menuju kelas, gue bisa ngeliat murid-murid dari sekolah lain dengan seragamnya yang beragam itu.

waw lucu jir seragam mereka, gak kayak seragam sekolahan gue nih, begini-begini doang cuih.

mata gue daritadi sibuk ngeliat kesana-kemari, ngereview seragam mereka dari sekolah ini sampai sekolah itu.

sampai pada akhirnya, pandangan gue jatuh ke depan. dimana ada sosok orang yang sangat amat gue benci kehadirannya. mungkin?

dia phanbin.

di antara kerumunan orang, netra gue dan netranya bertemu, saling berhadapan, dengan tatapan yang sulit dideskripsikan satu sama lain.

hati gue... mencelos. entah, ngeliat wajah phanbin itu selalu bikin hati gue sakit.

apalagi sekarang, wajahnya penuh luka dan memar. gue yakin itu adalah luka baru, karena lukanya masih pada basah.

darah bercucuran di keningnya, sudut bibirnya robek, tulang pipinya penuh memar, dan---ah, gue gak sanggup lagi ngejelasinnya.

gue menarik napas dalam, lalu berniat untuk berbalik badan, menghindari phanbin saat ini.

tapi phanbin udah lebih dulu genggam tangan gue, sehingga niat gue untuk pergi dari dia terurungkan.

"jangan hindarin gue, al," katanya parau.

"lepasin gue, bin."

"gue kangen sama lo."

"lepasin gue, phanbin."

"al, gue cuma kangen sam---"

"gak disini."

kita pun berpindah tempat, gak di tempat ramai itu lagi. gue ngajak phanbin untuk kesini, di sebuah taman kecil yang ada di sekolah.

gue masih diem sambil natap luka-luka yang menghiasi wajah phanbin saat ini. sedangkan phanbin, daritadi netranya gak lepas dari gue barang sedetik pun.

"lo ngapain lagi sih?" akhirnya gue membuka suara.

"gue kangen lo." phanbin bukannya jawab pertanyaan gue, malah mengulang kalimat itu lagi.

"gue lagi gak bahas itu, bin."

phanbin terkekeh lalu meringis setelahnya karena mungkin ngerasain sakit di sudut bibirnya.

"makannya jangan bertingkah." gue berdecak. "lo ngapain sih ada disini?"

"sekolah lo lagi open gitu, ya gue gak menyia-nyiakan kesempatan buat ketemu lo dong?" phanbin naikin salah satu alisnya.

gue memutar bola mata malas. "terus itu, lo abis ribut sama siapa?"

"abis tawuran."

"bin, serius."

"gue serius kok? sebelum kesini, tadi gue tawuran dulu lawan SMK sebelah, mereka duluan yang nyari ribut, yaudah diladenin sama bocahan gue."

gue mijit kening gue frustasi lalu natap phanbin dengan jengkel. "lo masih aja tawuran sana-sini?!"

"lo khawatir ya sama gue?"

"i'm serious, phanbin."

"gue juga serius, ale, daritadi. dan raut lo menyiratkan kekhawatiran buat gue."

gue terdiam sejenak, gak menatap phanbin. setelahnya, gue menghembuskan napas panjang.

"khawatir itu kemanusiaan."

Aversion | Sung HanbinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang