Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Gea mendongak menatap langit malam yang penuh bintang. Dia memasukkan tangan ke dalam saku jaket yang dikenakannya. Mencari kehangatan yang membuatnya merasa lebih nyaman dan rileks dari sebelumnya. Namun, tetap saja debaran halus di dadanya tak bisa berhenti.
Malam ini Rian mengajaknya bertemu. Cowok itu mau mentraktir Gea nasi goreng. Kata Rian, nasi gorang itu adalah nasi goreng terenak yang pernah dia makan. Dia ingin Gea mencobanya. Gea pun setuju karna dia masih bingung memilih menu makan malam.
Lampu sepeda motor dari kejauhan tampak mengarah ke tempat Gea. Debaran jantungnya makin tak karuan. Gea berusaha tampil senormal mungkin di hadapan Rian.
"Hai sorry lama ya nunggunya." Rian tersenyum, lalu menyerahkan helm ke Gea untuk dipakai gadis itu
"Hai, enggak kok." Gea menerima helmnya, memakainya sesaat lalu duduk manis di jok belakang motor Rian.
Selama di perjalanan, Gea hanya diam. Gadis itu masih berusaha mengatur detak jantungnya yang menggila. Dia salah tingkah dibonceng Rian malam ini.
Tempat nasi gorang yang dituju Rian adalah warung tenda sederhana di tepi jalan. Lokasinya tepat di sebrang taman kota.
Rian memarkirkan motornya di depan warung tenda, membantu Gea turun dan menunggu gadis itu membuka helmnya.
"Lo lagi gak enak badan?" tanya Rian seraya menerima helm dari Gea. Cowok itu menaruh helm tersebut ke atas jok motor.
"Hah? Enggak kok." Gea menggeleng.
"Yakin?"
"Yakin, kok lo mikir gitu?"
Rian tersenyum lega. Dia agak khawatir kalau-kalau Gea sakit karna selama perjalanan tadi, gadis itu hanya diam tanpa bicara sepatah katapun.
"Soalnya lo diem aja, gak kayak dicall, cerewet banget."