Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Usai mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu neon warna-warni, aku bersiap untuk menikmati drakor malam ini. Namun urung ketika notifikasi masuk ke ponselku.
"Cowok lo dateng Ca, kok lo gak ikut?"
Rasa-rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya sekarang juga. Tapi, di keramaian seperti ini, aku hanya akan menjadi bahan tertawaan saja.
Usai menerima pesan teks dan beberapa foto Milan dari Juan, teman sekelasku. Aku memutuskan datang ke konser yang diadakan di alun-alun malam ini.
Dua hari yang lalu, Milan bercerita kalau dia ingin nonton konser di alun-alun kota. Namun, dia mengaku tak bisa datang karena harus menyelesaikan setumpuk tugas kuliah. Aku sebagai pacar yang baik hanya bisa menyemangatinya.
"Mau aku temenin gak bikin tugasnya?" tawarku waktu itu.
Milan menggeleng. "Gak usah sayang, aku bikin tugasnya bareng yang lain kok. Di kontrakannya Jo."
Itulah mengapa aku tetap berdiam diri di kosan di malam minggu ini. Rencananya aku ingin menamatkan drakor favoritku.
Aku bergegas pergi menuju alun-alun dan bertemu Juan di tempat parkir.
"Akhirnya lo datang juga."
"Beneran Milan ada di sini?" Aku melihat ke arah kerumunan orang di depan panggung.
Juan mendecakkan lidah. "Ca udah gue foto loh, masa lo masih ngira gue bohong? Bahkan ada Jo juga di sini."
Aku meringis. Merasa sedih karna terlah dibohongi pacar sendiri. "Kok dia gak ngasih tau gue ya."
Juan menyentakkan kepala. "Gimana mau ngasih tau lo? Dia bareng cewek!"
"HAH?"
Juan menceritakan dengan singkat apa yang dia lihat di area konser. Kemudian, memperlihatkan video yang direkamnya sebagai bukti kuat.
Aku menelan saliva getir. Merasa tak yakin dengan apa yang aku lihat dalam rekaman video itu. Bisa-bisanya pacarku merangkul gadis lain?
"Di mana dia?" tanyaku ke Juan.
Aku ingin melihatnya secara langsung dan mempertanyakan kejelasan hubungan kami.
"Ayo gue anter."
Aku mengekori Juan. Memegang lengan cowok itu, menembus keramaian konser.
Sampai akhirnya aku melihat sosok Milan yang tinggi menjulang di antara penonton konser yang lain. Dia berdiri di sebelah pohon. Ada Jo di sampingnya. Serta seorang gadis yang dirangkulnya.
Tiba-tiba saja mataku terasa panas. Langkahku terhenti. Juan sampai harus berbalik lagi mencariku yang tertinggal di belakang karena aku melepas cengkraman di lengannya.
"Ca astaga, jangan kayak gini, nanti lo diculik orang," ucap Juan khawatir.
Cowok itu langsung menarikku keluar dari kerumunan para cowok yang menatap aneh ke arahku.
Dentuman speaker besar di kedua sisi panggung membuat telingaku tuli. Tadinya begitu, tapi tidak dengan sekarang. Rasa-rasanya semua suara itu lenyap. Begitu pula keramaian di sekelilingku.
Juan yang berbicara di hadapanku saja tak bisa ku dengar. Aku hanya meliriknya sekilas dan tak mengerti maksud dari gerak bibirnya.
Sampai langkahku berhenti di samping Milan. Dia terlihat tampan. Amat sangat tampan.
Aku mendongak melihat sisi kiri wajahnya yang tampak sangat menikmati konser tanpa tahu kalau aku ada di sampingnya.
Aku mengerjap pelan lalu menyentuh lengannya. "Tapi mau ngerjain tugas, emang di sini kontrakannya Jo ya?" tanyaku lugu.
Milan menoleh. Dia melompat mundur. Kaget bukan main mendapati presensi ku di sebelahnya. Jo yang berdiri di sampingnya juga ikut kaget.
Sementara itu, gadis yang dirangkul Milan, melangkah mundur dan bersembunyi di belakang Jo.
"Sayang? Kok kamu bisa ada di sini?" tanyanya panik. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Saat melihat Juan yang berdiri di sampingku, dia meringis pelan.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku."
Milan tampak bingung. Dia lalu menarik lenganku keluar dari keramaian. Kita berhenti di area parkir yang lengang. Cowok itu mendesah pelan, lalu menaruh kedua tangannya di bahuku.
"Jawab pertanyaan aku. Kamu bilang mau ngerjain tugas kok malah di sini?" tanyaku sekali lagi bersamaan desakan air mata yang perlahan meruntuhkan pertahananku.
"Aku kan udah cerita, aku pengen banget nonton konser ini."
"Iya aku tau. Oke kalau kamu mau nonton konser, tapi kenapa gak ngabarin aku?"
"Abis ngerjain tugas, yang udah hampir selesai. Serius, tinggal dikit lagi. Aku ngajak Jo buat nonton konser."
"Oke, aku masih bisa maklumin hal itu. Tapi, kenapa kamu nonton konsernya sambil rangkul-rangkul cewek?"
"Hgh itu ...." Dia tergagap. Melarikan tatap ke arah lain.
Aku tau dia sedang mencari alasan yang tepat untuk menutupi kelakuannya. "Kalau mau rangkul cewek kan bisa ajak aku, biar kamu bisa rangkul-rangkul aku. Aku kan pacar kamu."
"..." Milan hanya diam.
"Apa sekarang statusnya udah ganti ya? Cewek itu yang pacar kamu bukan aku?"
"Eh gak gitu sayang."
"Kalau gak gitu, terus gimana?"
"..." Dia bungkam.
"Gak bisa jelasin ya?"
Aku mengusap kasar air mata yang mengalir tanpa henti di kedua pipiku.
"Terserah kamu deh sekarang, aku mau pulang. Have fun ya sama cewek baru kamu."
Aku menepis lengannya dari tubuhku. Lalu berbalik pergi meninggalkan dia yang hanya bisa mematung di tempat.
Sialan sekali. Kenapa aku berpacaran dengan cowok seperti itu sih?