Makrab

75 7 0
                                        

Inspired by Instagram post sound_of_coups

Inspired by Instagram post sound_of_coups

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

Semua bangku di dalam bus sudah hampir penuh ketika aku naik. Hanya ada dua bangku kosong di deretan kedua dari belakang. Aku langsung menempati bangku di dekat jendela. Tak lama aku duduk, seseorang sepertinya menempati bangku di sebelahku, aku tidak terlalu memerhatikannya, sebab aku terlalu sibuk memandangi kesibukan panitia makrab di luar bus.

Hari ini aku ikut kegiatan makrab jurusanku yang akan diadakan di lokasi perkemahan. Aku tidak terlalu gugup karena beberapa kali aku pernah berkemah. Meski aku tetap mengiyakan kalau aku juga gugup tiap kali teman seangkatanku bertanya.

"Gue duduk di sini ya," ucap seseorang di sebelahku.

Suaranya berat dan terdengar familiar. Aku langsung menoleh dan mendapati Kak Ega sudah duduk di sampingku. Dia berkata hanya untuk basa-basi, kalimatnya sarat akan perintah. Aku mengangguk saja, kembali menatap kesibukan di luar.

"Lo udah sarapan?" Dia bertanya. Dari sudut mataku, dia tampak mengambil kotak bekal dari dalam tasnya.

"Belum," jawabku.

Dia membuka kotak bekalnya. "Gue ada sandwich, nih ambil buat lo," ujarnya sembari mengulurkan kotak bekal itu kepadaku. Ada empat potongan roti sandwich yang berjejer rapi di dalam kotak.

Aku tersenyum, mengambil satu potong roti sandwich. "Makasih Kak." Lalu aku mulai makan dalam hening.

"Lo emang sependiem ini ya?"

"Hgh?" Aku agak kaget dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.

"Kata yang lain, lo pendiem. Ternyata beneran pendiem."

"Jadi, lo duduk sini mau buktiin kata yang lain kalau gue pendiem ya?" tanyaku menarik kesimpulan.

"Salah satu alasannya iya." Kak Ega tergelak. Suara tawanya enak didengar. "Alasan lainnya karna gue mau lebih dekat sama lo."

"Hah?" Sungguh, kali ini betulan kaget.

Kak Ega terkekeh, kemudian senyumnya terbit, membawa dua lekuk bulan sabit di kedua pipinya muncul. Aku tercenung sesaat memandang keindahan itu dari jarak dekat.

CampfireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang