Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
"Lo beneran pergi?" tanya Lila cemas.
"Iya." Ciara mengangguk yakin. Sekali lagi, dia mematut wajahnya di cermin. Memastikan makeup di wajahnya sudah pas.
"Yakin?" Lila membeo, ragu jika Ciara benar-benar yakin pergi ke reuni angkatan jurusan Ciara.
Ciara menoleh. Ekspresi wajahnya tampak serius, tak ada keraguan sama sekali. "Kurang yakin apa gue La? Ini gue tinggal ambil kunci mobil, ke garasi, nyetir ke lokasi, sampe," sahutnya.
Lila berdecak gemas. "Ck, lo beneran yakin buat ketemu Hega?"
"Yakin gue, gue kangen banget sama dia." Ciara melangkah menuju rak sepatunya, memilih dua heels yang akan dia pakai ke reuni tersebut.
"Kalau udah ketemu lo bakal ngapain?"
"Bentar, pilihin heels yang cocok sama outfit gue dong!" pinta gadis itu.
Lila menghela napas lelah, meski begitu dia memilih heels warna red wine, serasi dengan gaun hitam yang Ciara kenakan.
"Kalau udah ketemu Hega, lo bakal ngapain?" Lila membeo.
"Gue cuman mau minta maaf tentang malam itu. harusnya gue gak nyuruh dia pergi. Harusnya gue tahan dia di sisi gue. Gue gak akan ngerasa kesepian dan ngerasa bersalah kayak gini. Gue ngerasa dua tahun kebelakang cuman sia-sia." Ciara menjelaskan sambil menatap lurus ke mata Lila. Tatapan penuh keyakinan. Sekali lagi, Lila tak menemukan keraguan di sana. Dia akhirnya mengangguk. Mengalah membiarkan Ciara melakukan apa yang gadis itu mau.
Reuni angkatan jurusan Sastra Inggris diadakan di salah satu restoran di hotel bintang lima. Usai memberikan kunci mobilnya ke salah satu petugas di ballroom hotel, Ciara melangkah masuk. Dia disambut gemerlap lampu gantung dengan interior mewah yang tampak agak berlebihan. Bagi Ciara, hotel itu bukan seleranya.
Ciara menoleh ke kanan dan kiri. Melihat ke sekeliling. Mencari sosok Hega di antara ramainya orang di ballroom.
Tak payah menemukan sosok Hega yang memiliki tinggi badan menjulang. Sosok itu berdiri sendirian di sudut. Sedang memegang gelas wine yang tersisa setengah. Tanpa menunggu lebih lama, Ciara melangkah menuju cowok itu.
"Hai," sapa Ciara lebih dulu.
Hega terkejut bukan main. Kedua matanya melebar tak percaya. Belum sampai keterkejutannya, tiba-tiba Ciara menarik lengannya.
Ciara membawa Hega ke rooftop hotel. Itu satu-satunya tempat yang sepi. Di sini dia bisa bebas bicara berdua dengan Hega tanpa takut didengar orang lain.
"Kenapa tiba-tiba?" Hega yang sejak tadi bungkam, akhirnya bicara.
"Ada yang mau gue omongin sama lo. Berdua aja. Gue gak mau ada yang dengar."
Hega mengangguk paham. "Jadi apa yang mau lo omongin sama gue?"
"Gue ... gue ..."
"Hm?" Hega memiringkan kepalanya. Menatap lurus ke manik coklat muda milik Ciara yang bergetar.
Hega tahu gadis itu perlu waktu lebih banyak untuk menyusun kalimat. Dia lalu mendongak, menatap langit gelap tanpa bintang. Menunggu dengan sabar. Seperti apa yang dia lakukan dua tahun ini.
Tenggorakan Ciara tersumbat. Dia sudah merapal kalimat yang ingin dia ucapkan di depan Hega. Tapi, percuma. Dia lupa. Padahal dalam perjalanan tadi, dia membayangkan skenario apik di dalam kepalanya. Apa daya. Tak ada satupun yang dia ingat.
"Masih lama? Duduk di sana yuk, gue pegel lama-lama berdiri." Hega menuding bangku kayu yang ada di sudut rooftop. Diapun beranjak. Namun, langkahnya terhenti ketika Ciara akhirnya bicara.
"Gue nyesel."
Hega berbalik. Kembali berdiri di hadapan mantan kekasihnya itu.
"Gue nyesel banget udah biarin lo pergi malam itu."
Dia memiringkan kepala. Mendapati manik coklat muda Ciara berair. "Kan lo yang nyuruh gue pergi, kenapa lo yang menyesal?"
"Karena setelah lo pergi, gue baru sadar kalau bareng lo itu cinta yang sesungguhnya. Cinta yang gue mau."
"Maaf buat malam itu. Gue pergi gitu aja ketika lo dengan amat baik, terlalu baik ngasih gue buket bunga dengan mata berbinar tapi gue malah balas dengan perpisahan. Maaf banget."
Hega mendekat, mengarahkan tangannya yang besar menangkup separuh wajah Ciara. Bersamaan dengan air mata Ciara yang jatuh berkejaran. Bak air bah yang membasahi ke dua pipi gadis itu. Tangan Hega ikut basah. Membuat cowok itu mengerang, lantas detik itu juga menarik Ciara dalam pelukannya.
"Please, gue mohon banget, jangan pernah pergi lagi Ciara."
Ciara sontak saja mengangguk. Tangannya bergerak melingkari pinggang Hega. Merapatkan tubuh mereka. Membagi hangat satu sama lain. Seperti dulu. Dua tahun lalu.
"Iya, gue gak akan pergi." Ciara menjawab di sela isak tangisnya.
"Janji?" tanya Hega memastikan. Dia meregangkan pelukannya, menunduk melihat Ciara yang balas mendongak menatapnya. Mata gadis itu sembab, tapi bibirnya tersenyum.
"Janji."
Hega merunduk, meraup bibir Ciara yang tersenyum. Mereguk manis yang sudah lama dia damba.
"I love you so much Ciara," gumamnya di antara cumbuan.