Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Via mendesah pelan sewaktu turun dari ojol yang mengantarnya. Di hadapannya ada gedung studio foto yang tampak artistik dari luar. Ojol yang mengantarnya berhenti tepat di depan pagar gedung itu. Via lantas membuka helm dan menyerahkan ongkos ke driver ojol tersebut.
Setelahnya, Via melangkah masuk lewat pintu gerbang paling ujung yang terbuka. Gedung studio foto itu tampak lengang di luar. Kendati pelataran parkir penuh dengan kendaraan. Via disambut penjaga gedung di depan pintu masuk. Setelah menyebut tujuannya, Via diberitahu untuk langsung menuju lantai lima.
Tujuan Via ke sini adalah mengantar memorycard kamera milik Kakaknya yang tertinggal di rumah.
Milan, Kakaknya Via adalah salah satu fotografer di studio yang berlokasi di gedung ini. Meski kuliah di jurusan Teknik Sipil (ini Milan yang sama di cerpen part sebelumnya, ya), tapi Milan jago dalam hal fotografi.
Dua puluh menit lalu, Milan meminta Via untuk mengantar CF (Compact Flash) salah satu jenis memory card kamera dengan iming-iming jajan di Sochiolla. Meski mager berat, Via tak bisa menolak tawaran tersebut.
Naka di sinilah Via sekarang, dalam lift menuju lantai lima gedung studio foto tempat Milan bekerja.
Denting pintu lift terdengar, pintu besi itu terbuka dan seraut wajah gelisah Milan menyambut Via. Di belakang cowok itu tampak orang-orang dengan kesibukan masing-masing. Via melangkah mendekat.
Raut gelisah Milan langsung berubah cerah melihat Via keluar dari lift. "Akhirnya lo dateng juga, sini mana CF gue?" Milan mengulurkan tangannya, meminta memory card kameranya.
"Ets, mana dulu upahnya? gue mau langsung ke Sociolla." Via langsung menagih.
"Duh gini banget punya adek mata duitan," keluh Milan, lalu mengambil dompet di saku belakang celananya. Cowok itu melirik Via sekilas yang menatap dengan mata berbinar ke arah dompetnya. Kemudian ia mencabut salah satu kartu dan menyerahkannya pada Via. "Nih, inget jangan sampai kebablasan. Awas aja lo ngibul, riwayat pembayaran lo bakal masuk ke hp gue."