Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Jian menyipitkan mata ketika mendongak, hendak menatap lampu lalu lintas yang masih berwarna merah. Belum juga berganti menjadi hijau.
"Lama banget," keluhnya.
"Kalo ditungguin makin lama sayang." Leo membalas seraya mengusap punggung tangan Jian yang melingkar di perutnya.
"Ugh, laper," keluhnya lagi.
"Laper banget ya?" Leo melirik lewat kaca spion motor, melihat gadisnya di jok belakang.
Jian menggeleng. "Nggak terlalu, tapi sayang, aku mau cuddle sama dipuk-puk."
"Boleh, tapi kita makan dulu ya, udah lewat jam makan siang sekarang."
Jian menggeleng lagi. "Nggak mau, maunya cuddle sama dipuk-puk kamu." Bibirnya dimajukan, matanya tampak berkaca-kaca.
Leo menghela napas pelan. Kalau sudah seperti ini, gadisnya pasti sedang dalam mood yang jelek. Entah apa yang terjadi selama di kampus tadi. Namun, dia harus tegas, karna dia tahu betul Jian punya penyakit magh, kalau terlambat makan bisa-bisa gadis itu sakit.
"Kalau mau cuddle sama dipuk-puk, kamu harus makan dulu."
"Ih kok gitu!"
"Ingat sayang, kamu ada magh, nanti perutnya sakit. Kamu kan udah janji gak akan telat makan lagi sama aku."
Bibir Jian makin maju.
"Kalo kamu gak mau makan, aku juga gak mau cuddle sama puk-puk kamu."
"Ih males main ngancem gitu!"
Leo terkekeh pelan. Dia mengambil tangan Jian yang melingkar di perutnya, lalu mengecup punggung tangan hingga jari-jemari gadis itu. "Ini juga buat kebaikan kamu sayang."
Jian merona. Leo lagi dan lagi memperlakukannya dengan manis. Tidak seperti yang orang-orang duga. Jian pun luluh dan menuruti apa kata cowok itu.
Motor Leo kembali melaju ketika lampu lalu lintas sudah berganti jadi hijau. Cowok itu membelokkan motor ke jalanan yang baru kali ini mereka lalui bersama. Tapi, rasanya jalanan ini familiar bagi Jian.
"Kita makan di sini?" Jian bertanya sesaat motor Leo diparkir sempurna di depan kedai makan sederhana. Di depan etalase kedai itu bertuliskan nasi sup bu Heni.
"Iya, inget gak ini di mana?" Giliran Leo bertanya sembari melepas helm yang dikenakan Jian.
"Di belakang sekolah." Jian menjawab. Dia bisa melihat bagian belakang gedung sekolah SMAnya yang berada tepat di belakang kedai itu.
Leo tergelak. "Bener, seratus buat kamu."
Bu Heni, pemilik kedai itu menyambut Leo dengan hangat. Dulu, Leo jugalah yang mengenalkan kedai ini ke Jian. Meski Jian hanya sekali pernah makan di kedai ini, sebab semasa sekolah, gadis itu selalu membawa bekal.